RADAR BANYUWANGI – Ribuan telur rebus menghiasi ancak dan jodang yang diarak ratusan pelajar dalam Festival Padang Ulanan Kecamatan Banyuwangi, Kamis (24/7). Tradisi Endog-Endogan yang telah diwariskan turun-temurun kembali dihidupkan melalui kolaborasi siswa dari jenjang PAUD hingga SMA sebagai upaya menjaga warisan budaya lokal agar tetap dikenal generasi muda.
Festival yang digelar di kawasan Lorong Bambu depan Gesibu Blambangan hingga berakhir di Creative Hub Taman Blambangan itu menjadi puncak rangkaian kegiatan Padang Ulanan. Puluhan guru bersama perwakilan siswa dari 40 sekolah dasar membawa ancak berhias ornamen khas Endog-Endogan yang dipenuhi ribuan telur rebus.
Koordinator Wilayah Kerja Satuan Pendidikan (Korwilkersatdik) Kecamatan Banyuwangi, Janoto, mengatakan tema Festival Padang Ulanan tahun ini sengaja mengangkat tradisi Endog-Endogan sebagai bentuk pelestarian budaya daerah.
Menurut dia, Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi tersebut di tengah derasnya perkembangan zaman.
"Festival Padang Ulanan tahun ini mengangkat tema Endog-Endogan. Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang hingga kini masih melestarikan tradisi tersebut," ujarnya.
Kegiatan berlangsung sejak pagi dengan melibatkan peserta didik mulai PAUD, SD, SMP, hingga SMA. Sebelum arak-arakan dimulai, panggung festival diisi beragam pertunjukan seni, mulai tari Gandrung hingga penampilan band pelajar yang menambah semarak suasana.
Puncak acara berlangsung sekitar pukul 15.00 WIB saat ribuan telur rebus diarak menuju lokasi festival. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi tontonan masyarakat, tetapi juga sarana edukasi budaya bagi para peserta didik.
Panitia juga menghadirkan drama berdurasi sekitar 10 menit yang diperankan siswa SMP Negeri 5 Banyuwangi. Pementasan itu mengisahkan asal-usul tradisi Endog-Endogan agar para pelajar memahami sejarah sekaligus filosofi di balik tradisi yang mereka jalankan.
Janoto mengakui masih banyak anak mengikuti prosesi Endog-Endogan tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya. Karena itu, unsur edukasi sengaja diperkuat melalui pertunjukan drama.
"Selama ini banyak anak yang ikut tradisi, tetapi belum mengetahui sejarahnya. Karena itu kami tampilkan drama asal-usul Endog-Endogan agar mereka memahami filosofi di balik tradisi ini," katanya.
Setelah prosesi arak-arakan selesai, seluruh peserta menikmati telur rebus secara bersama-sama. Tradisi makan telur bersama menjadi simbol kebersamaan sekaligus memperkuat semangat menjaga budaya lokal agar tetap hidup di tengah generasi muda.
"Semoga dengan kegiatan ini budaya Endog-Endogan tetap lestari," harap Janoto.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian menjelaskan, Padang Ulanan merupakan agenda yang digelar bergilir di setiap kecamatan. Program tersebut menjadi bagian dari strategi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam mengembangkan kompetensi peserta didik melalui penguatan literasi budaya.
Menurut Alfian, pembelajaran budaya tidak cukup dilakukan di dalam kelas. Karena itu, siswa diajak terlibat langsung dalam praktik budaya agar memiliki pengalaman sekaligus pemahaman terhadap tradisi daerah.
Ia menambahkan, penyelenggaraan Festival Padang Ulanan tahun ini terasa semakin istimewa karena berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang apresiasi bagi kreativitas pelajar dalam melestarikan budaya Banyuwangi.
"Kegiatan ini menjadi upaya kita melestarikan budaya di Banyuwangi. Kali ini menjadi lebih spesial karena bersamaan dengan Hari Anak Nasional," pungkasnya.
Editor : Ali Sodiqin