RADAR BANYUWANGI — Jejak benteng yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Blambangan di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, kini nyaris kehilangan bentuk aslinya. Bangunan yang konon masih berdiri kokoh setinggi sekitar tiga meter hingga era 1970-an itu perlahan tertimbun tanah, rusak dimakan usia, dan di sejumlah titik hanya menyisakan gundukan yang menjadi penanda masa lalu.
Sisa bangunan kuno tersebut membentang di wilayah Desa Blambangan hingga Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar. Berdasarkan penuturan warga dan aparat kecamatan, benteng itu diperkirakan memiliki panjang sekitar lima kilometer.
Kondisi terkini membuat keberadaan peninggalan yang diyakini berkaitan dengan Kerajaan Blambangan tersebut semakin sulit dikenali. Sebagian besar struktur telah tertutup tanah sehingga susunan batu bata kuno hanya dapat ditemukan di beberapa bagian.
Staf Ketentraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Kecamatan Muncar Slamet Hariyadi mengatakan, keberadaan bekas benteng tersebut diketahui membentang di sepanjang sempadan wilayah Desa Tembokrejo dan Desa Blambangan.
“Lokasinya berada di sepanjang sempadan di dua desa (Tembokrejo dan Blambangan). Kalau melihat cerita dulu, biasanya benteng itu dekat dengan aliran air,” ujar Slamet kemarin (8/9).
Tinggal Bekas Bangunan
Menurut Slamet, waktu menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi benteng semakin memprihatinkan. Struktur bangunan rata-rata sudah tertutup tanah sehingga bentuk benteng tidak lagi terlihat jelas.
Selain tertimbun, bangunan tersebut juga mengalami kerusakan akibat usia. Jejak yang tersisa kini lebih banyak menyerupai gundukan tanah daripada sebuah struktur pertahanan.
“Sekarang banyak yang sudah rusak karena tertimbun tanah dan dimakan usia. Sehingga hanya bisa dilihat bekas bangunannya saja,” katanya.
Padahal, kesaksian warga menunjukkan kondisi benteng pada masa lalu masih jauh berbeda.
Kepala Dusun Krajan, Desa Tembokrejo, Suwito mengatakan, ketika dirinya masih kecil pada era 1970-an, benteng tersebut masih terlihat kokoh. Tingginya saat itu diperkirakan mencapai tiga meter.
“Waktu saya masih kecil, benteng ini masih berdiri,” ujarnya.
Jejak Kerajaan Blambangan
Wilayah Desa Tembokrejo dan Desa Blambangan diyakini masyarakat sebagai salah satu kawasan yang berkaitan dengan keberadaan Kerajaan Blambangan pada masa lalu.
Jejak sejarah itu tidak hanya berupa susunan batu bata. Hingga sekarang, warga masih sesekali menemukan benda-benda yang diduga berasal dari masa lampau ketika menggali tanah.
Suwito menyebut temuan tersebut antara lain berupa uang kuno dan batu bata kuno.
“Masih sering ada yang menemukan barang antik, seperti uang kuno hingga batu bata kuno. Bahkan, di area persawahan Desa Tembokrejo, ketika usai musim panen semangka tak jarang ada warga yang berburu barang antik,” tuturnya.
Temuan-temuan tersebut membuat kawasan sekitar bekas benteng masih menyimpan daya tarik sejarah bagi masyarakat setempat.
Namun, tanpa upaya pelestarian, jejak fisik yang tersisa berpotensi semakin sulit ditemukan. Timbunan tanah, kerusakan akibat usia, serta perubahan kondisi lingkungan perlahan mengaburkan bentuk bangunan yang dahulu disebut sebagai benteng.
Lima Kilometer yang Perlahan Hilang
Benteng yang diperkirakan membentang sekitar lima kilometer itu kini tidak lagi hadir sebagai bangunan utuh. Jejaknya tersebar dari Desa Blambangan hingga Desa Tembokrejo, mengikuti kawasan sempadan yang menurut cerita masyarakat berkaitan dengan aliran air.
Kondisi tersebut menyisakan ironi. Di satu sisi, masyarakat masih menemukan artefak atau material kuno di sekitar kawasan. Di sisi lain, struktur yang menjadi bagian dari cerita sejarah lokal justru semakin sulit dikenali.
Bagi warga Muncar, susunan batu bata dan gundukan tanah itu bukan sekadar sisa bangunan. Ia menjadi penanda bahwa kawasan tersebut menyimpan lapisan sejarah panjang Banyuwangi.
Kini, benteng yang dahulu disebut masih menjulang sekitar tiga meter tinggal menyisakan jejak. Sebagian tertimbun, sebagian rusak, dan sebagian lainnya hanya dapat dikenali melalui cerita warga yang pernah melihatnya berdiri.
Jejak Kerajaan Blambangan itu pun menghadapi satu ancaman yang tak terlihat, tetapi pasti: hilang perlahan bersama waktu jika tidak dikenali dan dilestarikan. (*)
Editor : Ali Sodiqin