Bambu Disulap Jadi Kostum hingga Barong, Gintangan Buktikan Bukan Sekadar Kerajinan

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 06:02 WIB
KOSTUM UNIK BERBAHAN BAMBU: Berbagai kreasi dari bambu ditampilkan dalam Pulung Panguripan Gintangan Bamboo Attraction di Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari,  Rabu (19/8). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
KOSTUM UNIK BERBAHAN BAMBU: Berbagai kreasi dari bambu ditampilkan dalam Pulung Panguripan Gintangan Bamboo Attraction di Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Rabu (19/8). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Bambu di Desa Gintangan bukan sekadar bahan kerajinan. Di tangan para perajin, material yang selama ini lekat dengan kehidupan warga itu berubah menjadi kostum festival, barong, hingga karya seni yang tampil memukau dalam Pulung Panguripan Gintangan Bamboo Attraction 2026, Rabu (19/8).

Digelar di Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, event tahunan tersebut menjadi panggung kreativitas masyarakat sekaligus upaya menjaga identitas budaya desa yang telah lama menggantungkan penghidupan dari bambu.

Ribuan pengunjung memadati gelaran yang dimulai sekitar pukul 13.00 itu. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Forpimka Blimbingsari, tokoh masyarakat, hingga pelaku UMKM turut hadir menyaksikan beragam atraksi budaya, seni pertunjukan, serta parade busana yang seluruhnya mengangkat material bambu.

Yang mencuri perhatian adalah kostum festival hasil kreasi warga. Anyaman bambu tidak lagi tampil dalam bentuk produk rumah tangga semata, tetapi dirancang menjadi busana dan ornamen pertunjukan yang memiliki nilai artistik.

Kepala Desa Gintangan Hardiyono mengatakan, festival tersebut sengaja dikembangkan bukan sebagai hiburan semata. Lebih dari itu, Pulung Panguripan menjadi ruang untuk menunjukkan bagaimana bambu telah menjadi bagian dari kehidupan sekaligus identitas masyarakat Gintangan.

“Masyarakat Desa Gintangan mengartikan bambu sebagai tulung panguripan. Melalui kerajinan bambu, warga kami bisa hidup, berkreasi, dan menyejahterakan keluarga. Festival ini adalah wujud rasa syukur sekaligus komitmen menjaga kekayaan budaya desa,” katanya.

Dari Anyaman Bambu Menjadi Karya Festival

Menurut Hardiyono, seluruh atraksi dan kostum yang ditampilkan merupakan hasil kolaborasi perajin, desainer, dan seniman lokal. Mereka mengeksplorasi bambu menjadi berbagai bentuk karya yang lebih kreatif.

“Contohnya di sini bermacam-macam, ada barong, ada kostum festival, semuanya memakai anyaman bambu,” ujarnya.

Kekayaan seni lokal juga ditampilkan melalui berbagai kesenian khas Gintangan. Salah satunya Tari Perawan Gintangan yang lahir dari kreativitas generasi muda.

Hardiyono menyebut tarian tersebut mulai berkembang pada 2024. Kini, Tari Perawan Gintangan bahkan telah dibawakan mahasiswa di sejumlah negara.

“Tarian ini bahkan sudah mendunia, banyak mahasiswa yang membawakan tarian ke berbagai negara,” katanya.

Tradisi Pulung Panguripan sendiri telah digelar sejak 2017. Konsistensi tersebut membuat festival bambu Gintangan berkembang menjadi salah satu ruang bagi warga untuk memperkenalkan potensi kerajinan sekaligus seni budaya desa.

Bupati Dorong Bambu Naik Kelas

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memberikan apresiasi atas konsistensi Pemdes Gintangan dan masyarakat dalam mempertahankan bambu sebagai kekayaan lokal.

Apresiasi juga diberikan kepada para perajin, pelaku UMKM, anak-anak muda, komunitas, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan festival.

“Kami juga mengapresiasi komunitas-komunitas di Desa Gintangan dan seluruh pihak yang terus konsisten menjaga tradisi sekaligus berinovasi dalam gelaran Bambu Gintangan Attraction,” kata Ipuk.

Menurut Ipuk, posisi bambu bagi masyarakat Gintangan jauh melampaui sekadar komoditas kerajinan. Bambu telah menjadi identitas budaya sekaligus sumber penghidupan dan kekuatan ekonomi masyarakat.

Karena itu, dia mendorong agar pengembangan bambu tidak berhenti pada produk kerajinan konvensional. Bambu perlu terus diolah menjadi produk kreatif dengan nilai tambah lebih tinggi.

“Saya ucapkan selamat dan apresiasi Desa Gintangan yang telah mempertahankan bambu sebagai kekayaan lokal yang terus dikembangkan,” ujarnya.

Ipuk berharap Gintangan ke depan tidak hanya dikenal sebagai sentra kerajinan bambu. Desa tersebut diharapkan berkembang menjadi salah satu pusat kreativitas dan inovasi bambu di Banyuwangi.

“Jangan berhenti menjadikan bambu sebagai kerajinan semata. Bambu harus menjadi desain, bambu harus menjadi produk, bambu harus menjadi karya yang bernilai tambah tinggi. Inilah semangat hilirisasi yang juga diberikan atau disemangati oleh Bapak Presiden kita,” pungkasnya. (why/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Gintangan Bamboo Pulung Panguripan Festival Bambu banyuwangi kerajinan bambu