RADAR BANYUWANGI – Semangat perjuangan rakyat Blambangan diterjemahkan ke dalam pesan yang relevan dengan tantangan masa kini oleh Bank Jatim Cabang Banyuwangi dalam Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. Melalui kostum teatrikal bertajuk "Alat dan Genderang Perang", Bank Jatim tidak hanya menghidupkan kembali simbol heroisme masa lalu, tetapi juga mengajak generasi muda dan pelaku ekonomi untuk terus berjuang, beradaptasi, dan bangkit menghadapi perubahan zaman.
Pesan tersebut dibawakan oleh Hamzah Kusuma Wardana, talent yang mewakili Bank Jatim Banyuwangi. Penampilannya sukses mencuri perhatian ribuan penonton dengan kostum megah yang memadukan simbol-simbol perjuangan Blambangan dan sentuhan inovasi digital dalam satu karya visual yang kuat.
Hamzah tampil mengenakan busana bernuansa merah dan hitam yang merepresentasikan keberanian, keteguhan, serta semangat pantang menyerah para prajurit Blambangan. Penampilannya semakin dramatis dengan hiasan kepala berbentuk figur jaranan (kuda) yang sarat makna, dipadukan dengan replika tombak dan berbagai ornamen perang tradisional yang mempertegas karakter seorang pejuang.
Di balik kemegahan kostum tersebut, terselip sentuhan modern yang menjadi pembeda. Logo layanan digital JConnect milik Bank Jatim dihadirkan secara artistik di antara ornamen tradisional. Perpaduan itu menciptakan harmoni antara pelestarian budaya lokal dan transformasi digital yang kini menjadi bagian dari perkembangan dunia perbankan.
Subtema "Alat dan Genderang Perang" menjadi salah satu representasi penting dalam tema besar "Perang Bayu: The Great War of Blambangan". Genderang perang yang dahulu menjadi penanda dimulainya perlawanan dimaknai kembali sebagai simbol pembangkit semangat untuk menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan teknologi di era modern.
Pemimpin Cabang Bank Jatim Banyuwangi, Ni Gusti Ayu Putu Sri Lestari, mengatakan partisipasi dalam BEC 2026 merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk berkontribusi dalam pelestarian sejarah dan budaya Banyuwangi, sekaligus mendukung tumbuhnya industri kreatif daerah.
Menurutnya, keterlibatan dunia perbankan dalam ajang budaya membuktikan bahwa korporasi tidak hanya berorientasi pada pencapaian bisnis, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dalam menjaga identitas budaya lokal.
"Penampilan Hamzah membuktikan bahwa kolaborasi antara sektor perbankan dan seni budaya mampu melahirkan sebuah narasi edukatif yang kuat sekaligus menghibur masyarakat luas," ujar Ayu.
Melalui karya "Alat dan Genderang Perang", Bank Jatim Banyuwangi menghadirkan interpretasi baru terhadap semangat Perang Bayu. Jika dahulu genderang menjadi aba-aba untuk maju ke medan pertempuran, kini tabuhan itu dimaknai sebagai panggilan untuk terus berinovasi, memperkuat daya saing, dan menjaga optimisme menghadapi dinamika global tanpa meninggalkan akar budaya Banyuwangi. (*)
Editor : Ali Sodiqin