1/ Hampa
Di tubuhmu,
Aku adalah bayang yang tak tahu arah
Lahir dari desir risau yang cekat memeluk diri
Mataku sayu menatap ratap jejak langkah,
Meminta pulang pada raga yang enggan pulih.
2/Luka
Pada mestinya,
Luka di tubuhku sudah tak ingin ku ingat lagi
Sebab, tabah selalu berguguran
Di taman ingatan
Mengubur anai anai luka yang berserakan
3/Kecewa
Di cakrawala ingatan,
Matamu ranum akan sendu
Runtuh bersama riuh air mata.
Beberapa kali, bahkan tak jarang
Aku memintamu pergi dan tak usah kembali.
Sebab pada nyatanya,
Kekecewaan itu hanya mengajarkanku
Untuk putus asa
4/Takut
Tubuhku sudah terlanjur kemarau
Atas luka -luka yang terus terik di ingatan
Tanpa rasa iba.
Langkahku enggan menapak,
Rambang pada patah yang silih berganti.
Oh, betapa nestapanya hidup ini.
Sumenep,19 Juni 2026
Tentang Penulis;
Nayli Ramdaniyah, lahir di Sumenep tepat pada tanggal 27 Juli 2005.Ia adalah mahasiswi aktif Sekolah tinggi agama islam Nasy’atul Muta”allimin(STAINAS) .Ia belajar menulis puisi sejak kelas 2 MTs Nasy’atul Muta’allimin.Beberapa karyanya pernah dimuat di beberapa antologi puisi, diantaranya;Antologi Syeikh Arsyad al-Banjari(se Asia tenggara), antologi Fun Bahasa (Nasional), Semesta ingatan (Temu karya serumpun 2025) dan karyanya juga pernah dimuat dua kali di koran radar Madura.
Editor : Ali Sodiqin