Sanggar Jiwa Etnik Blambangan Sulap Kisah VOC Jadi Atraksi Memukau di BEC 2026

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 18:30 WIB
BEC 2026 Tampilkan Kisah VOC, Jiwa Etnik Blambangan Panen Apresiasi Publik. (banyuwangitourism.com)
BEC 2026 Tampilkan Kisah VOC, Jiwa Etnik Blambangan Panen Apresiasi Publik. (banyuwangitourism.com)

RADAR BANYUWANGI – Kemegahan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 tak hanya memanjakan mata melalui parade kostum spektakuler, tetapi juga menghadirkan narasi sejarah yang kuat. Mengusung tema besar Perang Bayu, perhelatan budaya yang digelar pada Sabtu, 18 Juli 2026, itu berhasil menghidupkan kembali kisah perjuangan masyarakat Blambangan melalui pertunjukan artistik yang memadukan sejarah, seni tari, dan kreativitas modern.

Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian ribuan penonton adalah subtema VOC dan Sekutu yang digarap Sanggar Seni Jiwa Etnik Blambangan. Tidak sekadar menghadirkan parade busana, penampilan tersebut menyuguhkan drama visual yang menggambarkan ambisi, kesombongan, dan intrik politik Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) saat berupaya menguasai Bumi Blambangan.

Lewat koreografi yang dinamis, kostum megah, serta penjiwaan karakter yang kuat, Sanggar Jiwa Etnik Blambangan berhasil mengubah jalur parade menjadi panggung sejarah terbuka yang memikat perhatian masyarakat sepanjang pertunjukan.

Ketua Sanggar Seni Jiwa Etnik Blambangan, Adlin Mustika Alam, S.Sn, menjelaskan bahwa konsep yang diusung merupakan interpretasi artistik terhadap sejarah lokal, khususnya peristiwa Perang Bayu yang menjadi bagian penting perjalanan Banyuwangi.

Tokoh-tokoh tentara VOC, noni Belanda, hingga kelompok sekutu atau Londo Ireng divisualisasikan melalui kostum bergaya bangsawan Eropa yang dipadukan dengan ekspresi angkuh, tegas, dan penuh wibawa. Seluruh elemen tersebut dirancang untuk memperkuat karakter setiap tokoh yang tampil di sepanjang parade.

"Kami memadukan gerak yang terinspirasi dari gestur bangsawan Eropa dengan unsur gerak tradisional Banyuwangi. Ini menjadi tantangan sekaligus kekuatan, karena kami ingin menghadirkan sesuatu yang baru tanpa menghilangkan identitas budaya lokal," ujar Adlin.

Perpaduan budaya Barat dan tradisi lokal menjadi kekuatan utama dalam pertunjukan tersebut. Gerak tari khas Banyuwangi diperkaya sentuhan kontemporer sehingga menghadirkan sajian yang tidak hanya estetik, tetapi juga mudah dipahami oleh penonton dari berbagai kalangan.

Di balik penampilan megah itu, terdapat proses kreatif yang berlangsung selama kurang lebih dua bulan. Selama masa persiapan, para penari tidak hanya berlatih menghafal pola lantai dan koreografi, tetapi juga mendalami karakter yang mereka perankan agar mampu menyampaikan pesan sejarah secara utuh kepada penonton.

Manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri mengingat setiap detail gerak, ekspresi, hingga perpindahan adegan harus disusun secara presisi agar alur cerita dapat dinikmati tanpa mengurangi nilai artistiknya.

Keberhasilan penampilan juga didukung penggunaan berbagai properti ikonik. Payung gaun bergaya Eropa, kostum bangsawan yang megah, hingga tata rias yang kuat mempertegas karakter VOC dan sekutunya. Seluruh elemen visual tersebut membuat subtema VOC menjadi salah satu segmen yang paling menonjol sepanjang parade Banyuwangi Ethno Carnival 2026.

Bagi Sanggar Jiwa Etnik Blambangan, BEC bukan hanya ruang unjuk kreativitas, tetapi juga media edukasi budaya. Melalui pertunjukan ini, sejarah Perang Bayu diperkenalkan kembali kepada masyarakat, khususnya generasi muda, dengan pendekatan yang lebih menarik dan mudah diterima.

"Apresiasi dan tanggapan positif dari masyarakat menjadi indikator bahwa konsep yang kami bangun mampu menyampaikan pesan kepada audiens. Semoga karya ini menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi muda untuk terus berkarya, mencintai budaya, serta menjaga warisan leluhur melalui kreativitas yang inovatif," pungkas Adlin.

Penampilan subtema VOC di BEC 2026 membuktikan bahwa sejarah tidak selalu harus disampaikan melalui buku atau ruang kelas. Ketika dipadukan dengan seni pertunjukan, koreografi, dan kreativitas visual, kisah perjuangan masa lalu mampu hidup kembali, menggugah emosi, sekaligus memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap identitas budaya Banyuwangi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : banyuwangitourism.com
budaya banyuwangi Perang Bayu BEC 2026 Banyuwangi Carnival Jiwa Etnik