Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kampung Oseng Disiapkan Hadir di IKN, Bawa Identitas Budaya Banyuwangi ke Jantung Nusantara

Fredy Rizki Manunggal • Jumat, 10 Juli 2026 | 09:20 WIB
Humas Ikawangi Penajam Paser Utara Roni Andreanto (tengah) usai bertemu dengan pengurus DKB dan Plt Kepala Disbudpar Banyuwangi di kantor Disbudpar Banyuwangi, Kamis (9/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Humas Ikawangi Penajam Paser Utara Roni Andreanto (tengah) usai bertemu dengan pengurus DKB dan Plt Kepala Disbudpar Banyuwangi di kantor Disbudpar Banyuwangi, Kamis (9/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Miniatur Kampung Oseng berpeluang menjadi salah satu ikon budaya yang hadir di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Gagasan membangun perkampungan khas Banyuwangi itu mulai dimatangkan melalui pertemuan antara Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Penajam Paser Utara, budayawan, Dewan Kesenian Blambangan (DKB), dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Kamis (9/7). Targetnya, kawasan budaya tersebut sudah berdiri sebelum 2028.

Konsep yang disiapkan tidak sekadar menghadirkan rumah adat. Kampung Oseng dirancang menjadi miniatur kehidupan masyarakat Osing yang lengkap dengan arsitektur tradisional, ruang budaya, hingga lokasi penyelenggaraan ritual adat sebagai bentuk pelestarian budaya Banyuwangi di ibu kota baru Indonesia.

Humas Ikawangi Penajam Paser Utara, Roni Andreanto, mengatakan ide tersebut muncul saat dirinya terlibat dalam pembangunan Kampung Dayak di kawasan IKN yang berdiri di atas lahan sekitar 14 hektare.

Melihat keberadaan berbagai kawasan budaya di ibu kota baru, ia menilai masyarakat Banyuwangi juga layak memiliki ruang yang merepresentasikan identitas daerahnya.

"Di Kalimantan Timur ada sekitar 28 ribu warga Banyuwangi. Saya punya inisiatif untuk bisa membangun Kampung Oseng di IKN. Ini juga akan menjadi destinasi budaya," ujarnya.

Saat ini, kata Roni, penyusunan konsep masih terus dilakukan dengan menghimpun berbagai masukan dari budayawan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, organisasi masyarakat Banyuwangi di Kalimantan, hingga berbagai tokoh daerah.

Ia berharap kawasan tersebut benar-benar menggambarkan kehidupan masyarakat Osing, termasuk menghadirkan rumah adat sebagai simbol identitas budaya Banyuwangi.

"Kalau memungkinkan kita ingin membangun rumah adat khas Oseng agar sinkron dengan keberadaan masyarakat Banyuwangi di IKN," katanya.

Disbudpar Siap Dampingi

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menyatakan langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangun komunikasi dengan pemerintah daerah setempat dan Otorita IKN agar seluruh proses perizinan berjalan sesuai aturan.

Selain itu, penyusunan konsep juga harus melibatkan Dewan Kesenian Blambangan, budayawan, dan komunitas Banyuwangi yang kini bermukim di Kalimantan.

"Perlu koordinasi dengan pemerintah di sana mengenai mekanisme dan proses perizinannya agar berjalan lancar. Selain itu juga perlu diskusi bersama Dewan Kesenian Blambangan, budayawan, serta masyarakat Banyuwangi yang berada di sana," ujarnya.

Hartono menegaskan Disbudpar siap memberikan dukungan administrasi maupun pendampingan teknis dalam penyusunan konsep kawasan budaya tersebut.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan Kampung Oseng hanya bisa dicapai apabila seluruh pihak bergerak dalam satu tim.

"Kami siap membantu proses administrasi dan dukungan lainnya. Yang penting semua bisa bergerak dengan teamwork. Nanti kita diskusikan sketsa yang paling tepat, termasuk spesifikasi bangunannya agar sesuai dengan Peraturan Bupati dan aspek budaya lainnya," katanya.

Bukan Sekadar Rumah Adat

Ketua Dewan Pengarah Kesenian Blambangan, Samsudin Adlawi, menilai penyusunan konsep menjadi tahapan paling penting sebelum proposal diajukan kepada Otorita IKN.

Ia menegaskan Kampung Oseng harus benar-benar menjadi representasi budaya masyarakat Osing, bukan hanya menghadirkan replika bangunan tradisional.

"Yang kami diskusikan adalah konsep agar miniatur Kampung Oseng di sana benar-benar representatif, bukan hanya membangun rumah adat semata," jelasnya.

Menurut Samsudin, kawasan tersebut nantinya juga diharapkan mampu menjadi ruang penyelenggaraan ritual budaya, sekaligus menghadirkan bangunan khas kalangan ningrat Osing sebagai sarana edukasi sejarah dan pelestarian budaya.

Rekonstruksi Kejayaan Blambangan

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri mengusulkan agar Kampung Oseng dibangun berdasarkan filosofi budaya Banyuwangi, mulai dari orientasi rumah, tata ruang kawasan, hingga ornamen yang mengacu pada ketentuan dalam Peraturan Bupati.

Ia menjelaskan rumah adat Osing memiliki orientasi ngalor-ngidul, sementara kawasan juga perlu dilengkapi elemen khas seperti paglak, kiling, dan unsur budaya lain yang mencerminkan kehidupan masyarakat agraris sekaligus maritim.

Lebih jauh, Hasan mengusulkan agar kawasan tersebut juga merekonstruksi jejak kejayaan Keraton Blambangan beserta lingkungan Keraton Macan Putih sehingga menjadi destinasi budaya yang utuh.

Menurutnya, penyusunan masterplan sebaiknya melibatkan arsitek bersama para budayawan agar menghasilkan kawasan yang autentik dan memiliki nilai sejarah.

"Kalau memungkinkan lokasinya juga dekat dengan sungai karena tradisi masyarakat Osing sangat erat dengan air. Kita ingin membangun memori kejayaan Blambangan melalui kawasan budaya yang utuh," pungkasnya. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Kampung Oseng #IKN Nusantara #budaya oseng #rumah adat #banyuwangi