RADARBANYUWANGI.ID - Kematian dalam budaya Jawa tidak hanya dimaknai sebagai berakhirnya kehidupan seseorang, tetapi juga menjadi awal rangkaian tradisi yang penuh doa, penghormatan, dan kebersamaan. Salah satu warisan budaya yang masih dijaga hingga kini adalah hari selametan, yaitu serangkaian peringatan yang dilaksanakan sejak hari pertama setelah pemakaman hingga hari ke-1.000 atau nyewu.
Tradisi ini masih dijumpai di berbagai daerah di Pulau Jawa. Melalui doa bersama, tahlilan, dan kenduri, keluarga mengajak kerabat serta tetangga untuk mendoakan almarhum sekaligus mempererat silaturahmi. Seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut juga menjadi simbol akulturasi budaya Jawa dengan nilai-nilai Islam.
Lalu, apa saja istilah dalam hari selametan masyarakat Jawa dan apa maknanya?
1. Geblag, Selamatan Pertama Setelah Pemakaman
Tahapan awal disebut geblag, yakni selamatan yang dilaksanakan pada hari pertama setelah jenazah dimakamkan.
Momentum ini menjadi penanda dimulainya rangkaian doa bagi almarhum. Keluarga, tetangga, dan kerabat berkumpul untuk memohonkan ampunan kepada Tuhan serta memberikan dukungan moral kepada keluarga yang sedang berduka.
Selain menjadi tradisi spiritual, geblag juga memperlihatkan kuatnya budaya gotong royong masyarakat Jawa ketika menghadapi musibah.
2. Nelung Dina, Tiga Hari Penuh Doa
Peringatan berikutnya adalah nelung dina, yang dilaksanakan pada hari ketiga setelah kematian sesuai perhitungan hari dan pasaran Jawa.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, nelung dina menjadi simbol awal perjalanan spiritual almarhum sekaligus masa ketika keluarga masih berada dalam suasana duka yang mendalam.
Doa bersama menjadi inti acara sebagai bentuk penghormatan dan harapan agar almarhum memperoleh ketenangan.
3. Mitung Dina, Menguatkan Doa dan Kebersamaan
Tujuh hari setelah wafat, keluarga menggelar mitung dina.
Selamatan ini biasanya dihadiri lebih banyak kerabat dan tetangga. Selain pembacaan tahlil dan doa, keluarga juga menyediakan hidangan sederhana sebagai bentuk sedekah.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa duka tidak dijalani sendirian, melainkan bersama lingkungan sosial yang saling menguatkan.
4. Matangpuluh Dina, Penanda Berakhirnya Masa Berkabung Intensif
Pada hari ke-40 setelah kematian, masyarakat Jawa melaksanakan matangpuluh dina atau peringatan 40 harian.
Dalam tradisi yang telah berakulturasi dengan ajaran Islam, angka 40 dipandang sebagai fase penting dalam perjalanan spiritual. Selamatan ini menjadi momentum bagi keluarga untuk terus mendoakan almarhum sekaligus mulai kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
5. Nyatus Dina, Refleksi dan Sedekah
Hari ke-100 atau nyatus dina menjadi salah satu peringatan yang umumnya diselenggarakan lebih besar.
Selain doa bersama, keluarga juga membagikan makanan kepada tamu sebagai bentuk sedekah. Tradisi ini mengandung pesan agar pahala doa dan amal kebaikan dapat mengalir kepada almarhum, sekaligus mengingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.
6. Pendhak 1, Satu Tahun Mengenang Kepergian
Dalam kalender Jawa, Pendhak 1 dilaksanakan sekitar 354 hingga 355 hari setelah kematian.
Peringatan ini menandai satu siklus tahun Jawa sejak seseorang berpulang. Keluarga besar biasanya berkumpul untuk mengenang jasa-jasa almarhum serta memperkuat hubungan kekeluargaan.
7. Pendhak 2, Melanjutkan Tradisi Doa
Setelah dua tahun atau sekitar 708 hari dalam penanggalan Jawa, keluarga kembali menggelar Pendhak 2.
Meski umumnya lebih sederhana dibanding Pendhak 1, tradisi ini menunjukkan bahwa doa kepada orang yang telah meninggal tidak berhenti seiring berjalannya waktu.
8. Nyewu, Penutup Rangkaian Selametan
Tahapan terakhir adalah nyewu, yaitu selamatan pada hari ke-1.000 setelah kematian.
Bagi masyarakat Jawa, nyewu menjadi penutup resmi seluruh rangkaian hari selametan. Setelah itu, keluarga biasanya hanya mengadakan doa pada momen-momen tertentu, seperti haul atau peringatan tahunan.
Nyewu juga melambangkan keikhlasan keluarga dalam melepas kepergian orang tercinta, sembari terus menjaga doa dan mengenang jasa-jasanya.
Lebih dari Sekadar Tradisi
Hari selametan dalam budaya Jawa bukan sekadar ritual turun-temurun. Di dalamnya terkandung nilai kebersamaan, gotong royong, kepedulian sosial, penghormatan kepada leluhur, serta penguatan spiritual.
Melalui rangkaian mulai dari geblag, nelung dina, mitung dina, matangpuluh dina, nyatus dina, Pendhak 1, Pendhak 2, hingga nyewu, masyarakat Jawa menjaga warisan budaya yang telah berlangsung lintas generasi.
Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa kematian bukan akhir dari kasih sayang keluarga. Doa, sedekah, dan kebersamaan yang terus dipelihara menjadi bentuk penghormatan kepada mereka yang telah mendahului, sekaligus memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat. (*)
Editor : Ali Sodiqin