Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

BEC 2026 Angkat Tema Perang Bayu, Parade 2,5 Kilometer Siap Suguhkan Spektakel Budaya

M Ksatria Raya • Rabu, 8 Juli 2026 | 09:14 WIB
Bupati Ipuk didampingi kepala SKPD dan pengurus Dewan Kesenian Blambangan (DKB) menyaksikan penampilan talent BEC dalam penilaian kostum di lorong bamboo depan Gesibu Blambangan, Selasa sore (7/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Bupati Ipuk didampingi kepala SKPD dan pengurus Dewan Kesenian Blambangan (DKB) menyaksikan penampilan talent BEC dalam penilaian kostum di lorong bamboo depan Gesibu Blambangan, Selasa sore (7/7). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 dipastikan tampil dengan wajah baru. Event budaya andalan Banyuwangi yang akan digelar pada Sabtu (18/7) mengusung tema "Perang Bayu", menghadirkan parade sepanjang sekitar 2,5 kilometer, sekaligus menawarkan pengalaman yang lebih megah dibandingkan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.

Perubahan paling mencolok terlihat pada rute parade yang diperpanjang. Jika sebelumnya peserta hanya melintasi jalur yang relatif pendek, tahun ini iring-iringan akan memulai perjalanan dari depan SDN Kepatihan, bergerak ke arah barat melewati Pasar Banyuwangi, dan berakhir di depan Kantor Pemkab Banyuwangi.

Jelang pelaksanaan, panitia terus mematangkan persiapan. Salah satu tahapan penting digelar pada Selasa (7/7), yakni penjurian kostum yang berlangsung di lorong bambu depan Gesibu Banyuwangi.

Antusiasme peserta membuat proses penilaian berlangsung hingga pukul 16.00 WIB. Sebanyak 46 talent bergantian memperagakan kostum terbaik mereka di hadapan lima dewan juri.

Para peserta terbagi dalam lima subtema yang merepresentasikan kisah besar Perang Bayu, yaitu hasil bumi, situs perang, VOC dan sekutu, alat serta genderang perang, dan pejuang Blambangan.

Mereka berjalan dari kawasan depan Kantor Pos Banyuwangi menuju Asrama Inggrisan sambil menampilkan karakter, koreografi, hingga ekspresi yang menjadi bagian dari penilaian.

Kostum-kostum yang ditampilkan didominasi warna-warna mencolok dengan berbagai ornamen artistik. Beberapa peserta bahkan menghadirkan properti berupa kereta, busana kerajaan, hingga tokoh-tokoh yang merepresentasikan sejarah Blambangan.

Salah seorang juri, Bambang Lukito, menilai kualitas penampilan peserta tahun ini cukup menjanjikan.

"Penampilan peserta cukup bagus sesuai subtema. Kostumnya penuh warna, ada dayang dan kereta," ujarnya.

Di penghujung penilaian, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani hadir didampingi jajaran asisten daerah, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta pengurus Dewan Kesenian Blambangan (DKB). Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap proses persiapan salah satu agenda unggulan dalam kalender pariwisata Banyuwangi.

Ipuk berharap seluruh peserta mampu menyempurnakan penampilannya sehingga BEC 2026 mampu menghadirkan pertunjukan yang lebih memikat bagi masyarakat maupun wisatawan.

"Semoga peserta BEC bisa tampil maksimal dan menyuguhkan penampilan yang berbeda dari penyelenggaraan tahun sebelumnya," ujarnya.

Menurut Ipuk, Banyuwangi Ethno Carnival bukan sekadar parade kostum, melainkan etalase budaya yang selama ini menjadi salah satu instrumen promosi daerah di tingkat nasional maupun internasional.

Karena itu, seluruh persiapan dilakukan secara terencana melalui berbagai rapat koordinasi agar pelaksanaan berlangsung optimal.

"BEC merupakan bagian dari upaya kita mempromosikan Banyuwangi. Tidak ada capaian yang baik tanpa perencanaan," tegasnya.

Ia juga mengingatkan seluruh peserta agar terus memperbaiki detail penampilan sekaligus menjaga kondisi fisik menjelang hari pelaksanaan.

"Terus tingkatkan apa yang masih perlu diperbaiki serta jaga kesehatan agar bisa tampil maksimal saat BEC," pesannya.

Salah seorang peserta, Nayu Anggraini dari SMAN 1 Genteng yang tampil dalam subtema VOC dan Sekutu, mengaku latihan dilakukan secara intensif sejak jauh hari. Ia memerankan sosok Noni Belanda dengan kostum khas era kolonial.

Menurutnya, persiapan tidak hanya berfokus pada busana, tetapi juga teknik berjalan, ekspresi wajah, koreografi, hingga keselarasan gerakan dengan iringan musik.

"Persiapannya lebih banyak latihan, mulai dari cara berjalan, ekspresi, tari, hingga keserasian dengan musik," ungkapnya.

Dengan tema Perang Bayu, rute parade yang lebih panjang, serta puluhan kostum spektakuler yang mengangkat sejarah perjuangan Blambangan, BEC 2026 diharapkan kembali menjadi magnet wisata budaya sekaligus memperkuat citra Banyuwangi sebagai salah satu destinasi kreatif unggulan di Indonesia. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Perang Bayu #BEC 2026 #parade budaya #Banyuwangi Ethno Carnival #wisata banyuwangi