RADARBANYUWANGI.ID - Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 kembali hadir dengan konsep yang berbeda. Tidak sekadar menjadi panggung parade kostum artistik, ajang tahunan kebanggaan masyarakat Banyuwangi ini mengajak publik menelusuri kembali salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Blambangan, yakni Perang Bayu.
Memasuki penyelenggaraan ke-13, BEC 2026 mengusung tema "Perang Bayu – The Great War of Blambangan". Tema tersebut mengangkat kisah perjuangan rakyat Blambangan melawan VOC pada 1771–1772 melalui pertunjukan seni visual di sepanjang jalur parade sekitar dua kilometer.
Konsep itu menjadikan ruas jalan protokol Banyuwangi layaknya museum terbuka. Ribuan penonton tidak hanya menikmati kemegahan kostum, tetapi juga diajak memahami perjalanan sejarah yang menjadi bagian penting identitas daerah.
Narasi Perang Bayu diterjemahkan ke dalam lima fragmen utama yang menjadi inspirasi para desainer dalam menciptakan kostum.
Fragmen pertama bertajuk Pejuang Blambangan, menampilkan sosok-sosok sentral seperti Rempeg Jogopati dan Sayu Wiwit. Karakter kepemimpinan, keberanian, serta semangat perjuangan diwujudkan melalui rancangan kostum yang tegas dan berwibawa.
Fragmen kedua, Genderang Perang, menghadirkan visualisasi persenjataan tradisional yang digunakan masyarakat Blambangan, mulai dari keris, tombak hingga jemparing atau panah. Unsur tersebut diwujudkan melalui detail artistik dengan struktur kostum yang megah.
Sementara itu, fragmen VOC dan Sekutu menggambarkan sisi antagonis dalam perjalanan sejarah. Inspirasi prajurit kompeni serta simbol-simbol kekuasaan kolonial dihadirkan melalui permainan warna dan desain yang kontras sehingga memperkuat dramatika parade.
Fragmen berikutnya, Situs Perang, mengangkat lokasi-lokasi bersejarah yang menjadi saksi pertempuran, seperti Rowo Bayu, Teluk Pang-pang, dan Pelabuhan Grajagan. Lanskap geografis tersebut diterjemahkan ke dalam elemen visual yang memperkaya makna setiap kostum.
Adapun fragmen Hasil Bumi menampilkan kekayaan alam Blambangan berupa rempah-rempah dan hasil perkebunan. Kekayaan inilah yang menjadi salah satu alasan utama bangsa kolonial berupaya menguasai wilayah tersebut.
Dalam catatan sejarah, Perang Bayu dikenal sebagai salah satu peperangan yang memberikan kerugian besar bagi VOC, baik dari sisi militer maupun finansial. Peristiwa itu juga menjadi bagian penting yang melatarbelakangi lahirnya hari jadi Kabupaten Banyuwangi.
BEC selama ini dikenal tidak hanya mengedepankan kemegahan visual, tetapi juga menjaga akurasi budaya dan sejarah. Para desainer dituntut melakukan riset mendalam agar setiap detail kostum mampu merepresentasikan narasi yang diangkat tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal.
Konsistensi tersebut menjadi salah satu alasan BEC rutin masuk dalam jajaran Karisma Event Nusantara (KEN) sebagai agenda budaya nasional yang memperkuat promosi pariwisata berbasis kearifan lokal.
Di sisi lain, penyelenggaraan BEC juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Menjelang puncak acara, jumlah wisatawan yang datang ke Banyuwangi meningkat, mendorong tingkat hunian hotel, menggairahkan sektor kuliner, serta meningkatkan penjualan produk UMKM, termasuk di kawasan Sekarkijang Creative Fest.
Editor : Lugas Rumpakaadi