Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Penjurian BEC 2026 Panaskan Persaingan, Kostum Perang Bayu Siap Guncang Banyuwangi Ethno Carnival

Ali Sodiqin • Kamis, 9 Juli 2026 | 09:45 WIB
BEC 2026 tampil lebih teatrikal, 100 talent adu totalitas hidupkan heroisme Perang Puputan Bayu. (banyuwangitourism.com)
BEC 2026 tampil lebih teatrikal, 100 talent adu totalitas hidupkan heroisme Perang Puputan Bayu. (banyuwangitourism.com)

RADARBANYUWANGI.ID – Atmosfer magis berpadu semangat kepahlawanan memenuhi Lorong Bambu Gesibu Blambangan, Selasa siang (7/7/2026). Sebanyak 100 talent Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 untuk pertama kalinya mempresentasikan kostum terbaik mereka di hadapan dewan juri dalam tahapan penilaian yang menjadi penentu sebelum tampil pada Grand Carnival, Sabtu (18/7/2026).

Penjurian ini bukan sekadar menguji kualitas kostum. Lebih dari itu, para peserta ditantang menghidupkan kisah heroik "Perang Bayu: The Great War of Blambangan" melalui pertunjukan teatrikal yang menjadi wajah baru Banyuwangi Ethno Carnival tahun ini.

Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, BEC 2026 menghadirkan pembaruan konsep yang lebih sinematik. Setiap kostum tidak lagi dipresentasikan secara individual, melainkan dipadukan dengan fragmen cerita, tari, hingga pemeran pendukung yang memperkuat karakter dan alur sejarah yang dibawakan.

Konsep tersebut membuat setiap penampilan terasa lebih hidup, emosional, sekaligus dramatis. Para peserta tidak hanya dinilai dari keindahan desain busana, tetapi juga kemampuan menginterpretasikan narasi perjuangan rakyat Blambangan melawan VOC pada 1771–1772.

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari Robby Dharmawangsa. Membawakan karakter Rempeg Jogopati pada subtema Pejuang Blambangan, Robby menghadirkan drama singkat yang menggambarkan gugurnya sang pejuang sebelum tongkat estafet perlawanan diteruskan kepada Sayu Wiwit.

Adegan tersebut sukses memperkuat pesan heroisme yang menjadi ruh utama tema BEC tahun ini.

"Momen presentasi kostum tahun ini sangat mengesankan karena ada beberapa hal yang menjadi pembeda. Di antaranya tiap talent diperbolehkan membawa penunjang penampilan seperti kereta karnaval dan pemeran pendukung. Ini semakin menantang kreativitas tidak hanya untuk pembuatan kostum tetapi juga performance," ujar Robby.

Perubahan konsep juga mendapat respons positif dari para desainer yang selama berbulan-bulan menyiapkan karya terbaiknya.

Salah satunya Mohammad Ali Imron atau Morint. Desainer yang dikenal sebagai salah satu langganan peraih prestasi di BEC itu tahun ini menggarap lima kostum untuk berbagai subtema, yakni Hasil Bumi, Alat dan Genderang Perang, VOC dan Sekutu, serta Situs Perang.

Menurut Morint, kualitas kompetisi BEC 2026 meningkat signifikan. Kreativitas para peserta membuat persaingan semakin ketat dan memacu para desainer untuk terus menghadirkan inovasi baru.

"Melihat presentasi hari ini, saya benar-benar takjub karena kostum para peserta tahun ini sangat keren dan luar biasa kompetitif. Hal ini jelas menjadi tantangan sekaligus memacu adrenalin saya sebagai desainer untuk menggali lebih dalam lagi kreativitas serta melahirkan inovasi baru dalam mendesain kostum," tuturnya.

Tahap presentasi kostum menjadi fase krusial sebelum puncak penyelenggaraan. Dewan juri memberikan berbagai catatan evaluasi, mulai dari penyempurnaan detail kostum, rias wajah, teknik berjalan, hingga penguatan ekspresi dan penyampaian cerita.

Masukan tersebut akan menjadi bekal bagi seluruh peserta untuk memoles penampilan sebelum tampil di hadapan ribuan penonton pada Grand Carnival BEC 2026, 18 Juli mendatang.

Pembaruan konsep teatrikal menjadi bukti bahwa Banyuwangi Ethno Carnival terus berevolusi. BEC tidak lagi hanya menjadi parade kostum etnik, tetapi berkembang menjadi pertunjukan budaya yang memadukan seni pertunjukan, sejarah, desain, dan storytelling dalam satu panggung megah.

Melalui tema Perang Bayu: The Great War of Blambangan, penyelenggara berharap sejarah perjuangan masyarakat Blambangan dapat dikenalkan kepada generasi muda sekaligus memperkuat identitas budaya Banyuwangi di mata dunia.

Dengan kualitas kostum yang semakin kompetitif, dukungan pertunjukan teatrikal, serta narasi sejarah yang kuat, BEC 2026 diproyeksikan menjadi salah satu edisi paling spektakuler sejak festival ini digelar. Semangat from local to global pun kembali digaungkan, membawa budaya Banyuwangi melangkah lebih jauh menuju panggung internasional. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Perang Bayu #BEC 2026 #Banyuwangi Carnival #Kostum Etnik #wisata banyuwangi