RADARBANYUWANGI.ID - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), festival busana etnik tahunan yang masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN). Tahun ini, BEC mengangkat tema "Perang Bayu - The Great War of Blambangan", menghadirkan pertunjukan seni kolosal sepanjang 2,5 kilometer yang memadukan sejarah, budaya, dan sentuhan modern untuk mendekatkan warisan leluhur kepada generasi muda.
Gelaran tersebut tidak sekadar menjadi parade kostum, tetapi juga menghadirkan transformasi budaya melalui desain busana futuristik, koreografi kontemporer, dan aransemen musik etnik modern. Perpaduan itu menjadikan kisah heroik Perang Bayu tampil lebih atraktif tanpa meninggalkan nilai historis yang menjadi identitas Banyuwangi.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan, Banyuwangi Ethno Carnival merupakan media edukasi budaya yang terus berkembang mengikuti zaman.
"BEC ini karya seni yang berakar dari kearifan lokal. Temanya selalu diambil dari sejarah, budaya, tradisi, sampai potensi alam Banyuwangi. Itu yang membuat BEC punya ciri khas sendiri," ujar Ipuk, dikutip dari suarasurabaya.net.
Menurutnya, pengemasan sejarah dalam format festival kontemporer menjadi strategi untuk mengenalkan budaya lokal kepada kalangan milenial dan Generasi Z. Selain memperkuat identitas daerah, ajang tersebut juga mendorong tumbuhnya sektor ekonomi kreatif berbasis budaya.
Modernisasi tradisi pada penyelenggaraan BEC tahun ini diwujudkan melalui tiga elemen utama, yakni kostum, tari, dan musik.
Dari sisi visual, puluhan kostum megah menampilkan lima subtema perjuangan rakyat Blambangan, mulai dari tokoh Rempeg Jogopati, Sayu Wiwit, hingga visualisasi Situs Perang dan Hasil Bumi. Para desainer lokal mengolah inspirasi busana zirah tradisional dan pakaian adat Osing menjadi kostum karnaval berkonsep futuristik tanpa menghilangkan nilai dan pakem budaya yang melekat.
Di sepanjang rute parade, ratusan talenta muda menampilkan koreografi teatrikal dengan gerak dinamis dan formasi yang terus berubah. Penampilan tersebut menghadirkan kembali kisah Perang Bayu dalam balutan pertunjukan kolosal yang memadukan unsur seni pertunjukan modern dengan narasi sejarah.
Sementara itu, unsur musikal turut menjadi kekuatan utama dalam membangun atmosfer pertunjukan. Instrumen tradisional Banyuwangi seperti angklung caruk dan kendang kempul dipadukan dengan aransemen musik elektronik sehingga menghasilkan komposisi yang lebih segar, enerjik, dan dekat dengan selera generasi muda, namun tetap mempertahankan karakter etnik Banyuwangi.
Sejak pertama kali digelar, Banyuwangi Ethno Carnival terus berkembang dari sebuah karnaval daerah menjadi ruang inkubasi kreativitas bagi generasi muda. Melalui inovasi seni yang berpijak pada akar budaya lokal, BEC tidak hanya menjadi agenda wisata unggulan, tetapi juga sarana pelestarian sejarah dan identitas Banyuwangi yang mampu dikenal di tingkat nasional hingga internasional.
Editor : Lugas Rumpakaadi