RADARBANYUWANGI.ID - Di antara deretan lukisan terkenal dari era Victoria, Ophelia karya Sir John Everett Millais menjadi salah satu karya seni yang paling memikat perhatian. Warna-warna alam yang hidup, detail flora yang nyaris sempurna, serta sosok perempuan yang mengapung tenang di atas air menghadirkan perpaduan keindahan sekaligus kesedihan yang sulit dilupakan.
Mahakarya yang diselesaikan pada 1852 dan kini menjadi koleksi Tate Britain tersebut mengabadikan detik-detik terakhir tokoh Ophelia dalam drama Hamlet karya William Shakespeare. Sosok putri malang itu digambarkan tenggelam di antara bunga-bunga liar, sementara alam di sekelilingnya tetap tampak tenang tanpa menunjukkan belas kasih.
Namun, di balik keindahan visual yang memukau, tersimpan kisah yang tidak kalah tragis dibanding cerita dalam drama Shakespeare. Proses penciptaan lukisan tersebut diwarnai obsesi artistik, pengorbanan fisik, hingga ironi yang kemudian menjadi bagian dari sejarah seni dunia.
Millais merupakan salah satu pendiri gerakan Pre-Raphaelite Brotherhood (PRB), kelompok seniman Inggris pertengahan abad ke-19 yang menolak gaya akademis konvensional. Mereka mengusung prinsip menghadirkan alam secara jujur melalui detail yang sangat realistis, warna-warna cerah, serta melukis langsung di alam terbuka.
Bagi Millais, prinsip tersebut bukan sekadar teori. Demi menghasilkan lanskap yang autentik, ia menghabiskan sekitar lima bulan pada 1851–1852 di tepi Sungai Hogsmill, Ewell, Surrey.
Setiap hari ia duduk berjam-jam di tengah cuaca dingin Inggris, menghadapi terpaan angin, serangan serangga, hingga ancaman dari pemilik lahan. Bahkan, ia membangun gubuk kecil berlapis jerami agar dapat terus melukis tanpa meninggalkan lokasi.
Dedikasi itu menghasilkan detail botani yang luar biasa. Beragam tumbuhan seperti mawar liar, willow, jelatang, hingga bunga daisy digambarkan dengan tingkat ketelitian tinggi sehingga karya tersebut kerap disebut memiliki nilai ilmiah sebagai dokumentasi flora selain sebagai karya seni.
Namun, pengorbanan terbesar justru datang dari model utama lukisan tersebut, Elizabeth "Lizzie" Siddal.
Untuk memperoleh efek tubuh yang tampak mengapung secara alami, Millais meminta Lizzie berbaring selama berjam-jam di dalam bak mandi besar yang dipenuhi air. Karena sesi dilakukan pada musim dingin, beberapa lampu minyak ditempatkan di bawah bak untuk menjaga suhu air tetap hangat.
Masalah muncul ketika Millais terlalu larut dalam pekerjaannya hingga tidak menyadari lampu-lampu tersebut padam. Air di dalam bak perlahan berubah sangat dingin.
Lizzie, yang dikenal pendiam dan berdedikasi terhadap pekerjaannya, tetap mempertahankan pose tanpa mengeluh. Ia bertahan berendam selama berjam-jam hingga akhirnya mengalami hipotermia berat.
Insiden tersebut nyaris merenggut nyawanya. Ayah Lizzie dikabarkan sangat marah dan mengancam membawa persoalan itu ke jalur hukum akibat kelalaian Millais. Perselisihan akhirnya mereda setelah sang pelukis bersedia menanggung biaya pengobatan yang diperlukan.
Tragedi itu menjadi salah satu kisah paling terkenal dalam sejarah seni rupa Inggris karena menunjukkan bagaimana obsesi terhadap kesempurnaan artistik dapat berujung pada penderitaan manusia.
Ironisnya, kehidupan Lizzie di kemudian hari seolah mengikuti nasib tragis Ophelia yang diperankannya di atas kanvas.
Beberapa tahun setelah proses pembuatan lukisan tersebut, kondisi kesehatannya terus menurun. Ia mengalami gangguan paru-paru kronis yang oleh sejumlah sejarawan diduga berkaitan dengan dampak hipotermia yang pernah dialaminya. Di sisi lain, Lizzie juga diketahui bergantung pada laudanum, obat berbahan dasar opium yang lazim digunakan sebagai pereda nyeri pada masa itu.
Pada 1862, Lizzie meninggal dunia akibat overdosis laudanum pada usia 32 tahun.
Peristiwa setelah kematiannya pun menyisakan kisah pilu. Suaminya, pelukis sekaligus penyair Dante Gabriel Rossetti, meletakkan naskah puisi terakhir yang belum diterbitkan ke dalam peti mati istrinya sebelum pemakaman berlangsung. Tindakan tersebut menjadi simbol cinta sekaligus penyesalan yang terus dikenang dalam sejarah gerakan Pre-Raphaelite.
Editor : Lugas Rumpakaadi