Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Rela Kenakan Kostum 15 Kilogram, Talenta Muda Banyuwangi Hidupkan Semangat Perang Bayu di BEC 2026

Shinta Ayu Rahma Wardani • Selasa, 7 Juli 2026 | 21:28 WIB
Peserta BEC 2026, Salsabila April Yasmin, pamerkan kostum di hadapan para juri saat penilaian di lorong bambu Gesibu Blambangan, Selasa (7/7/2026). (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)
Peserta BEC 2026, Salsabila April Yasmin, pamerkan kostum di hadapan para juri saat penilaian di lorong bambu Gesibu Blambangan, Selasa (7/7/2026). (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Beban kostum hingga 15 kilogram tak menyurutkan semangat Ade Reno Gardan (16) untuk kembali tampil di Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026. Bersama puluhan talenta muda lainnya, ia memilih menantang kemampuan fisik sekaligus kreativitas demi menghidupkan kembali kisah heroik Perang Bayu, sejarah perjuangan rakyat Blambangan yang menjadi tema utama BEC tahun ini.

Semangat itu terlihat saat penjurian kostum digelar di Lorong Bambu Gesibu Blambangan, Selasa (7/7/2026). Satu per satu peserta melangkah percaya diri mengenakan kostum berukuran besar dengan detail artistik yang memadukan unsur etnik, simbol peperangan, dan sentuhan seni kontemporer. Penjurian tersebut menjadi salah satu tahapan penting sebelum mereka tampil pada puncak Banyuwangi Ethno Carnival yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Juli mendatang.

Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya yang identik dengan tema kebudayaan, BEC tahun ini mengangkat Puputan Bayu atau Perang Bayu 1771, salah satu perlawanan terbesar rakyat Blambangan terhadap kolonialisme. Melalui tema tersebut, penyelenggara tidak hanya menghadirkan pertunjukan visual yang spektakuler, tetapi juga mengajak masyarakat, terutama generasi muda, mengenal kembali sejarah perjuangan daerahnya.

Perubahan tema tersebut justru mendapat sambutan positif dari para peserta. Bagi mereka, BEC bukan lagi sekadar panggung untuk memamerkan kemegahan kostum, tetapi juga ruang berekspresi sekaligus media menyampaikan pesan sejarah kepada ribuan penonton.

Suasana penjurian berlangsung semarak. Dominasi warna merah, hitam, emas, serta ornamen menyerupai kobaran api, senjata tradisional, hingga mahkota berukuran besar menghiasi deretan kostum peserta. Seluruh elemen dirancang untuk merepresentasikan semangat perjuangan, keberanian, dan pengorbanan para pejuang Blambangan.

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari Salsabila, siswi kelas 1 SMP. Meski usianya masih belia, ia tampil tenang saat memperagakan kostum dengan konstruksi yang cukup rumit dan berbobot. Selama sekitar satu bulan, Salsabila menjalani latihan dan berbagai persiapan agar mampu tampil maksimal di hadapan dewan juri.

Sejumlah talenta mengakui bahwa perjalanan menuju panggung BEC membutuhkan kerja keras. Mereka harus berlatih menjaga keseimbangan tubuh, menyesuaikan gerakan dengan bentuk kostum, hingga membangun stamina agar mampu tampil optimal. Namun, kesempatan menjadi bagian dari agenda pariwisata unggulan Banyuwangi itu menjadi kebanggaan tersendiri.

Bagi Ade Reno Gardan, keikutsertaan tahun ini menjadi pengalaman keduanya secara berturut-turut. Remaja berusia 16 tahun tersebut mengaku ingin terus mengembangkan kemampuan di bidang seni pertunjukan sekaligus memperluas pengalaman dalam proses penciptaan karya seni rupa.

Menurut Reno, tema Perang Bayu menghadirkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Jika biasanya peserta mengeksplorasi kekayaan budaya, kali ini mereka dituntut menerjemahkan kisah peperangan ke dalam rancangan kostum yang megah tanpa menghilangkan nilai artistiknya.

Bahkan, kostum yang dikenakannya memiliki bobot sekitar 10 hingga 15 kilogram. Meski cukup berat, hal itu tidak mengurangi semangatnya untuk tampil maksimal.

"Untuk tahun ini, ini yang kedua kalinya saya ikut. Saya ingin menambah pengalaman baru di bidang seni pertunjukan dan penciptaan karya. Apalagi untuk tema tahun ini ada perbedaan dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya mengangkat tema kebudayaan, namun pada tahun ini yang diangkat adalah peperangan atau sejarah Banyuwangi, yaitu Puputan Bayu atau Perang Bayu. Berat kostum yang saya kenakan untuk tahun ini kurang lebih sekitar 10 sampai 15 kilogram," ujar Reno.

Setelah tahapan penjurian kostum, seluruh peserta akan menjalani rangkaian persiapan akhir sebelum tampil pada puncak Banyuwangi Ethno Carnival 2026 pada 18 Juli mendatang. Melalui karya seni yang memadukan kreativitas, sejarah, dan identitas lokal, BEC kembali menjadi panggung yang tidak hanya mempromosikan pariwisata Banyuwangi, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai perjuangan Perang Bayu kepada generasi muda dan masyarakat luas.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Perang Bayu #BEC 2026 #Banyuwangi Ethno Carnival