RADARBANYUWANGI.ID - Tradisi sembur utik-utik yang menjadi bagian khas prosesi Tedak Siten atau turun tanah dalam adat Suku Osing masih terus dilestarikan masyarakat Banyuwangi. Ritual berupa penyebaran campuran beras kuning, bunga, dan uang logam itu memiliki makna sebagai simbol tolak bala, sedekah, sekaligus doa agar sang buah hati senantiasa memperoleh keselamatan, keberkahan, dan rezeki yang baik.
Dalam pelaksanaannya, sembur utik-utik kerap menjadi momen yang paling dinantikan, terutama oleh anak-anak. Saat uang logam disebarkan, suasana acara berubah menjadi lebih semarak karena para tamu, khususnya anak-anak, antusias mengumpulkan uang receh yang ditebar oleh keluarga penyelenggara.
Bagi masyarakat yang mendukung, tradisi tersebut tidak sekadar menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan. Nilai sedekah yang terkandung di dalamnya dinilai mampu memperkuat rasa kekeluargaan sekaligus menjadi bagian penting dari warisan budaya Osing yang patut dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Meski demikian, seiring perubahan pola pikir masyarakat, pelaksanaan sembur utik-utik mulai memunculkan beragam pandangan. Sebagian orang tua menilai prosesi berebut uang logam berpotensi menimbulkan risiko, terutama ketika anak-anak saling berdesakan hingga berisiko terjatuh. Selain itu, campuran beras dan bunga yang berserakan juga dinilai dapat membuat lantai menjadi kotor maupun licin.
"Sebenarnya niatnya bagus buat sedekah, tapi kadang kalau anak-anak berebut suka dorong-dorongan jadi rawan jatuh. Makanya sekarang ada orang tua yang milih ganti porsi uangnya dibagikan langsung dalam bentuk amplop atau goodie bag biar lebih tertib dan aman," ujar Fina.
Sebagai bentuk penyesuaian tanpa menghilangkan makna tradisi, sejumlah keluarga kini menerapkan berbagai alternatif pelaksanaan. Ada yang memilih menggelar sembur utik-utik di area terbuka agar peserta lebih leluasa bergerak, sementara lainnya mengatur barisan anak-anak sebelum prosesi dimulai sehingga pembagian uang dapat berlangsung lebih tertib.
Editor : Lugas Rumpakaadi