Kembang Dermo di Gandrung Sewu, dari Ritual Seblang ke Panggung Kolosal

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 03:30 WIB
BAGIAN TRADISI: Penari Seblang Olehsari memegang kembang dermo pada pelaksanaan ritual adat Desa Olehsari, Kecamatan Glagah tersebut di tahun 2025 lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
BAGIAN TRADISI: Penari Seblang Olehsari memegang kembang dermo pada pelaksanaan ritual adat Desa Olehsari, Kecamatan Glagah tersebut di tahun 2025 lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Kembang Dermo bukan sekadar bunga yang menghiasi Gandrung Sewu 2026. Di balik namanya tersimpan simbol kesucian, jejak ritual Seblang, hingga pandangan hidup masyarakat Oseng tentang hubungan manusia dengan alam, Tuhan, dan sesamanya. Makna itulah yang akan menjadi ruh pertunjukan kolosal ribuan penari Gandrung di Pantai Boom Banyuwangi.

Pemilihan Kembang Dermo sebagai tema Gandrung Sewu 2026 menjadi bagian dari konsistensi Dewan Kesenian Blambangan (DKB) bersama penyelenggara untuk mengangkat kekayaan lokal dalam setiap agenda kebudayaan Banyuwangi.

Ketua DKB Hasan Basri mengatakan, tema lokal tidak boleh lepas dari berbagai kegiatan seni dan budaya di Bumi Blambangan, termasuk Gandrung Sewu.

“Setiap tahun kita konsisten mengangkat tema lokal, apa pun kegiatannya, termasuk Gandrung Sewu,” ujarnya.

Bunga Sakral dalam Ritual Seblang

Bagi masyarakat Oseng, Kembang Dermo memiliki posisi istimewa. Bunga klasik tersebut dikenal sakral karena berkaitan erat dengan ritual adat Seblang yang digelar di Desa Olehsari maupun Bakungan.

Hasan menjelaskan, kesakralan Kembang Dermo tidak hanya terletak pada bentuk bunganya. Makna kesucian yang melekat di dalamnya akan diterjemahkan menjadi pesan utama dalam pertunjukan Gandrung Sewu 2026.

“Kita mengambil tema Kembang Dermo yang merupakan kembang klasik yang sakral, yang artinya suci serta selalu ditampilkan dalam ritual adat Seblang,” katanya.

Nuansa tersebut nantinya tidak berhenti pada visual ribuan penari dan ornamen bunga. Pesan Kembang Dermo juga akan dibangun melalui tembang yang menjadi bagian penting dari tradisi tersebut.

Hasan bahkan melakukan kajian filologi dan semiotik terhadap tembang Kembang Dermo untuk menggali makna yang terkandung di dalamnya.

Salah satu bagian tembang tersebut berbunyi:

“Kembang Dermo, Wiyayate Mbok Widodari, Yo Kurmo Tundo Pitu, Ganjarane Wong Ono Perang.”

Membaca Kosmologi Wong Oseng

Dari kajian tersebut, Hasan melihat Kembang Dermo sebagai pintu untuk memahami cara masyarakat Oseng memandang kehidupan.

Tembang Kembang Dermo, menurut dia, merepresentasikan konsep kosmologi masyarakat Oseng. Di dalamnya terdapat gambaran tentang posisi manusia dalam relasinya dengan alam, Tuhan, dan manusia lainnya.

“Ini menggambarkan tentang konsep kosmologi orang Oseng, bagaimana manusia menempatkan dirinya kepada alam, Tuhan serta hubungan antarmanusia,” jelasnya.

Dengan demikian, Kembang Dermo dalam Gandrung Sewu 2026 tidak hanya menjadi identitas visual. Tema tersebut membawa pesan tentang bagaimana tradisi lokal memandang kehidupan secara utuh.

Ada Ritual “Adol Kembang”

Makna Kembang Dermo juga semakin kuat karena bunga tersebut memiliki rangkaian ritual tersendiri dalam tradisi Seblang.

Setelah ditembangkan dan ditarikan, terdapat prosesi “adol kembang”. Dalam prosesi tersebut, bunga dijual kepada masyarakat dan dipercaya memiliki khasiat tertentu.

Tradisi itu menunjukkan bahwa Kembang Dermo bukan sekadar simbol yang hadir dalam pertunjukan seni. Bunga tersebut hidup dalam praktik budaya masyarakat dan memiliki ruang tersendiri dalam ritual adat Banyuwangi.

Pesan kehidupan juga tersimpan dalam syair Kembang Dermo. Hasan menyebut terdapat bagian yang menggambarkan perjuangan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Banyuwangi.

“Kembang Dermo di dalam salah satu syairnya ada yang artinya bagi orang Banyuwangi, perjuangan adalah bagian dari hidup yang tidak ada hentinya,” ujarnya.

Tradisi Lama di Panggung Masa Kini

Pesan tersebut nantinya diterjemahkan melalui pertunjukan Gandrung Sewu 2026 di kawasan Pantai Boom. Ribuan penari akan menjadi medium untuk membawa simbol dan filosofi Kembang Dermo ke hadapan publik.

Di titik inilah Gandrung Sewu tidak sekadar menjadi pertunjukan kolosal. Panggung besar tersebut menjadi ruang pertemuan antara kesenian masa kini dengan akar tradisi masyarakat Banyuwangi.

Kembang Dermo pun hadir bukan hanya sebagai nama tema. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan ritual Seblang, filosofi masyarakat Oseng, dan semangat perjuangan wong Banyuwangi dalam satu pertunjukan budaya. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
budaya banyuwangi Gandrung Sewu 2026 Kembang Dermo Ritual Seblang Masyarakat Oseng