RADARBANYUWANGI.ID - Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) tidak hanya menjadi agenda pariwisata tahunan, tetapi juga berkembang sebagai panggung seni yang merepresentasikan identitas budaya Banyuwangi. Sejak pertama kali digelar pada 2011, setiap penyelenggaraan BEC selalu menghadirkan tema berbeda yang diangkat dari kekayaan seni, tradisi, sejarah, hingga potensi alam Bumi Blambangan.
Keunikan tersebut menjadikan BEC memiliki karakter yang berbeda dibandingkan karnaval lainnya. Seluruh konsep yang diusung berangkat dari kekayaan lokal, kemudian dikemas dalam balutan kostum artistik, pertunjukan tari, musik, hingga teatrikal yang menarik perhatian wisatawan.
"BEC bukan sekadar karnaval kostum biasa, namun sebuah mahakarya seni berakar kearifan lokal. Ide dan tema yang diangkat setiap tahun diambil dari seni, budaya, tradisi, sejarah hingga potensi alam Banyuwangi. Inilah yang membedakan BEC dengan karnaval lainnya," ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, dikutip dari Kompas Travel, Selasa (7/7/2026).
Perjalanan tema BEC dimulai pada 2011 melalui Ikon Kesenian Banyuwangi yang mengangkat tiga ikon seni daerah, yakni Gandrung, Damarwulan, dan Kundaran dalam balutan kostum kontemporer. Setahun berselang, BEC mengusung tema Re-Barong Using yang mengeksplorasi kekayaan seni Barong khas masyarakat Using.
Memasuki periode 2013 hingga 2017, penyelenggaraan BEC lebih banyak mengangkat ritual adat, legenda rakyat, dan pesona alam Banyuwangi. Beragam tema yang ditampilkan meliputi The Legend of Kebo-keboan Blambangan, The Mystic Dance of Seblang, The Usingnese Royal Wedding, The Legend of Sritanjung Sidopekso, hingga Majestic Ijen yang memperkenalkan fenomena api biru Gunung Ijen kepada masyarakat luas.
Pada 2018 dan 2019, BEC menghadirkan tema Puter Kayun serta The Kingdom of Blambangan. Keduanya mengangkat tradisi leluhur sekaligus kejayaan sejarah Kerajaan Blambangan melalui rancangan kostum megah yang memadukan unsur budaya lokal dengan sentuhan modern.
Penyelenggaraan BEC sempat terhenti pada 2020 dan 2021 akibat pandemi COVID-19. Festival tersebut kembali digelar pada 2022 dengan tema Tamansarine Nusantara: The Magic of Ijen Geopark sebagai bentuk perayaan atas pengakuan kawasan Ijen sebagai UNESCO Global Geopark.
Setahun kemudian, BEC mengangkat tema The Mojo Pawon yang menampilkan kekayaan kuliner dan dapur tradisional Banyuwangi. Sementara pada 2024, tema Ndaru Deso: The Revival of Village menyoroti potensi budaya, ekonomi, serta kearifan lokal desa-desa di Banyuwangi.
Transformasi BEC semakin terlihat dalam dua edisi terakhir. Pada 2025, tema Ngelukat: Tradition Ritual of Usingnese mengangkat filosofi berbagai ritual dalam siklus kehidupan masyarakat Using.
Adapun pada 2026, BEC mengusung tema Perang Bayu: The Great War of Blambangan yang mengisahkan perjuangan rakyat Blambangan melawan VOC di bawah pimpinan Pangeran Jagapati.
Berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, BEC 2026 dikemas dalam konsep sendratari kolosal yang memadukan parade kostum, teatrikal, tari, musik, dan alur cerita sejarah dalam satu pertunjukan utuh.
Perkembangan tersebut menegaskan bahwa Banyuwangi Ethno Carnival terus berinovasi dari tahun ke tahun. Meski menghadirkan konsep yang semakin modern, BEC tetap mempertahankan akar budaya lokal sebagai ruh utama festival yang telah menjadi salah satu ikon pariwisata Banyuwangi.
Editor : Lugas Rumpakaadi