RADAR BANYUWANGI - Kematian bukan hanya menjadi akhir perjalanan hidup seseorang, tetapi juga awal dari rangkaian tradisi penghormatan yang telah diwariskan turun-temurun dalam masyarakat Jawa. Salah satunya adalah petungan hari peringatan orang meninggal, sebuah tradisi yang masih lestari di berbagai daerah sebagai bentuk doa, penghormatan, sekaligus penguat ikatan keluarga.
Tradisi petungan dikenal melalui serangkaian selamatan yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu setelah seseorang meninggal dunia. Mulai dari nelung dina (tiga hari), mitung dina (tujuh hari), matang puluh (40 hari), nyatus (100 hari), pendhak pisan (satu tahun), pendhak pindho (dua tahun), hingga nyewu (1.000 hari).
Rangkaian tersebut tidak sekadar menjadi ritual budaya, tetapi juga mencerminkan perpaduan nilai spiritual, sosial, dan religius yang telah berakulturasi selama ratusan tahun di tanah Jawa.
Dalam pelaksanaannya, keluarga yang ditinggalkan mengundang kerabat, tetangga, serta tokoh agama untuk mengikuti doa bersama atau tahlilan. Selain menjadi sarana mendoakan almarhum, tradisi ini juga menjadi momentum mempererat silaturahmi dan memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
1. Nelung Dina, Awal Perpisahan dengan Dunia
Peringatan pertama dilakukan pada hari ketiga setelah kematian atau dikenal sebagai nelung dina.
Dalam pandangan budaya Jawa, masa ini menjadi simbol awal perpisahan roh dengan jasadnya. Karena itu, keluarga menggelar doa bersama agar almarhum memperoleh ketenangan dan mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.
Selain bernilai spiritual, nelung dina juga menjadi ruang bagi keluarga untuk saling menguatkan di tengah duka yang masih mendalam.
2. Mitung Dina, Simbol Adaptasi Roh
Selanjutnya adalah mitung dina, yakni peringatan tujuh hari setelah kematian.
Tradisi ini umumnya dihadiri lebih banyak kerabat dan tetangga. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, masa tujuh hari melambangkan proses adaptasi roh menuju alam barzakh.
Doa bersama yang dipanjatkan menjadi bentuk harapan agar perjalanan spiritual almarhum diberikan kemudahan sekaligus menguatkan keluarga yang ditinggalkan untuk mulai menerima kenyataan.
3. Matang Puluh, Penutup Masa Berkabung Intensif
Memasuki hari ke-40 atau matang puluh, keluarga kembali menggelar selamatan.
Dalam tradisi Islam yang telah menyatu dengan budaya Jawa, angka 40 dipandang sebagai fase penting dalam proses transisi. Momentum ini dimaknai sebagai berakhirnya masa berkabung yang paling berat sehingga keluarga diharapkan mulai kembali menjalani kehidupan sehari-hari sambil terus mendoakan almarhum.
4. Nyatus, Momentum Refleksi Kehidupan
Peringatan 100 hari atau nyatus menjadi salah satu acara yang biasanya digelar lebih besar dibanding peringatan sebelumnya.
Selain doa bersama, keluarga juga menyediakan hidangan untuk para tamu sebagai bentuk sedekah yang diharapkan pahalanya sampai kepada almarhum.
Nyatus sekaligus menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara sehingga setiap orang perlu mempersiapkan bekal amal.
5. Pendhak Pisan, Setahun Mengenang Kepergian
Satu tahun setelah wafat, masyarakat Jawa mengenalnya sebagai pendhak pisan atau mendak sepisan.
Peringatan ini menandai satu siklus penuh sejak seseorang meninggal dunia. Biasanya keluarga besar berkumpul untuk mengenang jasa-jasa almarhum sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan yang tetap terjalin meski telah kehilangan anggota keluarga.
6. Pendhak Pindho, Doa yang Terus Berlanjut
Memasuki tahun kedua atau pendhak pindho (mendak kalih), tradisi selamatan tetap dilakukan meski dalam skala yang lebih sederhana.
Maknanya adalah kesinambungan doa. Masyarakat Jawa meyakini bahwa mengenang dan mendoakan orang tua maupun kerabat yang telah wafat merupakan bagian dari bakti yang tidak terputus oleh kematian.
7. Nyewu, Penutup Rangkaian Petungan
Tahapan terakhir adalah nyewu, yaitu peringatan hari ke-1.000 setelah kematian atau sekitar dua tahun sembilan bulan.
Nyewu dianggap sebagai penutup resmi seluruh rangkaian petungan. Setelah itu, keluarga umumnya hanya mengadakan doa pada momen-momen tertentu, seperti haul atau peringatan tahunan.
Bagi masyarakat Jawa, nyewu menjadi simbol keikhlasan keluarga melepas kepergian orang yang dicintai, sembari terus menjaga doa dan kenangan baik tentang almarhum.
Filosofi Petungan dalam Budaya Jawa
Di balik setiap tahapan petungan, tersimpan nilai-nilai luhur yang tetap relevan hingga kini.
Tradisi ini memperkuat ikatan kekeluargaan karena menjadi kesempatan berkumpulnya keluarga besar yang mungkin jarang bertemu.
Petungan juga mencerminkan kepedulian sosial melalui kebiasaan berbagi makanan kepada tetangga dan tamu yang hadir.
Dari sisi spiritual, inti seluruh rangkaian adalah doa bersama yang dipanjatkan demi almarhum.
Selain itu, petungan membantu keluarga menjalani proses penerimaan kehilangan secara bertahap. Setiap peringatan menjadi fase untuk belajar ikhlas, mengenang jasa orang yang telah berpulang, sekaligus menyadari bahwa setiap manusia pada akhirnya akan mengalami perjalanan yang sama.
Meski memiliki akar budaya Jawa kuno, tradisi petungan kini telah berakulturasi dengan ajaran Islam melalui tahlilan, pembacaan doa, dan sedekah. Karena itulah, hingga sekarang petungan tetap dipandang bukan sekadar ritual adat, melainkan wujud kasih sayang, penghormatan, dan doa yang terus mengalir bagi orang-orang yang telah mendahului. (*)
Editor : Ali Sodiqin