Wisman Ikut Parade BEC 2026, Terpukau Filosofi Perang Bayu dan Budaya Banyuwangi

Sigit Hariyadi • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 03:30 WIB
LINTAS BENUA: Wisman asal berbagai negara ikut parade menyusuri rute BEC 2026 Sabtu (18/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
LINTAS BENUA: Wisman asal berbagai negara ikut parade menyusuri rute BEC 2026 Sabtu (18/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 kembali membuktikan diri sebagai panggung budaya bertaraf internasional. Tak hanya disaksikan wisatawan mancanegara, puluhan turis dari berbagai negara bahkan turun langsung menjadi peserta parade budaya yang digelar Sabtu (18/7), menghadirkan kolaborasi lintas bangsa dalam balutan kekayaan tradisi Banyuwangi.

Wisatawan asal Belgia, Inggris, Amerika Serikat, Swedia, Pakistan, sejumlah negara di Afrika, hingga negara lainnya berjalan bersama ratusan talent lokal sepanjang rute karnaval sekitar dua kilometer, dari Taman Blambangan hingga Jalan Ahmad Yani. Kehadiran mereka menjadikan BEC bukan sekadar festival etnik, melainkan ruang perjumpaan budaya yang mempertemukan masyarakat Banyuwangi dengan dunia.

Para wisatawan mengenakan kostum spektakuler yang terinspirasi dari Perang Bayu, kisah heroik perjuangan masyarakat Banyuwangi melawan penjajahan Belanda pada abad ke-18. Sebelum tampil, mereka juga diperkenalkan pada makna filosofis yang terkandung dalam setiap rancangan kostum, sehingga tidak hanya menjadi bagian dari parade, tetapi juga memahami nilai sejarah yang diusung.

Jerome, wisatawan asal Belgia, mengaku tidak menyangka kunjungan pertamanya ke Indonesia bertepatan dengan penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival.

MENYAPA PENONTON: Wisman asal Afrika turun meramaikan BEC 2026. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
MENYAPA PENONTON: Wisman asal Afrika turun meramaikan BEC 2026. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Baginya, kesempatan tampil bersama masyarakat Banyuwangi menjadi pengalaman yang sangat berkesan.

"Saya sangat excited. Ini pertama kali saya ke Indonesia, pertama kali juga ke Banyuwangi dan bertepatan dengan digelarnya event BEC. Saya merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dari agenda akbar masyarakat Banyuwangi ini," ujarnya.

Kesan serupa disampaikan Murad, wisatawan asal Pakistan. Pemuda berusia 21 tahun itu menyebut keterlibatannya sebagai peserta BEC 2026 menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dilupakannya.

Sementara itu, Melissa Curtis dari Inggris mengaku semakin mengagumi budaya Banyuwangi setelah mengetahui filosofi di balik kostum yang dikenakannya.

"Amazing experience. Pakaian yang saya kenakan ini ternyata sarat filosofi," ungkap Melissa.

Tak hanya peserta, wisatawan yang menyaksikan parade dari tepi jalan juga dibuat terpukau. Cynthia, turis asal Belanda, mengaku terkesan dengan kreativitas para talent dalam mengemas sejarah Banyuwangi menjadi pertunjukan yang atraktif dan memukau.

Menurutnya, perpaduan seni, sejarah, dan budaya yang ditampilkan dalam setiap kostum menjadikan BEC berbeda dari festival budaya yang pernah ia saksikan di negara lain.

"Amazing, sangat kagum dengan kostumnya yang megah. Yang paling menarik adalah history yang diangkat pada pertunjukkan ini, semuanya bagus dan indah. Saya juga bahagia, orang-orang di sini ramah, suatu saat saya akan ke sini (Banyuwangi) lagi," katanya.

BEC 2026 sendiri berlangsung semarak sejak siang hingga sore hari. Ribuan warga memadati sepanjang rute parade untuk menyaksikan kemegahan karnaval yang telah memasuki penyelenggaraan ke-14 tersebut.

Meski parade baru dimulai pukul 13.00 WIB, banyak penonton telah datang sejak pagi demi mendapatkan posisi terbaik. Mereka rela bertahan di bawah terik matahari untuk menyaksikan ratusan talent menampilkan kostum-kostum etnik yang memadukan unsur seni, sejarah, dan budaya Banyuwangi.

Mengusung tema Perang Bayu, BEC 2026 tidak hanya menghadirkan tontonan visual yang memikat, tetapi juga memperkenalkan salah satu tonggak penting sejarah Banyuwangi kepada masyarakat dunia. Keterlibatan wisatawan mancanegara sebagai peserta mempertegas posisi BEC sebagai festival budaya yang mampu membangun dialog lintas budaya sekaligus memperkuat citra Banyuwangi sebagai destinasi wisata berkelas internasional. (*)

Editor : Ali Sodiqin
budaya banyuwangi Perang Bayu BEC 2026 Banyuwangi Ethno wisatawan asing