RADAR BANYUWANGI – Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) telah menjelma menjadi ikon pariwisata sekaligus etalase budaya Kabupaten Banyuwangi. Digelar rutin setiap tahun sejak 2011, karnaval ini menghadirkan parade kostum spektakuler yang menggabungkan kekayaan tradisi lokal dengan sentuhan fesyen modern. Tak hanya memikat ribuan wisatawan domestik, BEC juga sukses membawa identitas budaya Banyuwangi dikenal hingga tingkat internasional.
Memasuki penyelenggaraan ke-13 pada 2026, Banyuwangi Ethno Carnival kembali menjadi salah satu agenda unggulan dalam kalender pariwisata daerah. Tahun ini, BEC mengusung tema Perang Bayu, yang mengangkat kisah heroik perjuangan masyarakat Blambangan melawan kolonial Belanda pada abad ke-18.
Berawal dari Gagasan Mengangkat Budaya Banyuwangi
Banyuwangi Ethno Carnival pertama kali digelar pada 2011 atas inisiatif Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebagai strategi memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya.
Dalam penyusunan konsep awal, Pemkab Banyuwangi menggandeng desainer nasional almarhum Dynand Fariz, yang dikenal sebagai pendiri Jember Fashion Carnaval (JFC). Kolaborasi tersebut melahirkan sebuah konsep karnaval yang berbeda dari festival budaya pada umumnya.
BEC memadukan parade fesyen bertaraf internasional dengan kekayaan budaya Osing, legenda rakyat, ritual adat, sejarah, hingga keindahan alam Banyuwangi. Sejak awal, festival ini dirancang agar budaya lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga mampu tampil sebagai daya tarik wisata kelas dunia.
Pada tahun-tahun pertama penyelenggaraannya, BEC mendapat pendampingan dari manajemen Jember Fashion Carnaval. Seiring berkembangnya kapasitas sumber daya lokal, pengelolaan kemudian dilakukan secara mandiri oleh Pemkab Banyuwangi bersama para budayawan, komunitas seni, dan masyarakat.
Selalu Mengusung Tema Berbeda
Salah satu ciri khas Banyuwangi Ethno Carnival adalah tema yang selalu berganti setiap tahun.
Inspirasi tema diambil dari berbagai kekayaan budaya Banyuwangi, mulai legenda rakyat, ritual adat, tarian tradisional, kesenian, hingga sejarah perjuangan masyarakat Blambangan.
Pendekatan tersebut membuat setiap penyelenggaraan BEC menghadirkan pengalaman visual yang berbeda sekaligus menjadi media edukasi budaya bagi masyarakat dan wisatawan.
Lima Daya Tarik Banyuwangi Ethno Carnival
Keberhasilan BEC menarik perhatian wisatawan tidak lepas dari konsep yang memadukan seni, budaya, kreativitas, dan hiburan dalam satu panggung besar.
1. Budaya Lokal Menjadi Bintang Utama
BEC secara konsisten menjadikan budaya Banyuwangi sebagai inspirasi utama. Tradisi, cerita rakyat, hingga filosofi kehidupan masyarakat Osing diterjemahkan dalam bentuk pertunjukan visual yang modern tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal.
2. Kostum Artistik Bernuansa Etnik
Peserta tampil menggunakan kostum megah hasil kreasi desainer lokal yang memadukan ornamen tradisional dengan teknik desain kontemporer. Setiap kostum tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan makna filosofis sesuai tema yang diangkat.
3. Pertunjukan Seni yang Beragam
Selain parade kostum, pengunjung juga disuguhi berbagai atraksi pendukung seperti tari kolosal, musik tradisional, pertunjukan budaya, hingga pameran produk UMKM dan kuliner khas Banyuwangi.
4. Koreografi yang Memukau
Peserta tidak sekadar berjalan di lintasan karnaval. Mereka menampilkan koreografi, teatrikal, serta ekspresi artistik yang memperkuat narasi budaya di balik setiap kostum.
5. Ruang Berkarya bagi Talenta Lokal
BEC menjadi panggung bagi para pelajar, komunitas kreatif, seniman, hingga desainer muda Banyuwangi untuk menunjukkan kemampuan di bidang seni pertunjukan, desain kostum, dan kreativitas visual.
Masuk Top 10 Karisma Event Nusantara
Konsistensi penyelenggaraan membuat Banyuwangi Ethno Carnival mendapat pengakuan di tingkat nasional.
BEC kembali masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) yang disusun Kementerian Pariwisata. Bahkan, selama empat tahun berturut-turut festival ini berhasil masuk dalam jajaran Top 10 KEN, sebuah penghargaan bergengsi bagi event pariwisata terbaik di Indonesia.
Penilaian tersebut didasarkan pada kualitas penyelenggaraan, konsistensi pelaksanaan, kemampuan mengangkat budaya lokal, keterlibatan masyarakat, hingga dampaknya terhadap sektor ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.
BEC Jadi Motor Promosi Pariwisata Banyuwangi
Lebih dari sekadar festival tahunan, Banyuwangi Ethno Carnival telah menjadi strategi promosi daerah yang efektif. Ribuan wisatawan datang setiap tahun untuk menyaksikan parade budaya tersebut, sekaligus menikmati destinasi wisata, kuliner, hingga produk UMKM Banyuwangi.
Dengan konsep yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar budaya, BEC menjadi contoh bagaimana tradisi lokal dapat dikemas menjadi atraksi berkelas internasional. Festival ini tidak hanya memperkuat identitas Banyuwangi sebagai kota budaya, tetapi juga membuktikan bahwa warisan leluhur mampu menjadi kekuatan ekonomi kreatif dan pariwisata yang berkelanjutan. (*)
Editor : Ali Sodiqin