Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pelukan di Bahu Jalan

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Sabtu, 18 Juli 2026 | 05:30 WIB
Oleh: Heru Mawata
Oleh: Heru Mawata

RADAR BANYUWANGI - Larasati sudah hafal suara bus ayahnya. Ada yang sangat khas pada gelegar knalpotnya. Mungkin juga suara spesial itu sengaja dihadirkan si sopir bus untuk menandai kehadirannya.

Larasati tidak hafal plat nomor bus ayahnya, tetapi sudah sangat hafal kebiasaan ayahnya. Setiap kali bus besar berwarna biru tua itu melambat di bahu jalan dekat Prambanan, ayahnya akan turun sebentar, memeluknya, lalu kembali pergi.

Beberapa menit saja, tetapi bagi Larasati, beberapa saat yang cepat berlalu itu seperti pulang.

*

Pagi itu halaman parkir di depan gedung rektorat Universitas Guyub Rukun (UGR) ramai oleh koper kecil, tas tangan, dan suara ibu-ibu Dharma Wanita yang saling menyapa. Sebuah bus pariwisata besar berwarna biru tua menunggu dengan mesin yang sesekali meraung pelan.

Bus besar itu akhirnya berangkat hampir dua jam lebih lambat dari jadwal awal. Ada urusan administrasi rombongan yang harus diselesaikan lebih dahulu di kampus.

Begitu meninggalkan Kampus UGR Yogyakarta menuju arah Solo, suasana di dalam bus segera riuh. Cerita tentang anak, cucu, rencana belanja oleh-oleh, sampai tempat makan yang katanya terkenal di Bali bersahutan di antara kursi-kursi.

Menjelang ruas jalan sebelum tol Prambanan–Solo, kecepatan bus tiba-tiba melambat.

Bus kemudian menepi. Beberapa penumpang saling berpandangan. Pemandu wisata berdiri sambil tersenyum.

“Mohon izin beberapa menit, Ibu-ibu. Pak sopir ada urusan pribadi sebentar.”

Tak ada yang keberatan.

Dari balik kaca depan, ibu-ibu melihat seorang gadis kecil berdiri di pinggir jalan. Usianya sekitar dua belas tahun. Ia mengenakan rok sekolah yang warnanya mulai pudar.

Begitu pintu bus terbuka, sopir turun dengan langkah cepat. Namanya Pak Narima. Gadis kecil itu langsung berlari. Mereka bertemu di bahu jalan.

Narima memeluknya erat, mengangkat tubuh kecil itu sebentar, lalu menurunkannya kembali. Dari tas kecilnya ia mengeluarkan bungkusan makanan dan plastik yang tampaknya berisi obat-obatan. Setelah itu ia membuka dompet dan menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan anak itu.

Percakapan mereka sangat singkat. Narima mengusap kepala anaknya. Gadis kecil itu melambaikan tangan ceria ke arah bus, lalu berjalan masuk ke sebuah gang kecil. Bus pun kembali bergerak.

Beberapa menit kemudian seorang ibu di barisan depan bertanya pelan.

“Pak, itu tadi siapa?”

Narima menjawab melalui mikrofon kecil di dekat kemudi.

“Anak saya, Bu. Namanya Larasati.”

Suasana bus mendadak sunyi.

Pemandu wisata kemudian menjelaskan bahwa Narima sudah beberapa hari tidak pulang. Setelah mengantar rombongan wisata sebelumnya, ia hanya sempat beristirahat sebentar di kandang bus sebelum mendapat tugas baru membawa rombongan ini ke Bali.

Seorang ibu bertanya lagi.

“Ibunya di rumah?”

Narima menarik napas pendek.

“Iya, Bu. Sulastri, istri saya masih sakit.”

Beberapa bulan lalu, Sulastri mengalami kecelakaan kerja di pabrik tempat ia bekerja. Mesin produksi menimpa tubuhnya. Setelah dirawat cukup lama di rumah sakit, kakinya tidak lagi pulih sepenuhnya.

Ia kini harus menggunakan kursi roda.

Perusahaan memang menanggung biaya perawatan, tetapi setelah itu pekerjaannya pun dihentikan.

Padahal, sebelumnya Sulastri dikenal rajin dan sering membantu pekerjaan administrasi ketika kantor kekurangan orang.

“Sekarang di rumah saja,” kata Narima pelan. “Kalau saya bekerja, Larasati yang membantu ibunya.”

Bus kembali riuh setelah itu, tetapi sesuatu terasa berubah. Di kursi-kursi belakang, beberapa ibu mulai saling berbisik. Seseorang kemudian menulis pesan di grup WhatsApp rombongan.

Pesan itu singkat: Bagaimana kalau kita bantu keluarga Pak Narima?

Balasan bermunculan. Setuju. Setuju. Setuju.

Tak lama kemudian sebuah amplop mulai beredar dari kursi ke kursi. Tidak ada yang memaksa, tetapi hampir semua memberi.

Selama di Bali, percakapan di grup WhatsApp itu tetap berjalan. Ada yang mengusulkan membeli beras, ada yang menawarkan obat-obatan, ada yang mengingatkan agar bantuan diserahkan dengan cara yang tidak membuat Narima sungkan.

