RADAR BANYUWANGI – Ribuan penari Gandrung Sewu akan membawa pesan tentang kesucian, hubungan manusia dengan alam dan Tuhan, hingga perjuangan hidup masyarakat Oseng melalui tema Kembang Dermo pada 24 Oktober mendatang di Pantai Boom, Banyuwangi. Bukan sekadar ornamen pertunjukan, bunga sakral yang lekat dengan ritual adat Seblang itu dipilih sebagai representasi filosofi kehidupan sekaligus upaya merawat akar budaya Bumi Blambangan di tengah perkembangan zaman.
Pemilihan tema Kembang Dermo menjadi bagian dari konsistensi penyelenggaraan Gandrung Sewu dalam mengangkat kekayaan tradisi lokal. Setiap tahun, perhelatan kolosal yang melibatkan ribuan penari tersebut berupaya menghadirkan nilai-nilai budaya Banyuwangi melalui narasi yang diterjemahkan ke dalam gerak tari.
Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri mengatakan, pengangkatan tema lokal merupakan komitmen yang terus dijaga dalam setiap kegiatan kebudayaan di Banyuwangi, termasuk Gandrung Sewu.
“Setiap tahun kita konsisten mengangkat tema lokal, apa pun kegiatannya, termasuk Gandrung Sewu,” ujarnya.
Menurut Hasan, Kembang Dermo merupakan bunga klasik yang memiliki kedudukan sakral dalam tradisi masyarakat Oseng. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari ritual adat Seblang yang digelar di Desa Olehsari dan Kelurahan Bakungan.
“Kita mengambil tema Kembang Dermo yang merupakan kembang klasik yang sakral, yang artinya suci serta selalu ditampilkan dalam ritual adat Seblang,” katanya.
Kesucian tersebut nantinya menjadi roh dalam penyajian Gandrung Sewu. Makna filosofis Kembang Dermo tidak hanya dihadirkan melalui visual bunga, tetapi juga dihidupkan lewat pesan yang terkandung dalam tembang tradisionalnya.
Tembang Kembang Dermo dan Kosmologi Masyarakat Oseng
Hasan menjelaskan, pemaknaan Kembang Dermo dalam Gandrung Sewu berangkat dari kajian filologi dan semiotik terhadap tembang tersebut. Kajian itu mengungkap lapisan makna yang menggambarkan cara masyarakat Oseng memahami kehidupan dan menempatkan manusia dalam tatanan semesta.
Salah satu penggalan tembang yang menjadi pijakan pemaknaan tersebut berbunyi:
“Kembang Dermo, Wiyayate Mbok Widodari, Yo Kurmo Tundo Pitu, Ganjarane Wong Ono Perang.”
Menurut Hasan, syair tersebut merepresentasikan konsep kosmologi masyarakat Oseng. Di dalamnya terkandung gambaran mengenai hubungan manusia dengan alam, Tuhan, serta sesama manusia.
“Ini menggambarkan tentang konsep kosmologi orang Oseng, bagaimana manusia menempatkan dirinya kepada alam, Tuhan serta hubungan antarmanusia,” jelasnya.
Makna tersebut memperlihatkan bahwa tradisi tidak sekadar diwariskan sebagai rangkaian ritual atau pertunjukan seni. Di balik simbol dan tembang yang dilantunkan, tersimpan pandangan hidup yang membentuk identitas masyarakat Banyuwangi.
Ada Ritual Adol Kembang, Bunga Sakral yang Dipercaya Berkhasiat
Dalam tradisi Seblang, Kembang Dermo juga memiliki rangkaian ritual tersendiri. Setelah ditembangkan dan ditarikan, prosesi dilanjutkan dengan adol kembang, yakni kegiatan menjual bunga kepada masyarakat.
Bunga yang dijual dalam prosesi tersebut dipercaya memiliki khasiat tertentu. Kepercayaan itu menjadi bagian dari nilai tradisi yang terus hidup dan diwariskan secara turun-temurun di tengah masyarakat Banyuwangi.
Prosesi adol kembang sekaligus memperlihatkan bagaimana bunga dalam tradisi Seblang memiliki kedudukan lebih dari sekadar benda simbolis. Kehadirannya menghubungkan unsur seni, ritual, kepercayaan, dan kehidupan sosial masyarakat.
Melalui pengangkatan tema Kembang Dermo, Gandrung Sewu berupaya menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam bahasa pertunjukan yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas, termasuk generasi muda.
Kembang Dermo, Simbol Perjuangan yang Tak Pernah Usai
Selain kesucian dan hubungan manusia dengan semesta, Kembang Dermo juga menyimpan pesan tentang perjuangan. Hasan menyebut, salah satu makna dalam syairnya menggambarkan bahwa perjuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Banyuwangi, yang juga dikenal sebagai tanah Minak Jinggo.
“Kembang Dermo di dalam salah satu syairnya ada yang artinya bagi orang Banyuwangi, perjuangan adalah bagian dari hidupnya yang tidak ada hentinya,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi dimensi lain dari filosofi Kembang Dermo. Bunga sakral yang identik dengan ritual Seblang itu sekaligus merepresentasikan keteguhan masyarakat dalam menjalani kehidupan, mempertahankan nilai budaya, dan menghadapi perubahan zaman.
Melalui ribuan penari di Pantai Boom pada 24 Oktober mendatang, Gandrung Sewu akan menerjemahkan filosofi Kembang Dermo menjadi pertunjukan kolosal yang mempertemukan ekspresi seni masa kini dengan akar tradisi masyarakat Banyuwangi.
Pada akhirnya, Kembang Dermo bukan hanya tentang bunga yang mekar dalam sebuah pertunjukan. Lebih dari itu, tema tersebut menjadi pengingat bahwa kesucian, keharmonisan, dan perjuangan merupakan nilai-nilai yang terus hidup dalam perjalanan masyarakat Oseng. (raysgt)
Editor : Ali Sodiqin