RADAR BANYUWANGI - Nama-nama seperti Affandi maupun Basoeki Abdullah kerap menjadi rujukan ketika membahas tokoh besar seni rupa Indonesia. Namun, di balik deretan maestro tersebut, terdapat sosok dengan karakter visual yang khas dan berpengaruh besar dalam perkembangan seni ilustrasi hingga perfilman nasional, yakni Delsy Syamsumar.
Seniman kelahiran 7 Mei 1935 itu dikenal luas sebagai bagian dari kelompok Seniman Senen, komunitas kreatif yang menjadi tempat berkumpul para pelaku seni, sastra, teater, film, dan pers di Jakarta pada era 1950-an hingga 1960-an. Dari lingkungan inilah kiprah Delsy berkembang melampaui dunia seni lukis dan menjangkau berbagai bidang kreatif.
Bakat melukis Delsy telah terlihat sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Kemampuannya dalam menggambar membuatnya beberapa kali menjuarai berbagai sayembara seni. Ketekunan tersebut menjadi fondasi perjalanan panjangnya sebagai seniman.
Namanya mulai dikenal secara nasional ketika berusia 17 tahun. Saat itu, Delsy rutin mengirimkan karya komik bertema sejarah dan petualangan ke sejumlah majalah di Jakarta melalui pos. Salah satu karya yang mencuri perhatian ialah komik Mawar Putih yang mengisahkan bajak laut Aceh dan diterbitkan di majalah Aneka.
Gaya gambar yang ekspresif, romantis, serta kaya detail membuat karya-karyanya mendapat sambutan hangat pembaca. Keunggulan itu pula yang mendorong penerbit memanggilnya ke Jakarta untuk meniti karier secara profesional sebagai ilustrator dan seniman.
Sesampainya di ibu kota, ruang kreativitas Delsy semakin terbuka. Selain aktif melukis, ia juga berkiprah sebagai wartawan, ilustrator surat kabar dan majalah, perancang tata panggung, hingga desainer sampul novel. Ketelitian dalam menggambar anatomi serta detail visual membuat hasil karyanya mendapat apresiasi dari banyak kalangan seni.
Ketertarikannya pada sejarah kemudian membawanya memasuki industri perfilman nasional. Delsy memulai kiprahnya sebagai penata artistik melalui film Holiday in Bali pada 1962. Debut tersebut langsung membuahkan prestasi setelah meraih penghargaan Dekor Tata Warna Terbaik dalam Festival Film Asia di Tokyo.
Kariernya di dunia film terus berkembang. Delsy menjadi sosok penting di balik penataan artistik sejumlah film drama sejarah dan laga kolosal Indonesia. Ia turut menghadirkan kekuatan visual dalam film Jayaprana, Buaya Deli, hingga serial laga legendaris Saur Sepuh.
Melalui rancangan latar, properti, serta kostum tradisional, Delsy mampu menghadirkan suasana kerajaan Nusantara yang megah sekaligus terasa autentik. Sentuhan artistiknya menjadi salah satu elemen yang memperkuat karakter film-film berlatar sejarah pada masanya.
Di tengah kesibukannya di dunia ilustrasi dan perfilman, Delsy tidak pernah meninggalkan kecintaannya terhadap seni lukis. Ia tetap menghasilkan berbagai karya cat minyak bertema perjuangan bangsa dan sejarah Indonesia, salah satunya lukisan kolosal Gelar Perang Sentot Prawirodirjo.
Konsistensinya mengangkat tema klasik dan historis dengan pendekatan teknik modern membuat Delsy mendapat julukan sebagai pelukis bergaya neoklasik. Ciri tersebut menjadikan karya-karyanya memiliki identitas kuat sekaligus mudah dikenali di antara seniman sezamannya.
Delsy Syamsumar wafat pada 21 Juni 2001. Meski demikian, warisan visual yang ditinggalkannya tetap hidup melalui lukisan, ilustrasi, komik, hingga film-film yang pernah ia garap. Kiprahnya menjadi bukti bahwa seni rupa mampu menjembatani berbagai medium, sekaligus memperkaya perjalanan sejarah budaya Indonesia melalui bahasa visual yang kuat dan berkarakter.
Editor : Lugas Rumpakaadi