Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gelar Songo 2026 Kembali Hidupkan Tradisi Leluhur, Warga Glagah Perkuat Budaya dan Dongkrak Wisata Banyuwangi

Anisatul Septi Ramadhani • Kamis, 9 Juli 2026 | 11:50 WIB
Ritual Adat Gelar Songo 2026 di Desa Glagah, Banyuwangi. (Rahma untuk Radar Banyuwangi)
Ritual Adat Gelar Songo 2026 di Desa Glagah, Banyuwangi. (Rahma untuk Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Suasana Desa/Kecamatan Glagah, kembali dipenuhi semangat kebersamaan saat masyarakat menggelar Ritual Adat Gelar Songo 2026. Tradisi yang rutin dilaksanakan menjelang 9 Suro dalam penanggalan Jawa tersebut tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menjadi momentum menjaga warisan budaya leluhur yang hingga kini tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Selama enam hari, mulai 23 hingga 28 Juni 2026, masyarakat dari berbagai dusun terlibat dalam rangkaian prosesi adat dan keagamaan. Antusiasme warga terlihat dalam setiap kegiatan, mulai dari doa bersama, pembacaan naskah kuno, hingga puncak arak-arakan tumpeng hasil bumi yang menjadi simbol rasa syukur atas limpahan rezeki.

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut juga terus menarik perhatian wisatawan. Tidak sedikit pengunjung datang untuk menyaksikan kekayaan budaya masyarakat Osing, menikmati kuliner tradisional, sekaligus merasakan suasana kebersamaan yang menjadi ciri khas Gelar Songo.

Gelar Songo merupakan salah satu tradisi budaya masyarakat Desa Glagah yang selalu dilaksanakan menjelang datangnya 9 Suro. Bagi warga, ritual ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus ikhtiar bersama memohon keselamatan, keberkahan, dan kehidupan yang lebih baik.

Rangkaian kegiatan diawali pada 23 Juni 2026 dengan Mocoan Lontar Yusuf, pembacaan naskah kuno yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Osing. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya menjaga warisan sastra dan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Memasuki 24 Juni, masyarakat melaksanakan Semaan Al-Qur'an, dilanjutkan Selamatan Sumber Rejopuro, Selamatan Petilasan Buyut Gringsing, dan Selamatan Kampung. Seluruh prosesi berlangsung khidmat sebagai bentuk doa bersama untuk keselamatan masyarakat serta penghormatan kepada para pendahulu yang telah menjaga dan mewariskan tradisi tersebut.

Perpaduan unsur budaya dan nilai religius menjadi ciri khas Gelar Songo. Keharmonisan keduanya mencerminkan kehidupan masyarakat Glagah yang tetap memegang teguh tradisi tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan.

Kemeriahan Gelar Songo berlanjut pada 27 Juni melalui Festival Kopat Lodoh. Tradisi makan bersama menggunakan hidangan khas kupat lodoh menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan persaudaraan antarmasyarakat.

Warga dari berbagai kalangan berkumpul menikmati sajian tradisional yang telah menjadi bagian dari identitas budaya Banyuwangi. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang silaturahmi yang mempererat hubungan sosial antarwarga.

Festival ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat tradisi kuliner khas masyarakat Osing. Kehadiran pengunjung memberi warna tersendiri dalam pelaksanaan Gelar Songo setiap tahunnya.

Puncak Ritual Adat Gelar Songo berlangsung pada 28 Juni melalui Arak-arakan Tumpeng Gelar Songo. Warga dari berbagai dusun membawa tumpeng berisi hasil bumi sebagai lambang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang telah diberikan.

Prosesi berlangsung meriah dengan iringan masyarakat yang memadati jalur arak-arakan. Tumpeng hasil bumi menjadi simbol harapan akan keberkahan sekaligus wujud penghormatan terhadap alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Semangat gotong royong tampak dalam setiap tahapan pelaksanaan. Mulai dari persiapan hingga prosesi puncak, seluruh elemen masyarakat terlibat sehingga Gelar Songo tetap terjaga sebagai tradisi yang menyatukan warga.

Salah seorang warga Desa Glagah, Septi, mengatakan Gelar Songo memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar acara adat tahunan.

"Bagi kami, Gelar Songo bukan hanya sebuah acara adat, tetapi juga bentuk rasa syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan tradisi ini. Melalui kegiatan ini, masyarakat bisa berkumpul, saling membantu, dan mempererat tali persaudaraan," ujarnya.

Menurut Septi, antusiasme masyarakat selalu tinggi setiap tahun karena Gelar Songo telah menjadi bagian dari kehidupan warga Desa Glagah.

"Kami berharap Gelar Songo tetap dilestarikan dan semakin dikenal oleh masyarakat luas. Dengan begitu, generasi muda akan terus mencintai budaya daerahnya, sementara wisatawan yang datang juga bisa mengetahui kekayaan tradisi yang dimiliki Banyuwangi," tambahnya.

Selain menjadi agenda pelestarian budaya, Gelar Songo juga memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.

Selama rangkaian acara berlangsung, kawasan Desa Glagah dipadati pengunjung yang datang untuk menyaksikan prosesi budaya, menikmati kuliner tradisional, hingga membeli berbagai produk UMKM lokal. Ramainya wisatawan turut memberikan peluang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan pendapatan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#gelar songo #desa glagah #festival kopat lodoh #ritual adat #banyuwangi