Kabupaten Banyuwangi tidak hanya dikenal sebagai daerah tujuan wisata dan pusat kebudayaan Osing. Di balik kekayaan alam dan budayanya, wilayah paling timur Pulau Jawa ini juga menyimpan jejak penting kehidupan manusia prasejarah yang memperkaya khazanah sejarah Indonesia.
Sejumlah penelitian arkeologi menunjukkan bahwa Banyuwangi telah dihuni manusia sejak masa Neolitik atau Zaman Batu Baru, sekitar 4.000–2.500 tahun lalu. Temuan tersebut menempatkan Banyuwangi sebagai salah satu kawasan penting dalam kajian prasejarah di Indonesia karena memberikan gambaran mengenai perkembangan awal kehidupan manusia yang mulai hidup menetap.
Salah satu lokasi yang menjadi pusat perhatian para peneliti adalah Situs Kendenglembu di Kecamatan Glenmore. Situs ini memiliki dua lapisan budaya yang menunjukkan perjalanan panjang peradaban di kawasan tersebut.
Pada lapisan bagian atas atau lapisan sejarah, para arkeolog menemukan berbagai peninggalan dari masa Majapahit, seperti mata uang kepeng, pecahan gerabah, fragmen bata, serta porselen. Sementara itu, lapisan bawah yang berasal dari masa Neolitik menghasilkan beragam artefak berupa beliung persegi, calon beliung, alat serpih, batu asah, batu pelandas, sejumlah tatal dan serpih, kreweng polos berwarna merah, hingga fragmen tembikar poles merah.
Keberadaan artefak tersebut menjadi bukti bahwa kawasan Kendenglembu telah dihuni manusia dalam kurun waktu yang berbeda, sekaligus memperlihatkan kesinambungan pemanfaatan wilayah tersebut sejak masa prasejarah hingga periode sejarah.
Yang tidak kalah menarik, sejumlah penelitian menyebut Situs Kendenglembu diduga menjadi salah satu pusat awal kehidupan bercocok tanam di Pulau Jawa. Para arkeolog menemukan indikasi adanya kawasan permukiman yang disertai area perbengkelan alat batu.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah di Banyuwangi tidak sekadar singgah atau hidup berpindah-pindah. Mereka telah membangun komunitas yang lebih terorganisasi, memproduksi peralatan sendiri, dan mulai menerapkan pola hidup menetap yang menjadi salah satu ciri penting perkembangan peradaban manusia.
Keberadaan situs ini juga memperkuat pemahaman mengenai proses transisi masyarakat dari kehidupan nomaden menuju kehidupan menetap di wilayah Nusantara.
Selain Kendenglembu, jejak kehidupan prasejarah juga ditemukan di sejumlah kawasan lain di Banyuwangi. Beberapa situs gua yang berada di Kecamatan Songgon, Wongsorejo, dan Kalipuro turut menjadi indikasi bahwa persebaran hunian manusia prasejarah di Banyuwangi cukup luas.
Meski belum diteliti secara intensif seperti Situs Kendenglembu, keberadaan situs-situs tersebut menunjukkan bahwa wilayah Banyuwangi memiliki potensi arkeologi yang besar. Kondisi geografis yang didukung ketersediaan sumber air, kawasan hutan, serta kedekatan dengan wilayah pesisir diduga menjadi faktor yang menjadikan daerah ini ideal sebagai tempat tinggal manusia pada masa lampau.
Berdasarkan hasil kajian, manusia prasejarah yang menghuni Banyuwangi diperkirakan merupakan bagian dari migrasi penutur Austronesia yang menyebar ke berbagai wilayah Nusantara. Mereka telah menjalani kehidupan menetap dan meninggalkan berbagai peralatan yang mencerminkan kemampuan teknologi pada zamannya.
Berbagai artefak seperti beliung persegi, batu asah, batu giling, batu pelandas, alat serpih, hingga pecahan tembikar berwarna merah menunjukkan bahwa masyarakat saat itu telah menguasai teknik pengolahan batu, mendukung aktivitas pertanian, serta menjalankan berbagai kegiatan domestik dalam kehidupan sehari-hari.
Editor : Lugas Rumpakaadi