Banyuwangi Ethno Carnival Perkuat Citra Daerah, Tradisi Osing Jadi Daya Tarik Wisata Dunia

Mayang Dwi Febrianti • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 14:09 WIB
Banyuwangi Ethno Carnival kembali memikat ribuan wisatawan. (Mayang untuk Radar Banyuwangi)
Banyuwangi Ethno Carnival kembali memikat ribuan wisatawan. (Mayang untuk Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menunjukkan konsistensinya dalam mengembangkan pariwisata berbasis budaya melalui penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC). Festival budaya tahunan yang berlangsung meriah di sepanjang jalan protokol Kota Banyuwangi itu berhasil menyedot perhatian ribuan wisatawan sekaligus mempertegas transformasi citra Banyuwangi menjadi destinasi budaya berkelas internasional.

Perhelatan yang digelar pada Sabtu lalu tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Banyuwangi bersama jajaran Kementerian Pariwisata. Ratusan peserta tampil memukau mengenakan busana etnik modern yang terinspirasi dari kekayaan tradisi Suku Osing, seperti ritual Seblang, Kebo-keboan, hingga tari Gandrung. Seluruh pertunjukan dikemas secara teatrikal dengan sentuhan seni kontemporer tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

BEC menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam membangun identitas daerah melalui sektor pariwisata budaya. Upaya tersebut dinilai berhasil mengubah persepsi masyarakat terhadap Banyuwangi yang pada masa lalu sempat dikenal dengan stigma mistis akibat peristiwa kelam yang terjadi pada 1998.

Selama lebih dari satu dekade, berbagai festival budaya digelar secara konsisten sebagai media pelestarian tradisi sekaligus promosi daerah. Langkah itu perlahan menggeser narasi negatif menjadi citra Banyuwangi sebagai daerah yang kreatif, aman, dan kaya warisan budaya.

Keberhasilan transformasi tersebut tidak terlepas dari keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Ribuan anak muda, seniman lokal, budayawan, hingga komunitas desa adat aktif berkolaborasi menghidupkan kembali tradisi leluhur dalam kemasan yang relevan dengan perkembangan zaman.

Melalui pendekatan tersebut, budaya lokal tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Banyuwangi pun semakin dikenal sebagai salah satu daerah yang berhasil menjadikan budaya sebagai kekuatan utama pembangunan sektor pariwisata.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang rute parade sejauh sekitar 2,5 kilometer yang dipadati warga dan wisatawan. Mereka memadati sisi jalan sejak sebelum acara dimulai untuk menyaksikan atraksi budaya yang menjadi agenda tahunan tersebut.

Maya, 40, warga Kecamatan Glagah, mengaku bangga melihat perubahan wajah Banyuwangi dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, festival budaya telah mengubah cara pandang masyarakat luar terhadap daerahnya.

"Kami yang tinggal di sini sangat bersyukur melihat Banyuwangi sekarang. Dulu citra daerah ini memang lekat dengan hal-hal mistis, tetapi sekarang lewat festival seperti ini, orang-orang datang ke sini murni untuk mengagumi keindahan adat dan budaya kami. Sebagai warga asli, melihat tradisi leluhur diapresiasi semeriah ini membuat kami sangat bangga," ujarnya.

Selain memperkuat identitas budaya, penyelenggaraan BEC juga memberikan dampak ekonomi yang dirasakan langsung masyarakat. Tingkat hunian hotel meningkat selama pekan festival berlangsung. Pelaku UMKM kuliner, perajin batik, hingga sektor jasa pariwisata turut menikmati lonjakan permintaan dari wisatawan yang datang ke Banyuwangi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Banyuwangi Ethno Carnival