RADAR BANYUWANGI — Hampir seribu penari turun ke lapangan, dari anak-anak hingga para nenek, membuktikan satu hal di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran: keterbatasan anggaran bukan alasan untuk berhenti berkarya. Melalui Festival Yosomulyo Menari 2026, warga menghidupkan kembali identitas sebagai desa penari sekaligus menunjukkan kekuatan gotong royong.
Festival Yosomulyo Menari 2026 digelar di Lapangan Desa Yosomulyo, Minggu (20/9). Kegiatan yang masuk kalender Banyuwangi Attraction itu melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam satu panggung pertunjukan.
Bukan hanya anak sekolah atau kelompok seni. Penari dari berbagai rentang usia ikut ambil bagian. Anak-anak usia taman kanak-kanak hingga warga lanjut usia larut dalam pertunjukan yang mengedepankan kebersamaan.
Lima Bulan Persiapan, 80 Persen Swadaya Warga
Kepala Desa Yosomulyo Joko Utomo Kurniawan mengatakan, Festival Yosomulyo Menari 2026 mengusung tema Tandang Dewe dan Holopis Kuntul Baris.
Tema tersebut dipilih untuk merespons situasi efisiensi anggaran yang tengah dihadapi desa-desa. Bagi Yosomulyo, keterbatasan dana justru menjadi pemantik untuk mengoptimalkan kekuatan warga.
"Hampir semua desa mengalami efisiensi. Tapi dengan holopis kuntul baris, pekerjaan berat apa pun kalau digarap bareng-bareng pasti kelar," kata Joko.
Persiapan festival dilakukan selama sekitar lima bulan. Hampir seribu penari terlibat aktif dalam rangkaian pertunjukan.
Yang menarik, sebagian besar kebutuhan penyelenggaraan tidak bertumpu pada anggaran desa. Sekitar 80 persen kegiatan disebut berasal dari swadaya masyarakat.
"Hampir 80 persen dari penyelenggaraan desa menari ini merupakan hasil swadaya murni masyarakat, seperti Pak RT, dan Pak RW," ujarnya.
Bagi Joko, pertunjukan tersebut bukan sekadar tontonan budaya. Fragmen tarian yang disajikan menjadi gambaran tentang kondisi masyarakat yang tetap memilih bergerak bersama ketika menghadapi keterbatasan.
Di situlah semangat guyub rukun menjadi kekuatan utama Desa Yosomulyo.
Dari Tari Mrujuk hingga Padang Bulan
Festival dibuka oleh Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono. Setelah pembukaan, pertunjukan dilanjutkan dengan Tari Mrujuk serta Padang Bulan yang dibawakan secara bersama-sama.
Lapangan desa pun berubah menjadi panggung besar. Gerakan para penari dari berbagai generasi menyatu dalam pertunjukan yang tidak hanya menonjolkan seni tari, tetapi juga memperlihatkan partisipasi masyarakat secara langsung.
Mujiono memberikan apresiasi terhadap Pemerintah Desa Yosomulyo dan masyarakat yang konsisten mempertahankan kegiatan tersebut.
Menurut dia, pelaksanaan festival di tengah efisiensi anggaran menunjukkan adanya modal sosial yang kuat di tingkat desa.
"Saya melihat ada semangat luar biasa dari warganya. Ada semangat kolaborasi, gotong royong, dan kerja sama. Tema Holopis Kuntul Baris ini pada dasarnya adalah upaya menggerakkan SDM dan potensi lokal agar bisa bangkit bersama," kata Mujiono.
Tari, Tradisi, dan Perputaran Ekonomi
Festival Yosomulyo Menari tidak berhenti pada panggung seni. Puluhan pelaku UMKM lokal ikut meramaikan kawasan acara.
Kehadiran UMKM membuat festival memiliki dua sisi sekaligus: menjadi ruang bagi warga merawat tradisi sekaligus membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal mendapatkan manfaat ekonomi dari keramaian pengunjung.
Mujiono mengatakan kegiatan semacam itu juga menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus menjaga tradisi dan budaya lokal.
"Semangat masyarakat sangat tinggi, mulai dari mbah-mbah usia sekitar 50 tahun sampai anak TK ikut menari. Bahkan wisatawan asing asal Belanda juga terharu melihat kebersamaan ini," ujarnya.
Bagi Yosomulyo, hampir seribu penari yang memenuhi lapangan bukan sekadar angka. Mereka menjadi gambaran bahwa identitas sebuah desa dapat dibangun dari keterlibatan warganya sendiri.
Ketika anggaran terbatas, warga memilih Tandang Dewe—bergerak dengan kemampuan sendiri. Ketika pekerjaan terasa berat, mereka menghidupkan kembali semangat Holopis Kuntul Baris: bekerja bersama agar sebuah desa tetap bisa berkarya, menjaga budaya, dan bergerak maju. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin