Lelaki Pencipta Misteri
Lagi, di pagi ini. Saat membuka ponsel, kulihat di bawah namanya yaitu “Lelaki Pagi”, tertera tanda online. Semula aku berharap, dia hendak bercakap-cakap atau paling tidak mengirim ucap. Tapi yang ada hanya senyap dan tak lama malahan lenyap.
Beberapa hari ini aku seperti gila; serasa kehilangan jiwa. Setiap kubuka ponsel, aku mengharap kata-kata darinya tapi yang ada hanya jengkel. Meski ada petunjuk dia tidak sibuk dan sedang membuka gawainya, pesan yang kutunggu tak kunjung bertamu. Salahku juga, aku pernah meminta kepadanya untuk tidak berkirim pesan lewat WA. Waktu itu, aku kirim pesan: "Maaf ya Mas, aku gak mau ribut lagi. Capek".
Aku memang merasa lelah jika harus terus berbalah, terlebih ihwal adat kami yang berbeda, khususnya soal harta atau dana. Sayangnya, aku memang sungguh mencintainya. Cinta yang menurutku amat tulus tapi mungkin juga berlagu sampai aku ingin menentang keluargaku. Benih rasa sukaku di masa sekolah dulu, bersemai lagi. Dan ketakterdugaan mempertemukan kami, di suatu reuni.
Harusnya kami bisa menentukan yang terbaik atau ternyaman soal rencana pernikahan. Namun, mengambil keputusan dengan sejumlah kondisi ikutan, tak semudah mengatakan. Belum lagi berbagai pengalaman yang pernah kami tempuh, menjadi kendala yang tak mudah luruh. Itu sebabnya, aku ingin membangun lagi komunikasi. Hanya, masih juga kupelihara gengsi. Aku tak mau yang memulai.
Makanya aku sungguh menunggu kiriman rindunya. Yang senantiasa mengada, sia-sia. Hanya seperti terus saja ada isyarat ia tengah mengetik pesan kepadaku, tapi di ruang layar gawaiku tetap lengang. Kata-kata yang kuharap tak kunjung datang.
Adakah ini yang namanya karma? Aku suka menduga ia tengah mempermainkan rasa. Dan berhasil; sebab aku lalu seperti merasa ada yang ganjil dan tersesat pusaran ketakjelasan.
Setiap mengingat kemungkinan ada "permainan" ini, aku jadi jatuh dalam ingatan. Tapi tidak benar juga kalau dulu aku suka mempermainkan teman. Tentu, "teman" di sini adalah para lelaki yang silih berganti mendekatiku. Aku pun sebenarnya tak paham, mengapa banyak teman sekolah dan kuliah dulu yang memasang jerat cinta padahal aku gadis biasa. Agak pendiam meski katanya ada wajah bidadari di sana.
Mungkin justru karena "pendiam" ini aku dikira menyimpan banyak penerimaan. Maksudku, dikiranya aku gampang menerima ajakan untuk lebih dekat. Padahal tidak; kecuali dalam mata mereka yang suka nekat. Dan satu pria yang kuberi tempat adalah Lelaki Pagi yang saat ini mempermainkan aku dengan pesan yang tak juga sampai.
Saat ini pun, aku membaca kata "sedang mengetik" di bawah nama khususku untuknya itu. Sudah kutunggu dengan penuh debar, tak ada juga kabar. Bagaimana aku bisa bersabar? Tapi, lagi-lagi gengsiku yang berbicara. Tak akan kukirim lebih dulu pesan WA kepadanya jika aku belum menerima pesan darinya. Gengsi tetap harus ada. Biar dia tahu rasa.
Tapi, jangan-jangan dia tak bermaksud mempermainkan aku, ya? Duh, aku kok jadi gamang dan amat bimbang. Aku jadi penuh keraguan dan merasa malang. Begitu banyak teka-teki menjelma. Enigma!
5 Juli 2026
Komunikasi Pagi Hari
Dinyalakannya televisi sambil ia memasang earphone barunya. Matanya menatap layar ponsel sementara sebuah saluran televisi menayangkan berita tentang seorang wali kota yang tengah bersujud.
