RADAR BANYUWANGI – Kekayaan hasil bumi Banyuwangi menjelma menjadi karya seni yang memukau di panggung Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. Mengusung subtema "Hasil Bumi", SMKN Wongsorejo menghadirkan kostum teatrikal yang memadukan filosofi pertanian, budaya lokal, dan kreativitas generasi muda dalam satu penampilan spektakuler.
Penampilan tersebut dibawakan oleh Muhammad Roudur Royhan yang sukses mencuri perhatian ribuan penonton. Berbeda dari peserta lainnya, Royhan tampil anggun di atas replika cikar, kereta tradisional yang ditarik sapi putih dan menjadi simbol kehidupan masyarakat agraris Banyuwangi sejak masa lampau.
Replika cikar itu menjadi pusat perhatian sepanjang parade. Ornamen kayu, dedaunan hijau, hingga replika aneka hasil pertanian menghiasi seluruh bagian kereta. Sebuah buah labu berukuran besar ditempatkan sebagai ikon utama yang mempertegas tema tentang melimpahnya hasil bumi Blambangan.
Dominasi warna hijau dan cokelat pada kostum merepresentasikan kesuburan tanah pertanian di Kecamatan Wongsorejo, salah satu wilayah penghasil komoditas pertanian di Banyuwangi. Setiap aksesori yang melekat pada busana dirancang untuk menggambarkan kekayaan alam sekaligus kemakmuran yang lahir dari kerja keras para petani.
Tak hanya menghadirkan kemegahan visual, karya tersebut juga membawa pesan mendalam tentang pentingnya menjaga sektor pertanian sebagai identitas daerah. Melalui pendekatan seni pertunjukan, SMKN Wongsorejo mengajak masyarakat melihat hasil bumi bukan sekadar produk ekonomi, melainkan bagian dari warisan budaya yang layak dibanggakan.
Kepala SMKN Wongsorejo, Sehani Asri Miningsih, mengatakan tema yang diangkat merupakan bentuk rasa syukur atas kesuburan tanah Blambangan sekaligus media pembelajaran bagi peserta didik untuk mengeksplorasi potensi daerah melalui karya kreatif.
"Melalui karya ini kami ingin menunjukkan bahwa hasil bumi Banyuwangi bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dapat diangkat menjadi karya seni. Kami berharap peserta didik semakin bangga terhadap potensi daerahnya," ujarnya.
Di balik megahnya penampilan tersebut terdapat kolaborasi tim kreatif yang bekerja secara intensif. Konsep dan desain kostum digarap oleh Bayu Faris Diyanto, Taufiq Hidayat, Ahmad Sarifudin, dan Seta, sementara proses produksi didukung penuh oleh Jurusan Tata Busana SMKN Wongsorejo.
Kolaborasi lintas kompetensi itu menghasilkan karya yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memperkuat identitas Banyuwangi sebagai daerah yang kaya akan budaya sekaligus memiliki potensi pertanian melimpah.
Keikutsertaan SMKN Wongsorejo di BEC 2026 menjadi bukti bahwa dunia pendidikan mampu melahirkan inovasi kreatif berbasis kearifan lokal. Melalui kostum bertema hasil bumi, sekolah berhasil mengubah kekayaan alam menjadi media edukasi yang menginspirasi masyarakat untuk semakin mencintai budaya, pertanian, dan potensi daerahnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin