Gandrung Marsan hingga Janger Jadi Tema Festival Padhang Ulanan Rogojampi

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 10:00 WIB
RUANG BEREKPRESI: Siswa menampilkan tarian tradisional Banyuwangi pada gelaran Festival Padhang Ulanan beberapa waktu lalu. (Dok. Radar Banyuwangi)
RUANG BEREKPRESI: Siswa menampilkan tarian tradisional Banyuwangi pada gelaran Festival Padhang Ulanan beberapa waktu lalu. (Dok. Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Seni tradisi Banyuwangi bakal mendapat panggung khusus di Festival Padhang Ulanan Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. Gandrung Marsan, Janger, dan tari Jaripah dipilih menjadi tema utama agenda yang digelar pada 26 September mendatang. Festival ini sekaligus menjadi ruang bagi pelajar untuk mengeksplorasi bakat, kreativitas, dan budaya lokal.

Festival Padhang Ulanan merupakan agenda Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi yang digelar secara bergilir setiap bulan di sejumlah kecamatan. Setelah sebelumnya berlangsung di Kecamatan Banyuwangi, September ini giliran Kecamatan Rogojampi menjadi tuan rumah.

Bagi Dispendik Banyuwangi, festival tersebut bukan sekadar pertunjukan seni. Panggung budaya itu dirancang untuk memberi kesempatan kepada siswa menampilkan kemampuan sekaligus mengenal lebih dekat tradisi yang tumbuh di daerah masing-masing.

Kepala Seksi (Kasi) Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) SD Dispendik Banyuwangi Erpandi mengatakan, konsep festival memang diarahkan pada kreativitas pelajar berbasis budaya lokal.

“Festival Padhang Ulanan dirancang sebagai wadah bagi siswa untuk menampilkan berbagai kreativitas berbasis budaya. Tidak hanya pertunjukan tari, tetapi dikemas secara tematik sesuai tema budaya dan tradisi yang ada di masing-masing kecamatan,” ujarnya.

Tiga Tradisi Banyuwangi Jadi Sorotan

Pada pelaksanaan di Rogojampi, tiga kesenian tradisional Banyuwangi akan menjadi benang merah pertunjukan. Gandrung Marsan, Janger, dan tari Jaripah akan diangkat sebagai tema utama.

Pemilihan tema tersebut memberikan ruang bagi pelajar untuk tidak hanya tampil di atas panggung. Mereka juga diajak mengeksplorasi unsur seni dan tradisi lokal melalui kreativitas masing-masing.

Konsep tematik itu membuat Festival Padhang Ulanan memiliki karakter berbeda setiap kali berpindah kecamatan. Budaya dan tradisi yang berkembang di wilayah setempat menjadi bagian dari materi yang ditampilkan.

Digelar Menjelang Bulan Purnama

Ada alasan tersendiri mengapa festival ini digelar menjelang bulan purnama. Waktu pelaksanaan tersebut selaras dengan filosofi yang terkandung dalam nama Padhang Ulanan.

Nuansa terang bulan sekaligus menjadi ciri khas agenda seni dan budaya yang digelar Dispendik Banyuwangi tersebut.

Festival ini dijadwalkan berlangsung bergilir di seluruh kecamatan setiap bulan. Pola tersebut membuat panggung ekspresi bagi pelajar tidak berhenti di satu wilayah saja.

Bagi Dispendik, keberlanjutan kegiatan juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan dan menjaga kesenian tradisional Banyuwangi kepada generasi muda.

“Tujuan Festival Padhang Ulanan adalah memberikan ruang kepada anak-anak untuk berekspresi dan bereksplorasi, terutama di lingkup budaya,” tegas Erpandi.

Dengan konsep tersebut, Festival Padhang Ulanan diharapkan tidak hanya menghasilkan pertunjukan yang menarik, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus kreativitas siswa melalui kekayaan budaya daerah. (ray/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
seni Banyuwangi Padhang Ulanan Janger Banyuwangi Budaya Rogojampi Gandrung Marsan