Profil Pieter Yulivianou, Suara Emas yang Menjadi Roh Banyuwangi Ethno Carnival

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 09:00 WIB
14 tahun jadi vokal BEC, Pieter Yulivianou mampu menjaga harmoni karnaval Banyuwangi menuju panggung dunia. (banyuwangitourism.com)
14 tahun jadi vokal BEC, Pieter Yulivianou mampu menjaga harmoni karnaval Banyuwangi menuju panggung dunia. (banyuwangitourism.com)

RADAR BANYUWANGI – Ribuan pasang mata selalu terpaku pada kemegahan kostum dan atraksi Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) setiap kali parade budaya itu digelar. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa di balik gegap gempita panggung internasional tersebut, ada satu suara yang nyaris tak pernah absen menghidupkan suasana. Dialah Pieter Yulivianou, penyanyi asal Banyuwangi yang selama lebih dari satu dekade menjadi salah satu vokalis tetap pengiring musik live BEC.

Pria kelahiran Banyuwangi, 26 Juli 1985, itu telah menjadi bagian dari denyut musikal BEC sejak 2012. Konsistensinya menjaga kualitas vokal membuat namanya identik dengan pertunjukan budaya kebanggaan Banyuwangi tersebut. Di tengah perubahan konsep, tema, hingga aransemen musik setiap tahun, suara Pieter tetap menjadi elemen yang menyatukan kemegahan visual dan kekuatan musikal BEC.

Bernyanyi Sejak Usia Tiga Tahun, Bakat Diasah dari Panggung ke Panggung

Bakat menyanyi Pieter bukan lahir karena keberuntungan. Kecintaannya terhadap dunia vokal sudah tumbuh sejak berusia tiga tahun. Sejak kecil, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi, mulai dari lomba lagu daerah hingga Pekan Olahraga dan Seni (Porseni).

Menariknya, Pieter kecil kerap harus bersaing dengan peserta yang usianya lebih dewasa. Alih-alih gentar, kondisi itu justru menempa mental panggungnya. Berkat kemampuan vokal yang terus berkembang, ia berulang kali keluar sebagai juara.

Pengalaman tersebut menjadi fondasi kuat yang mengantarkannya melangkah ke level lebih tinggi. Semakin dewasa, jam terbangnya terus bertambah, membuka jalan menuju panggung nasional.

Menembus Televisi Nasional hingga Raih Prestasi Antarbanker Indonesia

Perjalanan karier Pieter semakin bersinar pada 2004 ketika ia bersama grup vokal Modern Voice lolos ke ajang Festival Nasyid Indonesia di televisi nasional.

Setahun kemudian, grup yang sama kembali mengukir prestasi dengan menembus jajaran 12 besar kompetisi boyband di salah satu stasiun televisi nasional.

Menariknya, perjalanan bermusiknya tetap berjalan beriringan dengan karier profesional di dunia perbankan. Saat bekerja di sektor tersebut, Pieter dipercaya mewakili Bank Indonesia Jawa Timur dalam ajang Bankers Idol tingkat nasional di Padang pada 2010. Dalam kompetisi antarbanker se-Indonesia itu, ia berhasil meraih Juara III, membuktikan bahwa kualitas vokalnya mampu bersaing di berbagai panggung.

Menjadi Identitas Musik Live Banyuwangi Ethno Carnival

Pengalaman panjang itulah yang akhirnya mengantarkan Pieter dipercaya menjadi salah satu vokalis utama pengiring Banyuwangi Ethno Carnival sejak 2012.

Selama belasan tahun, ia menjadi bagian dari pertunjukan yang dikenal mengusung konsep musik live, berbeda dengan banyak karnaval lain yang mengandalkan musik rekaman. Bagi Pieter, kepercayaan tersebut bukan sekadar pekerjaan, tetapi kehormatan sebagai seniman daerah.

"Sekian tahun dipercaya sebagai penyanyi di BEC merupakan sebuah kehormatan bagi saya. Lewat BEC ini juga semakin banyak masyarakat yang mengenal nama saya," ujar Pieter, Minggu (27/7/2026).

Kehadiran musik live menjadi salah satu identitas kuat BEC. Karena itu, setiap vokalis dituntut tampil prima tanpa ruang untuk kesalahan.

Menjaga Suara, Menjaga Nama Banyuwangi

Bagi Pieter, tampil di BEC tidak hanya soal bernyanyi di atas panggung. Persiapan dilakukan jauh hari sebelum hari pertunjukan.

Ia meningkatkan intensitas latihan vokal sekaligus menjaga pola makan agar kondisi pita suara tetap optimal. Disiplin menjadi kunci agar mampu memenuhi standar pertunjukan internasional yang selalu ditampilkan BEC.

Setiap tahun pula, tantangan baru selalu muncul. Salah satunya ketika harus membawakan lagu berbahasa asing, seperti bahasa Inggris maupun Spanyol, tanpa menghilangkan karakter musik etnik yang menjadi identitas Banyuwangi.

"Tantangan di BEC ini adalah memperkaya khazanah vokal supaya dapat menampilkan karakter musik ethnic yang menjadi ciri khas musik BEC," katanya.

Menurutnya, kemampuan teknis vokal harus terus berkembang agar selaras dengan konsep pertunjukan yang selalu berevolusi.

Berharap BEC Semakin Autentik dan Mendunia

Mengikuti perjalanan BEC sejak 2012 membuat Pieter menyaksikan langsung bagaimana festival budaya itu terus berkembang hingga dikenal di tingkat internasional.

Ia menilai konsep baru yang dihadirkan pada penyelenggaraan 2026 menghadirkan nuansa budaya yang semakin kuat dan autentik. Hal tersebut diharapkan terus dipertahankan bahkan dikembangkan pada tahun-tahun mendatang.

Baginya, kekuatan BEC bukan hanya pada parade kostum spektakuler, tetapi juga keberhasilan memadukan musik, seni pertunjukan, dan budaya lokal dalam satu panggung yang utuh.

Dedikasi Pieter Yulivianou menjadi gambaran bahwa di balik megahnya sebuah festival internasional, terdapat kerja keras para seniman lokal yang setia menjaga kualitas pertunjukan. Saat sorotan lampu menyinari peserta karnaval, suara Pieter tetap menjadi harmoni yang menghidupkan jiwa Banyuwangi Ethno Carnival dari tahun ke tahun. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : banyuwangitourism.com
Penyanyi Banyuwangi Pieter Yulivianou Musik Live BEC Vokal BEC Banyuwangi Ethno Carnival