**

Beberapa hari sebelum bus itu berhenti pertama kali, Larasati sudah mendengar dari ibunya bahwa ayahnya mungkin akan lewat.

“Kalau lewat jalan itu, biasanya ayah berhenti sebentar,” kata Sulastri suatu malam.

Larasati mengangguk. Ia sudah hafal kebiasaan itu.

Pagi itu ia berdiri di pinggir jalan cukup lama. Motor dan truk lewat silih berganti. Larasati mulai ragu. Barangkali ayahnya tidak lewat hari ini.

Namun, dari kejauhan muncul bus biru tua yang sangat dikenalnya—bus yang selalu membawa pulang wajah ayahnya meskipun hanya beberapa menit.

Ketika Narima turun dan memeluknya, Larasati merasa seolah waktu berhenti sebentar.

Sebelum naik kembali ke bus, ayahnya selalu mengatakan kalimat  yang sama.

“Jaga Ibu baik-baik, ya.”

Larasati selalu mengangguk. Seolah-olah itu tugas yang sangat besar. Padahal, ia baru dua belas tahun.

***

Enam hari kemudian, bus yang sama kembali melintas di jalan itu. Malam sudah turun.

Ketika bus berhenti dan ibu-ibu turun satu per satu, Narima benar-benar tidak menyangka apa yang akan terjadi.

Mereka mengikuti Larasati masuk ke gang kecil menuju rumahnya.

Rumah itu sederhana. Dindingnya kusam. Halamannya sempit.

Sulastri muncul dari dalam kamar dengan kursi roda. Wajahnya terlihat kaget, bahkan sedikit takut. Narima segera menjelaskan semuanya.

Pelan-pelan suasana berubah. Oleh-oleh diserahkan. Amplop berwarna cokelat diberikan.

Beberapa ibu bahkan menawarkan bantuan: ada yang bersedia membantu mencarikan pekerjaan administrasi jika Sulastri sudah lebih sehat, ada pula yang menawarkan bantuan terapi di tempat praktik anaknya yang seorang dokter.

Ruangan kecil itu dipenuhi air mata. Narima berkali-kali menunduk. Sulastri tidak berhenti mengucapkan terima kasih. Larasati memeluk ibunya dari belakang kursi roda.

****

Beberapa hari setelah rombongan Dharma Wanita UGR kembali ke Yogyakarta, sebuah mobil datang ke rumah kecil itu.

Dari mobil itu turun Ketua dan Sekretaris serta Bendahara Dharma Wanita UGR.

Ia membawa dua kotak berukuran sedang. Satu berisi laptop. Satu lagi printer kecil.

“Supaya Ibu bisa mulai bekerja dari rumah,” kata Ketua Dharma Wanita UGR sambil tersenyum kepada Sulastri.

******

Beberapa bulan kemudian, musim hujan mulai turun. Bus yang dikemudikan Narima kembali melintas di jalan itu.

Bus tidak berhenti. Namun, ketika melewati gang kecil itu, Narima sempat melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum.

Di depan rumah mereka tergantung papan kecil baru.

Jasa Administrasi & Pengetikan

Sulastri

Di teras rumah, Sulastri duduk di kursi roda di depan meja kecil. Laptop terbuka di depannya. Printer kecil berada di samping meja.

Larasati duduk di dekatnya mengerjakan PR.

Narima mengangkat tangan dari balik kemudi dan melambaikan tangan kecil. Dari kejauhan Larasati yang sudah hafal gelegar knalpot bus biru tua melihat ayahnya.

Ia berdiri. Melambaikan tangan tinggi-tinggi.

Ia masih menunggu bus ayahnya seperti dulu, tetapi kini ia tahu sesuatu yang baru: bahwa kadang-kadang, ketika seseorang menunggu dengan sabar, dunia diam-diam ikut berhenti sebentar untuk menolong.

Bus itu terus melaju, dan di sebuah gang kecil dekat Prambanan, sebuah rumah sederhana tetap menyalakan lampu kecil penuh harapan.

 

Yogyakarta, akhir Maret 2026


Heru Marwata (HM) yang menjuluki dirinya “si tahu bulat” (lengkanya jadi STB HM) hanyalah penggemar kata-kata biasa. Semboyannya dalam menulis juga sangat lugas, “menulis dan teruslah menulis karena karya, sekecil apa pun, adalah salah satu penanda nyata keberadaanmu di dunia”.  Seperti iklan “tahu bulat,” HM suka menulis secara cepat, dadakan, dan akibatnya, kualitasnya pun hanya “lima ratusan”.  Si Tahu Bulat HM lahir, besar, dan tinggal di Kota Gudeg Yogyakarta. Sejak lulus sarjana ia mengabdikan diri lewat almamaternya menjadi dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia telah menerbitkan karyanya, baik yang berupa rekaman pengalaman pribadi, prosa, maupun puisi. 

Editor : Ali Sodiqin
Heru Mawata jogjakarta menulis puisi