RADAR BANYUWANGI – Kemegahan kostum dan atraksi para peserta Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) selalu mencuri perhatian publik. Namun, ada satu elemen yang tak kalah penting dalam membangun kemegahan pertunjukan itu, yakni musik pengiring yang menghidupkan setiap langkah para peraga. Di balik komposisi nada yang menyatu dengan setiap tema BEC, berdiri sosok Nanang Ariyanto, musisi asal Banyuwangi yang telah dipercaya menjadi penata musik ajang budaya tersebut sejak 2013.
Selama lebih dari satu dekade, Nanang menjadi sosok yang menerjemahkan tema-tema besar BEC ke dalam bahasa musik. Perpaduan instrumen tradisional Banyuwangi dengan sentuhan modern menjadi ciri khas aransemennya, menjadikan musik bukan sekadar pengiring, melainkan bagian penting dari narasi yang disuguhkan kepada penonton.
Berawal dari Musik Rock, Berlabuh di Musik Tradisi
Tak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan bermusik Nanang justru dimulai dari genre rock.
Kecintaannya terhadap musik telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bakat tersebut kemudian diasah melalui pendidikan nonformal di Istana Musik, salah satu sekolah musik di Banyuwangi.
Perubahan besar dalam kariernya terjadi pada tahun 2000, ketika seorang rekannya mengajak sekaligus meyakinkannya untuk terlibat dalam proses rekaman lagu daerah Banyuwangi.
Apa yang semula dijalani dengan rasa terpaksa justru menjadi titik balik dalam hidupnya. Sejak saat itu, Nanang menyadari pentingnya peran musisi lokal dalam menjaga dan mengembangkan musik tradisional Banyuwangi.
Dari Juara Festival hingga Dipercaya Garap Lagu Daerah
Sebelum dikenal sebagai penata musik BEC, Nanang telah menorehkan sejumlah prestasi.
Salah satunya saat berhasil menjadi juara Festival Band se-Jawa Bali pada 1996, sebuah pencapaian yang semakin memperkuat reputasinya di dunia musik.
Kepercayaan publik terhadap kemampuannya terus tumbuh hingga akhirnya ia dipercaya oleh Bupati Banyuwangi saat itu, Samsul Hadi, untuk menggarap aransemen lagu "Umbul-Umbul Blambangan", salah satu karya yang lekat dengan identitas budaya Banyuwangi.
Menerjemahkan Tema BEC Menjadi Komposisi Musik
Bagi Nanang, tantangan terbesar dalam menggarap musik BEC bukan hanya menciptakan melodi yang indah, melainkan menerjemahkan tema tahunan ke dalam komposisi yang mampu memperkuat pesan pertunjukan.
Setiap konsep BEC memiliki karakter berbeda sehingga membutuhkan pendekatan musikal yang tidak pernah sama.
"Aransemen musik menyesuaikan tema, jadi tantangan terbesarnya adalah menerjemahkan tema ke dalam berbagai instrumen musik," ujar Nanang, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, musik harus mampu berjalan seirama dengan desain kostum, koreografi, hingga cerita yang ingin disampaikan dalam setiap parade.
Butuh 1,5 Bulan Meracik Harmoni Tradisional dan Modern
Untuk menyelesaikan seluruh komposisi musik dalam satu penyelenggaraan BEC, Nanang membutuhkan waktu sekitar satu setengah bulan.
Proses tersebut tidak hanya menuntut kreativitas, tetapi juga ketelitian tinggi dalam memadukan instrumen tradisional seperti angklung dan saron dengan alat musik modern.
Baginya, keseimbangan menjadi kunci agar identitas musik Banyuwangi tetap terasa tanpa kehilangan sentuhan kontemporer.
"Saya harus menyeimbangkan antara unsur modern dan etnik agar tidak ada unsur yang lebih dominan, karena musik etnik Banyuwangi memiliki ciri khas tersendiri," katanya.
Hasil dari proses panjang itu kemudian menjadi pengiring yang menyatu dengan setiap langkah peserta BEC, menciptakan pengalaman visual dan audio yang khas.
Musik sebagai Diplomasi Budaya Banyuwangi
Lebih dari sekadar pertunjukan tahunan, Nanang memandang Banyuwangi Ethno Carnival sebagai ruang kreatif bagi para seniman lokal untuk terus berkarya.
Ia berharap BEC tetap berkembang sebagai panggung budaya yang mampu mempertemukan kreativitas, tradisi, dan inovasi dalam satu kemasan yang dapat dinikmati lintas generasi.
Di sisi lain, ia juga melihat musik memiliki peran strategis sebagai diplomasi budaya, memperkenalkan kekayaan musik etnik Banyuwangi kepada masyarakat nasional hingga mancanegara.
Baginya, keberhasilan BEC bukan hanya diukur dari kemegahan kostum atau jumlah penonton, tetapi juga dari sejauh mana musik yang mengiringinya mampu meninggalkan kesan mendalam dan memperkenalkan identitas Banyuwangi kepada dunia.
Selama lebih dari 13 tahun, Nanang Ariyanto membuktikan bahwa di balik setiap langkah peserta Banyuwangi Ethno Carnival, terdapat harmoni yang dirancang dengan ketekunan, kecintaan terhadap budaya, dan komitmen untuk menjaga denyut musik etnik tetap hidup di panggung internasional. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : banyuwangitourism.com