RADARBANYUWANGI.ID - Festival Gandrung Sewu menjadi panggung megah pelestarian budaya Banyuwangi.
Ribuan penari tampil serempak di kawasan Pantai Marina Boom dengan latar Selat Bali, menghadirkan pertunjukan kolosal yang memadukan seni tari, sejarah, dan pesona alam dalam satu panggung terbuka.
Festival tahunan yang pertama kali digelar pada 2012 itu kini menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Banyuwangi.
Selain menjadi atraksi wisata unggulan, Gandrung Sewu juga merupakan upaya menjaga keberlangsungan Tari Gandrung sebagai identitas budaya masyarakat Osing.
Tahun ini, ribuan penari yang terdiri atas pelajar, anggota sanggar seni, hingga masyarakat dari berbagai kecamatan tampil mengenakan busana khas Gandrung bernuansa merah, hitam, dan emas.
Seluruh peserta telah menjalani proses latihan intensif sebelum hari pertunjukan agar mampu menampilkan koreografi secara serempak.
Iringan musik tradisional Banyuwangi semakin memperkuat nuansa pertunjukan.
Tidak hanya menampilkan tarian massal, Gandrung Sewu juga selalu mengangkat kisah-kisah yang berakar dari sejarah dan budaya Blambangan melalui konsep drama kolosal.
Pemilihan Pantai Marina Boom sebagai lokasi pertunjukan bukan tanpa alasan.
Kawasan yang berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Banyuwangi itu memiliki hamparan pantai yang luas dengan panorama Selat Bali, sehingga mampu menjadi panggung alami yang memperkuat daya tarik pertunjukan.
Sejarah Gandrung Sewu tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang Tari Gandrung.
Kesenian asli Suku Osing tersebut diyakini telah hadir sejak masa Kerajaan Blambangan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Dewi Sri, sosok yang dipercaya sebagai dewi padi dan kemakmuran.
Istilah "gandrung" sendiri bermakna rasa cinta, kagum, atau terpikat.
Pada masa awal perkembangannya, tari ini dibawakan oleh penari laki-laki yang dikenal sebagai Gandrung Lanang.
Selain berkeliling menghibur masyarakat, para penari juga disebut memiliki peran sebagai penyampai informasi dan bagian dari perjuangan melawan penjajahan Belanda.
Memasuki akhir abad ke-19, keberadaan Gandrung Lanang mulai berkurang.
Seiring berkembangnya nilai-nilai keagamaan dan wafatnya para penari pria, pertunjukan Gandrung kemudian bertransformasi menjadi tarian yang dibawakan perempuan.
Perubahan tersebut dipelopori oleh penari legendaris bernama Semi yang kemudian dikenal sebagai pelopor Gandrung perempuan.
Perjalanan Tari Gandrung sempat mengalami pasang surut akibat munculnya stigma negatif di tengah masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kemudian melakukan revitalisasi budaya pada 1974 melalui penyusunan koreografi yang lebih baku sebagai bagian dari pelestarian kesenian daerah.
Langkah tersebut menjadi fondasi penting bagi lahirnya Festival Gandrung Sewu pada 2012.
Pemerintah daerah menginisiasi pertunjukan kolosal yang melibatkan sedikitnya seribu penari sebagai strategi memperkenalkan budaya Osing kepada masyarakat nasional maupun internasional sekaligus menghapus stigma yang pernah melekat pada kesenian Gandrung.
Kata "sewu" yang berarti seribu mencerminkan jumlah minimal penari yang terlibat dalam pertunjukan.
Seluruh peserta berasal dari pelajar dan masyarakat Banyuwangi yang lolos proses seleksi serta mengikuti latihan dalam waktu cukup panjang sebelum tampil.
Seiring perkembangannya, Gandrung Sewu tidak hanya menarik perhatian masyarakat Banyuwangi.
Wisatawan domestik maupun mancanegara turut memadati kawasan Pantai Marina Boom setiap penyelenggaraan festival.
Selain menyuguhkan pertunjukan budaya, pengunjung juga dapat menikmati acara tanpa membeli tiket pertunjukan.
Masyarakat hanya dikenakan biaya masuk kawasan Pantai Marina Boom sesuai ketentuan yang berlaku selama penyelenggaraan acara.
Salah seorang pengunjung, Bunga, mengaku terkesan dengan kemegahan pertunjukan yang disaksikannya secara langsung.
"Saya senang bisa melihat Gandrung Sewu secara langsung. Penampilannya sangat menarik dan membuat saya semakin bangga dengan budaya Banyuwangi," ujarnya, Jumat (10/7/2026).
Editor : Lugas Rumpakaadi