Situs Lastono Diduga Makam Asli Raja Blambangan Mas Purbo

Syaifuddin Mahmud • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 04:30 WIB
Situs Lastono ternyata Makam Mas Purbo, Keratuwan ByalamWyang gelar Srada Alit Mas. (Qowim for Radar Banyuwangi)
Situs Lastono ternyata Makam Mas Purbo, Keratuwan ByalamWyang gelar Srada Alit Mas. (Qowim for Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Sejarah peradaban Bumi Blambangan kembali membuka teka-teki baru. Situs Lastono di Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, kuat diduga merupakan makam asli Raja Blambangan Mas Purbo atau Pangeran Danurejo. Dugaan itu bukan sekadar cerita turun-temurun, melainkan hasil rekonstruksi melalui kajian multidisipliner yang menghubungkan sejarah, babad, genealogi, toponimi, linguistik, geografi, hingga bukti material di lokasi.

Temuan tersebut dipaparkan dalam ritual Srada Alit Mas Purbo yang digelar komunitas Keratuwan ByalamWyang, Minggu (13/9). Puluhan budayawan dan pemerhati sejarah mengikuti rangkaian kegiatan yang sekaligus menjadi ruang untuk membuka kembali jejak masa lalu Blambangan.

Jejak Mas Purbo Dirangkai dari Banyak Sumber

Rangkaian ritual dimulai sekitar pukul 09.00 WIB dengan prosesi pengambilan air suci atau tirta di Banyu Tuban.

Air tersebut kemudian dikirab menuju paseban Lastono. Di lokasi, air digunakan dalam prosesi penyucian yang dipimpin tokoh adat setempat, Turin.

Di balik ritual tersebut, terdapat kajian sejarah yang menjadi dasar munculnya dugaan baru mengenai identitas Situs Lastono.

Penggagas Keratuwan ByalamWyang M.H. Qowim mengatakan, identitas situs tersebut direkonstruksi melalui pendekatan multidisipliner.

Sejumlah disiplin digunakan untuk menguji keterkaitan antara berbagai jejak sejarah. Mulai dari kajian sejarah, bedah teks babad, genealogi atau penelusuran garis keturunan, toponimi, linguistik, geografi, hingga bukti material yang masih ditemukan di lokasi.

Seluruh data tersebut kemudian dipertemukan untuk melihat hubungan antara Situs Lastono, Istana Kebrukan, dan Sungai Tuban.

“Pembahasan ini murni berdasarkan hasil penelitian dan fakta sejarah yang dapat ditelusuri,” kata Qowim.

Dia menegaskan, kajian tersebut tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan keyakinan atau tradisi yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.

Sebab, sebagian masyarakat selama ini mengenal Lastono sebagai petilasan Syekh Siti Jenar.

Tidak Bermaksud Menghapus Tradisi Masyarakat

Qowim menegaskan, penelitian mengenai identitas Situs Lastono perlu ditempatkan sebagai upaya akademis untuk membaca kembali jejak sejarah.

Dengan demikian, hasil kajian tidak diarahkan untuk memperdebatkan keyakinan masyarakat yang sudah berlangsung secara turun-temurun.

Perbedaan antara narasi tradisi dan hasil kajian sejarah justru menjadi ruang untuk melakukan penelitian lebih mendalam. Terutama dengan membandingkan sumber tertulis, tradisi lisan, kondisi geografis, serta peninggalan material yang masih dapat ditelusuri.

Pendekatan semacam itu dinilai penting untuk menghindari pembacaan sejarah yang hanya bertumpu pada satu sumber.

Temuan Material Dinilai Sinkron

Dukungan terhadap hasil rekonstruksi tersebut datang dari Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri dan Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Banyuwangi Titin Fatimah.

Dari perspektif arkeologi, struktur material asli yang ditemukan di Situs Lastono dinilai memiliki kesesuaian dengan narasi yang terdapat dalam literatur kuno mengenai Blambangan.

Hasan Basri mendorong agar hasil rekonstruksi tersebut tidak berhenti sebagai pembahasan dalam komunitas budaya.

Menurut dia, penelitian perlu segera dibukukan dalam bentuk kajian akademis sehingga masyarakat memiliki rujukan yang lebih jelas mengenai sejarah Situs Lastono dan kaitannya dengan perjalanan peradaban Blambangan.

Dengan dokumentasi akademis, data sejarah juga lebih mudah diuji, dipelajari, dan dikembangkan oleh peneliti lain.

Sejarah Blambangan Perlu Dibuka Lebih Luas

Titin Fatimah menilai penguatan narasi sejarah Blambangan menjadi penting karena informasi autentik mengenai sejarah daerah tersebut belum sepenuhnya dikenal masyarakat luas.

Padahal, berbagai situs dan peninggalan sejarah menyimpan potongan informasi mengenai perjalanan panjang peradaban Blambangan.

Karena itu, penelitian lintas disiplin dapat menjadi salah satu cara untuk mempertemukan berbagai fragmen tersebut menjadi narasi sejarah yang lebih utuh.

Upaya tersebut sekaligus membuka peluang agar generasi muda tidak hanya mengenal Blambangan melalui cerita populer, tetapi juga melalui sumber sejarah dan bukti peninggalan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menjaga Jejak Peradaban untuk Generasi Mendatang

Bagi Hasan Basri, penelitian tentang Situs Lastono tidak semestinya berhenti pada perdebatan mengenai siapa yang dimakamkan di dalamnya.

Lebih jauh, proses penelitian dan pelestarian situs menjadi bagian dari upaya menyelamatkan aset peradaban daerah.

Karena itu, penelitian lintas disiplin dan pelestarian warisan leluhur diharapkan terus dilakukan secara terbuka.

Situs Lastono kini menjadi salah satu titik penting dalam upaya membaca kembali sejarah Bumi Blambangan. Dugaan keterkaitannya dengan makam Mas Purbo atau Pangeran Danurejo masih membutuhkan penguatan kajian akademis, tetapi temuan dan rangkaian penelitian tersebut telah membuka pintu baru untuk menelusuri salah satu bab penting sejarah Blambangan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Mas Purbo Raja Blambangan sejarah Blambangan Keratuwan ByalamWyang Situs Lastono