Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Azalea MTsN 3 Banyuwangi Tampil Memukau dengan Busana Biru Laut, Hidupkan Sejarah Teluk Pangpang dan Kapal VOC

Syaifuddin Mahmud • Jumat, 17 Juli 2026 | 18:48 WIB
Siswa MTsN 3 Banyuwangi, Azalea, bawa kisah kapal VOC di Teluk Pangpang ke panggung BEC 2026. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Siswa MTsN 3 Banyuwangi, Azalea, bawa kisah kapal VOC di Teluk Pangpang ke panggung BEC 2026. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Semangat heroisme Perang Bayu kembali bergema di panggung Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian datang dari Azalea Zukhrufulizzah, siswi MTsN 3 Banyuwangi, yang membawakan subtema "Situs Perang" melalui karya bertajuk "Loh Pangpang: Tempat Bersandarnya Kapal-Kapal VOC".

Tampil dengan balutan busana megah bernuansa biru laut, Azalea berhasil menghidupkan kembali kisah strategis Teluk Pangpang dalam sejarah perjuangan rakyat Blambangan melawan VOC pada abad ke-18. Penampilannya menjadi perpaduan harmonis antara seni pertunjukan, sejarah lokal, dan kreativitas generasi muda.

Subtema tersebut merupakan bagian dari tema besar "Perang Bayu: The Great War of Blambangan", yang mengangkat perjuangan heroik masyarakat Blambangan mempertahankan tanah kelahirannya dari ekspansi VOC. Melalui pendekatan visual yang kuat, MTsN 3 Banyuwangi menghadirkan fragmen sejarah dalam kemasan karnaval modern yang mudah dipahami berbagai kalangan.

Kostum yang dikenakan Azalea didominasi warna biru laut sebagai simbol Teluk Pangpang, kawasan pesisir yang memiliki nilai strategis pada masa Perang Bayu. Di bagian belakang kostum menjulang replika kapal-kapal VOC yang dipadukan dengan ornamen ombak, mutiara, dan berbagai elemen maritim.

Rangkaian ornamen tersebut menggambarkan suasana pelabuhan tempat armada VOC berlabuh sebelum melancarkan serangan ke wilayah Blambangan. Visualisasi itu sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa kawasan pesisir Banyuwangi menyimpan jejak penting perjalanan sejarah daerah.

Tak hanya mengandalkan kemegahan kostum, Azalea juga memperkuat penampilannya melalui ekspresi dan gestur teatrikal. Setiap gerakan yang ditampilkan menggambarkan ketegangan suasana peperangan sekaligus semangat pantang menyerah rakyat Banyuwangi dalam mempertahankan tanah leluhur.

Partisipasi Azalea menjadi kebanggaan bagi keluarga besar MTsN 3 Banyuwangi. Penampilannya tidak hanya menunjukkan kemampuan di bidang seni pertunjukan, tetapi juga menjadi media edukasi yang memperkenalkan sejarah lokal kepada masyarakat melalui pendekatan kreatif dan atraktif.

Tidak berhenti pada penampilan talent utama, MTsN 3 Banyuwangi juga ikut memeriahkan pembukaan BEC 2026 dengan mengirimkan sejumlah penari. Keterlibatan tersebut memperlihatkan komitmen madrasah dalam mendukung pelestarian budaya dan sejarah Banyuwangi melalui ajang bertaraf internasional.

Kepala MTsN 3 Banyuwangi, Rosid Tamami, S.Pd., M.Pd., mengatakan keikutsertaan madrasah dalam BEC 2026 merupakan bentuk dukungan terhadap pelestarian seni budaya daerah sekaligus ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat dan karakter.

"Partisipasi ini menjadi kebanggaan bagi keluarga besar MTsN 3 Banyuwangi. Kami ingin peserta didik tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga mampu berkontribusi dalam melestarikan budaya daerah melalui kreativitas dan seni pertunjukan," ujarnya.

Melalui karya bertajuk "Loh Pangpang: Tempat Bersandarnya Kapal-Kapal VOC", MTsN 3 Banyuwangi membuktikan bahwa sejarah tidak hanya dapat dipelajari melalui buku pelajaran, tetapi juga dapat dihidupkan kembali lewat seni pertunjukan yang memikat. Kehadiran Azalea di BEC 2026 menjadi simbol bagaimana generasi muda mampu menjaga memori sejarah sekaligus mengenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada publik yang lebih luas. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Perang Bayu BEC 2026 MTsN 3 Azalea Zukhrufulizzah teluk pangpang