RADAR BANYUWANGI – Kekayaan alam Banyuwangi tidak hanya menjadi inspirasi karya seni, tetapi juga media kampanye pelestarian lingkungan. Hal itu ditunjukkan Universitas Soekardjo (Unidsoe) dalam Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 melalui kostum bertema "Hasil Bumi" yang dikenakan Raja Artha Dinata, menghadirkan pesan kuat tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan keberlanjutan lingkungan.
Di tengah kemegahan parade budaya bertaraf internasional itu, Raja Artha Dinata tampil memikat dengan kostum bernuansa hijau pekat yang merepresentasikan kesuburan alam Banyuwangi. Penampilannya menjadi simbol penghormatan terhadap hamparan sawah, kebun, dan ladang yang selama ini menjadi denyut kehidupan masyarakat di daerah berjuluk Bumi Blambangan.
Daya tarik utama kostum terletak pada replika ranting pohon yang menjulang di bagian belakang, dipadukan dengan dedaunan lebat, untaian buah kopi, dan beri merah. Seluruh elemen tersebut menggambarkan melimpahnya hasil bumi Banyuwangi sekaligus menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem agar sumber daya alam tetap lestari.
Karya yang ditampilkan tidak sekadar mengedepankan estetika visual. Melalui simbol-simbol alam, Universitas Soekardjo menghadirkan narasi bahwa kemakmuran masyarakat agraris tidak dapat dipisahkan dari kelestarian lingkungan. Pesan itu dikemas dalam bentuk seni pertunjukan sehingga lebih mudah diterima dan menyentuh emosi masyarakat.
Tema "Hasil Bumi" terasa relevan dengan karakter Banyuwangi yang dikenal memiliki potensi pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang melimpah. Kehadiran replika ranting pohon serta hasil panen dalam kostum mengubah panggung BEC menjadi ruang edukasi terbuka mengenai pentingnya menjaga alam sebagai sumber kehidupan.
Keikutsertaan perguruan tinggi dalam mengangkat isu lingkungan melalui karya seni dinilai menjadi langkah strategis untuk membangun kesadaran generasi muda. Alih-alih menyampaikan pesan melalui pendekatan akademik yang formal, Universitas Soekardjo memilih bahasa visual yang lebih komunikatif, kreatif, dan dekat dengan masyarakat.
Rektor Universitas Soekardjo, Dr. H. Soekardjo, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam BEC 2026 merupakan bagian dari komitmen kampus untuk menghadirkan pendidikan yang berdampak langsung bagi masyarakat, termasuk dalam meningkatkan kepedulian terhadap isu lingkungan.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi pusat pengembangan teori, tetapi juga harus mampu menyuarakan nilai-nilai keberlanjutan melalui berbagai medium kreatif yang dapat menggerakkan kesadaran publik.
"Kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading yang melahirkan teori, melainkan harus aktif menyuarakan kesadaran ekologis lewat medium yang kreatif dan menyentuh emosi publik," ujar Soekardjo.
Ia menegaskan, menjaga bumi merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari tindakan nyata generasi muda. Melalui penampilan Raja Artha Dinata di BEC 2026, Universitas Soekardjo ingin menunjukkan bahwa seni, budaya, dan pendidikan dapat berkolaborasi menjadi sarana efektif untuk menanamkan kesadaran menjaga alam sekaligus melestarikan kekayaan hasil bumi Banyuwangi. (*)
Editor : Ali Sodiqin