Masihkah ada harapan?

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 05:30 WIB
Oleh: Nayli Ramdaniyah
Oleh: Nayli Ramdaniyah

1/ Hampa

Di tubuhmu,

Aku adalah bayang yang tak tahu arah

Lahir dari desir risau yang cekat memeluk diri

Mataku sayu menatap ratap jejak langkah,

Meminta pulang pada raga yang enggan pulih.

2/Luka

Pada mestinya,

Luka di tubuhku sudah tak ingin ku ingat lagi

Sebab, tabah selalu berguguran

Di taman ingatan

Mengubur anai anai luka yang berserakan

3/Kecewa

Di cakrawala ingatan,

Matamu ranum akan sendu

Runtuh bersama riuh air mata.

Beberapa kali, bahkan tak jarang

Aku memintamu pergi dan tak usah kembali.

Sebab pada nyatanya,

Kekecewaan itu hanya mengajarkanku

Untuk putus asa

4/Takut

Tubuhku sudah terlanjur kemarau

Atas luka -luka yang terus terik di ingatan

Tanpa rasa iba.

Langkahku enggan menapak,

Rambang pada patah yang silih berganti.

Oh, betapa nestapanya hidup ini. 

Sumenep,19 Juni 2026


Tentang Penulis;

Nayli Ramdaniyah, lahir di Sumenep tepat pada tanggal 27 Juli 2005.Ia adalah mahasiswi aktif Sekolah tinggi agama islam Nasy’atul Muta”allimin(STAINAS) .Ia belajar menulis puisi sejak kelas 2 MTs Nasy’atul Muta’allimin.Beberapa karyanya pernah dimuat di beberapa antologi puisi, diantaranya;Antologi Syeikh Arsyad al-Banjari(se Asia tenggara), antologi Fun Bahasa (Nasional), Semesta ingatan (Temu karya serumpun 2025) dan karyanya juga pernah dimuat dua kali di koran radar Madura.

Editor : Ali Sodiqin
harapan puisi