RADAR BANYUWANGI – Keindahan bawah laut Banyuwangi berpadu dengan jejak sejarah dalam satu panggung megah di Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. PT Sumberyala Samudra Muncar menghadirkan interpretasi artistik bertema "Situs Perang" melalui penampilan talent Alvito Fadhil Musyaffa, yang sukses mencuri perhatian lewat kostum bernuansa biru tua dan perak dengan ornamen ranting karang putih yang dramatis.
Mengenakan nomor peserta 11, Alvito tampil penuh percaya diri di sepanjang lintasan parade. Karyanya tidak hanya memanjakan mata melalui desain kontemporer yang megah, tetapi juga menghadirkan narasi tentang situs-situs bersejarah yang menyimpan memori perjuangan sekaligus kekayaan maritim Banyuwangi.
Dominasi warna biru tua pada kostum melambangkan kedalaman laut yang menjadi bagian penting dari bentang alam Banyuwangi. Sentuhan warna perak menghadirkan kesan elegan sekaligus merepresentasikan jejak sejarah yang tetap berkilau meski telah melewati perjalanan waktu.
Daya tarik utama kostum berada pada ornamen menyerupai ranting karang putih yang menjulang di bagian kepala. Elemen tersebut menghadirkan nuansa magis bawah laut sekaligus menjadi simbol ketangguhan alam yang menyimpan berbagai kisah masa lalu. Perpaduan ornamen laut dengan konsep "Situs Perang" menggambarkan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan di daratan, tetapi juga di kawasan pesisir dan perairan yang menjadi saksi perjalanan panjang Banyuwangi.
Melalui penampilan teatrikalnya, Alvito berhasil membangun suasana yang kuat. Setiap langkah dan gestur yang ditampilkan mempertegas pesan tentang keberanian, memori sejarah, serta pentingnya menjaga warisan budaya dan alam sebagai identitas daerah.
Partisipasi PT Sumberyala Samudra Muncar dalam BEC 2026 menjadi wujud dukungan dunia usaha terhadap pelestarian seni, budaya, dan pariwisata Banyuwangi. Kehadiran perusahaan yang bergerak di sektor kelautan itu juga memperkuat keterkaitan antara identitas maritim Banyuwangi dengan tema besar "Perang Bayu: The Great War of Blambangan" yang diangkat dalam BEC tahun ini.
Owner PT Sumberyala Samudra Muncar, David Wijaya Tjoek, mengatakan keikutsertaan perusahaan bukan sekadar menampilkan kreativitas di panggung karnaval, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sejarah dan kearifan lokal Banyuwangi kepada publik yang lebih luas.
"Keterlibatan ini bukan sekadar ajang unjuk kreativitas, melainkan juga bentuk kontribusi aktif industri lokal dalam mengangkat kearifan serta sejarah Banyuwangi ke panggung internasional," ujarnya.
Melalui kostum bertema "Situs Perang", PT Sumberyala Samudra Muncar membuktikan bahwa seni pertunjukan mampu menjadi media yang efektif untuk menghubungkan sejarah, budaya, dan kekayaan bahari Banyuwangi. Penampilan Alvito Fadhil Musyaffa menjadi simbol bahwa memori masa lalu dapat dihidupkan kembali melalui kreativitas, sekaligus menguatkan citra Banyuwangi sebagai daerah yang kaya akan warisan sejarah dan pesona alam. (*)
Editor : Ali Sodiqin