RADAR BANYUWANGI – Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) tak sekadar menghadirkan parade kostum spektakuler yang memukau ribuan penonton setiap tahunnya. Di balik gemerlap panggung budaya itu, denyut ekonomi masyarakat ikut bergerak. Bahkan, sejak tahap latihan, para pelaku usaha mikro sudah mulai merasakan berkah dari tingginya antusiasme warga.
Fenomena itu terlihat saat latihan koreografi massal Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 digelar di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Rejoagung, Kecamatan Srono, Sabtu (11/7/2026). Ratusan peserta mematangkan gerakan menjelang pertunjukan utama, sementara ribuan warga berdatangan untuk menyaksikan proses kreatif tersebut.
Keramaian itu tidak hanya menjadi penyemangat para peserta. Kehadiran masyarakat juga menciptakan peluang ekonomi bagi para pedagang kaki lima dan pelaku UMKM yang berjualan di sekitar lokasi.
Latihan BEC 2026 Bikin Kawasan RTH Rejoagung Dipadati Warga
Sejak pagi, kawasan RTH Rejoagung dipenuhi masyarakat yang ingin melihat langsung latihan para peserta BEC. Mereka menyaksikan persiapan koreografi yang menjadi tahapan penting sebelum parade budaya digelar di pusat Kota Banyuwangi.
Ramainya pengunjung membuat lapak-lapak pedagang makanan dan minuman diserbu pembeli. Momentum tersebut menjadi kesempatan emas bagi pelaku usaha kecil untuk meningkatkan pendapatan dalam waktu singkat.
Bagi sebagian pedagang, keramaian latihan BEC bahkan setara dengan suasana saat berlangsungnya acara besar atau hari libur.
Pedagang Cimol Akui Dagangan Cepat Habis
Salah satu pedagang yang merasakan dampak positif adalah Santoso, warga Desa Rejoagung yang sehari-hari berjualan cimol dan aneka camilan keliling.
Ia mengaku omzet penjualannya meningkat drastis selama latihan berlangsung.
"Saya sangat bersyukur dengan adanya kegiatan latihan di sini, dagangan saya yang terjual sangat lumayan," ujar Santoso.
Pria yang telah sekitar 20 tahun berjualan di lingkungan sekolah, kawasan RTH Bagorejo, dan sejumlah titik lainnya itu mengatakan, biasanya ia harus berkeliling dari satu lokasi ke lokasi lain untuk menghabiskan dagangannya.
Namun kali ini situasinya berbeda.
"Saya biasanya jualan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, tapi hari ini saya jualan di sini belum lama udah habis. Semoga selalu ada kegiatan seperti ini di desa kami," katanya.
Menurut Santoso, kegiatan berskala besar seperti latihan BEC mampu menghadirkan efek ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat kecil tanpa harus menunggu hari pelaksanaan utama.
BEC 2026 Angkat Kisah Heroik Perang Bayu
Selain memberikan dampak ekonomi, Banyuwangi Ethno Carnival tahun ini juga mengusung tema yang sarat nilai sejarah.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memilih tema "Perang Bayu, The Great War of Blambangan", yang mengangkat perjuangan heroik masyarakat Blambangan melawan kongsi dagang Belanda (VOC) pada periode 1771–1772.
Melalui balutan kostum artistik, tata rias, koreografi kolosal, serta pertunjukan teatrikal, kisah perjuangan rakyat Blambangan akan dihadirkan kembali dalam format festival budaya kontemporer.
Tema tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tontonan yang memikat wisatawan, tetapi juga menjadi media edukasi sejarah sekaligus menumbuhkan semangat nasionalisme bagi generasi muda.
BEC Jadi Penggerak Pariwisata Sekaligus Ekonomi Kerakyatan
Banyuwangi Ethno Carnival selama ini dikenal sebagai salah satu agenda unggulan pariwisata daerah yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Namun, manfaatnya tidak berhenti pada sektor pariwisata. Aktivitas persiapan, latihan, hingga pelaksanaan acara terbukti menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian lokal.
Mulai dari pedagang kaki lima, pelaku UMKM, penyedia jasa, hingga sektor transportasi dan kuliner ikut menikmati meningkatnya aktivitas masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa festival budaya bukan hanya menjadi panggung pelestarian tradisi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan yang memberikan manfaat langsung bagi warga Banyuwangi. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : banyuwangitourism.com