BEC 2026 Tuntas, Daftar Juara Diumumkan, Lebih dari 100 Ribu Penonton Padati Banyuwangi

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 03:30 WIB
BEC 2026 menobatkan para juara terbaik dan menarik lebih dari 100 ribu penonton. Banyuwangi kembali membuktikan budaya menjadi penggerak pariwisata. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
BEC 2026 menobatkan para juara terbaik dan menarik lebih dari 100 ribu penonton. Banyuwangi kembali membuktikan budaya menjadi penggerak pariwisata. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 resmi menutup rangkaian acaranya dengan malam BEC Awards yang digelar meriah di Gesibu Blambangan, Sabtu malam (19/7). Tak hanya mengumumkan para talent terbaik dari lima subtema, penyelenggara juga mencatat capaian spektakuler. Lebih dari 100 ribu penonton memadati jalannya parade budaya, sementara lebih dari 900 orang terlibat dalam penyelenggaraan salah satu agenda unggulan Kharisma Event Nusantara (KEN) tersebut.

Malam penghargaan menjadi puncak apresiasi bagi para talent, desainer, seniman, dan seluruh pihak yang telah menyukseskan karnaval budaya terbesar di Banyuwangi. Penghargaan diberikan kepada peserta terbaik pada lima kategori subtema serta satu penghargaan bergengsi The Best Costume.

Pada kategori Situs Perang, Azalea Zukhrufulizzah dari MTs Negeri 3 Banyuwangi berhasil meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati Yuniar Artika Definta dari kategori umum, sedangkan juara ketiga diraih Puji Purwanto, juga dari kategori umum.

Untuk kategori Pejuang Blambangan, gelar juara pertama disabet Evellyne Jihan Prameswari dari SMAN 1 Purwoharjo. Juara kedua diraih Vero Novita Rahma, sedangkan posisi ketiga ditempati Dandy Putra Anggara.

Pada subtema Hasil Bumi, Dinara Shanika Ighfirlana dari SMPN 1 Cluring keluar sebagai juara pertama. Juara kedua diraih Moch Rizki Dermawan dari kategori umum, sementara Muhammad Roudur Royhan dari SMKN 1 Wongsorejo menempati posisi ketiga.

Sementara itu, kategori VOC dan Sekutu dimenangkan David Yudo Setiawan, disusul Vanesya Silvia Irko Putri sebagai juara kedua dan David Elmiyanto di posisi ketiga.

Adapun kategori Alat dan Genderang Perang menempatkan Maura Yefaneca dari SMAN 1 Giri sebagai juara pertama. Juara kedua diraih Salsabila April Yasmin, sedangkan juara ketiga menjadi milik Alysia Maheswari dari SMPN 1 Cluring.

Penghargaan The Best Costume BEC 2026 diberikan kepada Arinal Firdaus dari kategori umum.

BEC Hidupkan Sejarah Lewat Kreativitas Anak Muda

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, malam penghargaan menjadi penutup seluruh rangkaian BEC sekaligus bentuk apresiasi kepada para pelaku seni dan ekonomi kreatif agar terus berkarya.

"Kegiatan ini adalah bagian terakhir kegiatan BEC serta memberi apresiasi orang-orang untuk terus bisa berkarya dan semangat bagi kita semua," ujarnya.

Menurut Ipuk, Banyuwangi terus membangun daerah tidak hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga lewat inovasi pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat berbasis kreativitas.

"Banyuwangi kota yang cerdas bukan hanya fokus infrastruktur saja tetapi bagaimana kita melakukan inovasi untuk melakukan peningkatan pelayanan serta memperdayakan bagi masyarakat," katanya.

Ia menegaskan, BEC telah menjadi media untuk menghidupkan kembali sejarah Banyuwangi melalui pendekatan yang dekat dengan generasi muda.

"Melalui BEC sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku tetapi dihidupkan kembali melalui kostum, gerak, musik, narasi dan kreativitas anak muda. Inilah cara Banyuwangi mewariskannya, tidak hanya dikenang tetapi untuk dipahami, dibanggakan dan dilanjutkan," tutur Ipuk.

Lebih dari 100 Ribu Penonton, 900 Orang Terlibat

Ipuk mengungkapkan, BEC 2026 kembali menunjukkan daya tariknya sebagai salah satu agenda unggulan nasional. Tahun ini, jumlah penonton yang memadati kawasan parade menembus 100 ribu orang.

"Lebih dari 100 ribu penonton yang memadati venue BEC. Angka tersebut menunjukkan magnet pariwisata maka mari kita terus kuatkan dengan inovasi," ungkapnya.

Kesuksesan tersebut, lanjut Ipuk, lahir dari kerja bersama berbagai pihak. Sedikitnya 900 orang terlibat langsung, mulai dari talent, seniman, desainer, kru produksi, relawan, hingga unsur pendukung lainnya.

"Keberhasilan yang dihasilkan BEC tentu tidak lahir begitu saja. Untuk tahun ini lebih dari 900 orang terlibat langsung dalam penyelenggaraan BEC baik dari talent, seniman, desainer, kru produksi, relawan hingga yang lainnya. Ini adalah bentuk dari tandang bareng," katanya.

Kemendagri: Banyuwangi Punya Identitas Budaya yang Menggerakkan Masa Depan

Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal Zakaria Ali, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi Banyuwangi menjadikan budaya sebagai penggerak pembangunan daerah.

"Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan Banyuwangi sambil tersenyum. Tidak banyak daerah yang diberikan kombinasi dengan karunia Tuhan dan kemauan bekerja keras, kreatif sekaligus terpadu," ujarnya.

Safrizal mengaku telah memimpin sejumlah daerah di Indonesia, namun belum menemukan daerah dengan kalender event sebanyak Banyuwangi.

"Saya pernah jadi gubernur di Kalimantan Selatan, Kepulauan Bangka Belitung dan Aceh. Bahkan tingkat provinsi tidak bisa menyaingi jumlah event di Banyuwangi. Apresiasi yang besar sekali," tuturnya.

Menurutnya, BEC membuktikan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi telah berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan identitas daerah.

"BEC menegaskan bahwa budaya bukan hanya sekadar warisan yang dikenang tetapi energi yang terus menggerakkan masa depan," katanya.

Safrizal menilai keberhasilan Banyuwangi layak disejajarkan dengan kota-kota dunia yang mampu maju berkat identitas budayanya.

"Sejarah menunjukkan bukan yang paling modern tetapi yang memiliki identitas yang akan maju, seperti Kyoto di Jepang dengan budaya kunonya, Barcelona dengan semangat kreativitasnya, dan Indonesia punya Banyuwangi yang menunjukkan identitas budaya yang terus berjalan dengan kemajuannya," pungkasnya. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
BEC 2026 juara BEC wisata budaya Ipuk Fiestiandani banyuwangi