"Lebay amat sih."
"Iya. Tapi emang gayanya kok."
"Yang wajar saja kan bisa. Malah akan banyak yang bersimpati."
"Ini masih wajar. Kan memang begitu budayanya."
"Budaya?"
"Iya, budaya. Seperti di Jepang itu."
"Kok Jepang? Memang sih ada taman seperti itu di kotanya."
"Taman?"
"Iya. Kan gara-gara ada taman seperti itu kotanya jadi populer."
"Kota?"
"Iya. Termasuk kebersihan."
"Kalau kebersihan, bener. Sujud jadi gak kotor."
Astaga. Mengapa obrolan jadi seperti ini? Maka, dari meja kerjaku yang berjarak kira-kira dua setengah meter dari sofa yang didudukinya, aku amati apa yang tengah dia lakukan.
Seperti aku juga, ternyata. Satu earphone sengaja agak dibuka biar dengar kalau-kalau ada ajakan bicara. Kami melakukan hal serupa.
Namun, saat itu perhatianku bukan pada permainan piano Yuhki Kuramoto dari laptopku. Aku sedang terganggu oleh berita di televisi yang masih jelas kudengar sedangkan dia sepertinya tengah asyik dengan drakor di gawainya.
Pantas saja.***
2 Juli 2026
Ada yang Meninggal
Ada yang meninggal kemarin. Ya tentu saja, kemarin ada yang meninggal dan mungkin lebih dari seorang meski bukan lagi masa pandemi. Ada yang kita kenal, ada yang lewat dalam sunyi. Bisa jadi kediamannya dekat tempat tinggal kita, mungkin juga di lain negara.
Aku ternyata kenal yang meninggal kemarin. Semoga Allah SWT memberi tempat terbaik sesuai amal dan ibadahnya semasa di dunia. Amin.
Teman-temanku juga mengenalnya sebab almarhum adalah adik kelasku di SMA. Sebagian temanku yang bukan satu sekolah kenal pula sebab namanya cukup gagah meski untuk kurun yang tidak terlalu lama. Artinya, ada yang benar-benar kenal, ada yang hanya merasa kenal, atau nama saja yang tertinggal.
Saat ini, dengan merebaknya media sosial, kabar duka lebih cepat beredar. Ia menyebar dan bahkan diterima oleh siapa saja yang kebetulan dilewati kabar. Yang tidak mengenalnya pun mewartakan ke teman-teman seolah-olah mendiang adalah karibnya.
Ada hasrat untuk lekas berbagi meski dirinya sendiri tidak pasti. Ini sungguh terjadi sebab nama almarhum cukup familier. Bukan karena pasaran ya, tapi memang namanya akrab di telinga. Maka, berita duka itu terkirim berantai tanpa kendala.
Siang tadi, ada teman seangkatanku yang mengeluh lewat pesan WA kepadaku. Dia kisahkan, sejak subuh harus sudah repot kirim-kirim WA, meralat berita duka.
Kok bisa? tulisku segera menanggapi kiriman WA-nya.
Iya nih, gara-gara sama nama, dikabarkan aku yang meninggal kemarin. Padahal dia kan adik kelas kita, balasnya beberapa menit berselang.***
3 Juli 2026
Ibnu Wahyudi, kelahiran Boyolali pada 24 Juni 1958, telah menulis dan memublikasikan puisi sejak akhir tahun 1970-an di sejumlah media. Sebanyak 24 buku puisi, 2 kumpulan cerpen, serta sejumlah buku terjemahan, suntingan, maupun kajian sastra telah dihasilkan. Meskipun sudah purnatugas dari Universitas Indonesia (UI) dan Singapore University of Foreign Studies (SUSS), saat ini Ibnu Wahyudi masih menjadi dosen di Universitas Prasetiya Mulya. Selain masih menulis puisi dan sesekali cerpen, aktivitas yang kini banyak dilakukan adalah melukis dan mengikuti sejumlah pameran lukisan.
Editor : Ali Sodiqin