RADAR BANYUWANGI – Bayangkan ratusan penari Gandrung bergerak di pesisir pantai dalam gelap, sementara kostum mereka memancarkan cahaya dan tata lampu membangun suasana magis. Gambaran itu bakal hadir dalam Gandrung Sewu 2026 yang untuk pertama kalinya dikemas dalam pertunjukan malam hari pada 24 Oktober mendatang pukul 20.00 WIB.
Pemkab Banyuwangi bersama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney sengaja merahasiakan sebagian besar detail pertunjukan. Kejutan baru akan dibuka ketika pergelaran dimulai.
Konsep tersebut terungkap dalam press conference Gandrung Sewu di area Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Rabu (30/9). Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani hadir bersama panitia dan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Perubahan jam tampil menjadi malam bukan sekadar soal waktu. Gandrung Sewu tahun ini membawa eksperimen visual yang menggabungkan tradisi Banyuwangi dengan teknologi pencahayaan modern.
Lampu Dipadamkan, Kostum Penari Justru Menyala
Salah satu bocoran yang diberikan Pemkab Banyuwangi adalah penggunaan kostum dengan unsur fosfor. Material tersebut memungkinkan kostum menghasilkan efek glow in the dark ketika pertunjukan berlangsung dalam kondisi gelap.
Efek tersebut akan dipadukan dengan tata cahaya khusus yang dirancang untuk memperkuat atmosfer panggung.
Namun, jangan berharap seluruh pertunjukan berubah menjadi atraksi teknologi. Pemkab Banyuwangi menegaskan, inovasi visual tersebut tetap dirancang dengan mempertahankan pakem dan identitas tari Gandrung.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan kolaborasi dengan InJourney menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
"Kita berkolaborasi dengan InJourney dalam Gandrung Sewu tahun ini yang tidak disangka, yang awalnya ingin memberikan support," kata Ipuk.
Ipuk bahkan memilih menyimpan rapat-rapat detail koreografi dan skenario visual yang telah disiapkan.
"Saya tidak ingin terbongkar semua rangkaian Gandrung Sewu tahun ini. Biarlah ini menjadi rahasia serta menjadi kejutan ketika menonton," imbuhnya.
Bukan Sekadar Modern, Gandrung Sewu Tetap Berakar pada Tradisi
Di balik kemasan yang lebih modern, Gandrung Sewu 2026 justru membawa tema yang sangat dekat dengan tradisi Banyuwangi.
Dewan Kesenian Blambangan (DKB) bersama tim kreatif mengangkat Kembang Dermo, fragmen luhur yang diadopsi dari ritual adat Seblang.
Pilihan tersebut membuat nuansa pertunjukan tahun ini dipastikan lebih sakral. Tradisi Seblang menjadi salah satu sumber utama yang membentuk karakter cerita dan atmosfer pementasan.
Ketua DKB Banyuwangi Hasan Basri mengatakan, Gandrung Sewu konsisten mengakar pada orisinalitas kearifan lokal Bumi Blambangan. Karena itu, sentuhan teknologi tidak dimaksudkan untuk menggeser identitas budaya yang menjadi dasar pertunjukan.
Tantangan justru muncul ketika unsur tradisional tersebut harus diterjemahkan ke dalam panggung malam dengan tata cahaya dan konsep visual yang berbeda.
Lebih dari 200 Penari dari Luar Daerah Ikut Bergabung
Perubahan besar juga terjadi di balik panggung.
Gandrung Sewu 2026 tidak hanya mengandalkan penari dari Banyuwangi. Lebih dari 200 penari dari luar daerah ikut dijaring melalui audisi eksternal.
Proses audisi bahkan diperluas hingga Kota Malang. Talenta yang terlibat berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Jakarta, Bondowoso, Lampung, hingga Bali.
Ketua Patih Senawangi (Paguyuban Pelatih Seniman dan Tari Banyuwangi) Suko Prayitno mengatakan, materi pertunjukan sebenarnya telah dipersiapkan sejak lama.
Namun, perubahan konsep menjadi pementasan malam membuat sejumlah bagian kembali dikembangkan. Fokusnya terutama pada koreografi, tata cahaya, serta kostum yang mampu mendukung pertunjukan dalam kondisi gelap.
Ada Kejutan Lain: Pengrawitnya Anak SD dan SMP
Jika penari dari luar daerah menjadi salah satu perubahan besar, sisi musik juga membawa cerita berbeda.
Barisan pengiring gamelan yang biasanya didominasi pemusik dewasa kini memberi ruang lebih besar kepada generasi muda. Mayoritas pengrawit yang terlibat merupakan pelajar SD dan SMP.
Keterlibatan mereka menjadi bagian dari upaya regenerasi seni pertunjukan Banyuwangi.
Dengan begitu, Gandrung Sewu 2026 tidak hanya mengubah cara penonton melihat pertunjukan tradisi. Pergelaran ini juga mempertemukan tiga unsur sekaligus: kekuatan budaya lokal, teknologi modern, dan generasi muda.
Semua Kejutan Baru Terbuka 24 Oktober
Gandrung Sewu 2026 akhirnya seperti menyiapkan satu teka-teki besar bagi penonton.
Tema Kembang Dermo sudah diketahui. Penggunaan kostum fosfor juga telah dibocorkan. Lebih dari 200 penari dari luar daerah dipastikan terlibat. Para pelajar bahkan mendapat ruang di balik musik pengiring.
Tetapi bagaimana seluruh elemen itu dirangkai menjadi satu pertunjukan?
Jawabannya masih disimpan Pemkab Banyuwangi dan tim kreatif.
Satu hal yang sudah pasti, Gandrung Sewu 2026 akan digelar pada malam hari, 24 Oktober pukul 20.00 WIB. Ketika lampu panggung mulai bermain dan ratusan penari bergerak di pesisir pantai, seluruh konsep yang kini masih dirahasiakan akan diperlihatkan kepada penonton.
Gandrung Sewu pun memasuki babak baru: tradisi lama, panggung malam, dan teknologi modern dalam satu pertunjukan. (*)
Editor : Ali Sodiqin