RADARBANYUWANGI.ID - Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 siap kembali memukau publik dengan mengusung tema besar "Perang Bayu: The Great War of Blambangan". Tema tersebut menjadi penghormatan sekaligus rekonstruksi kreatif atas salah satu peristiwa paling heroik dalam sejarah Banyuwangi, yakni Perang Puputan Bayu yang terjadi pada 1771.
Melalui pendekatan seni kontemporer, BEC 2026 tidak sekadar menghadirkan parade busana jalanan, tetapi juga menghidupkan kembali semangat perjuangan masyarakat Blambangan dalam mempertahankan tanah kelahirannya. Kisah yang selama ini lebih banyak dikenal melalui catatan sejarah akan diterjemahkan menjadi pertunjukan visual berskala besar di sepanjang jalan protokol Banyuwangi.
Narasi utama karnaval akan membawa penonton menyusuri perjalanan sejarah, mulai dari kemakmuran Blambangan sebelum peperangan hingga keberanian para pejuang lokal yang mempertahankan wilayahnya dari hegemoni penjajah.
Antusiasme masyarakat terhadap tema tersebut mulai terlihat. Rahma, 17, mengaku sudah tidak sabar menyaksikan langsung gelaran BEC 2026.
"Jujur seru banget konsepnya. Bosan kalau karnaval cuma menampilkan fashion biasa. Kalau ada unsur sejarah perang seperti ini rasanya seperti menonton film kolosal secara langsung, tetapi tetap estetik. Saya penasaran seperti apa kostum para pejuangnya nanti. Pasti bakal meriah dan ramai dibahas di media sosial," ujarnya.
Untuk membangun alur cerita yang utuh, BEC 2026 membagi pertunjukan ke dalam lima subtema yang saling berkaitan.
Subtema pertama bertajuk Hasil Bumi mengangkat kemakmuran Tanah Blambangan sebelum pecahnya perang. Kekayaan agraria seperti padi, kopi, kelapa, hingga rempah-rempah akan divisualisasikan melalui kostum bernuansa hijau, cokelat, dan kuning keemasan dengan ornamen vegetatif yang menggambarkan kesuburan alam Banyuwangi. Kemakmuran inilah yang menjadi salah satu faktor yang menarik perhatian bangsa asing untuk menguasai Blambangan.
Selanjutnya, subtema Situs Perang menghadirkan suasana Rowo Bayu sebagai lokasi bersejarah yang menjadi benteng pertahanan terakhir sekaligus saksi bisu puncak Perang Puputan Bayu pada 18 Desember 1771. Kostum akan didominasi warna hijau lumut, kabut, serta elemen rawa yang menghadirkan kesan sakral sekaligus penghormatan terhadap para leluhur yang gugur.
Kontras cerita kemudian muncul melalui subtema VOC yang merepresentasikan kekuatan kolonial Belanda. Rancangan busana mengadaptasi gaya militer Eropa abad ke-18 dengan struktur tegas, topi tricorn, aksen renda emas, serta simbol-simbol monarki yang dipadukan dengan sentuhan etnik Banyuwangi. Kehadiran subtema ini menggambarkan tekanan kolonial yang memicu perlawanan rakyat Blambangan.
Memasuki fase peperangan, subtema Alat Perang dan Genderang Perang menonjolkan berbagai perlengkapan tempur tradisional beserta instrumen tabuh yang dahulu digunakan untuk membakar semangat pasukan. Ornamen logam berwarna emas dan perak, replika keris, tombak, tameng, hingga struktur kostum yang dinamis akan memperkuat nuansa heroik di sepanjang parade.
Puncak pertunjukan akan ditutup melalui subtema Pejuang Blambangan sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh lokal, seperti Rempeg Jogopati dan Sayu Wiwit. Kostum akan memadukan pakaian perang tradisional dengan sayap karnaval berukuran besar yang dihiasi motif batik khas Banyuwangi, melambangkan keberanian serta pengorbanan para pahlawan dalam mempertahankan kedaulatan tanah Blambangan.
Editor : Lugas Rumpakaadi