Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sudah Dua Kali Juara, Sony Rizal Agustian Kembali ke BEC 2026

Mayang Dwi Febrianti • Selasa, 7 Juli 2026 | 20:21 WIB
Peserta BEC 2026, Sony Rizal Agustian, memamerkan kostumnya saat penilaian di lorong bambu Gesibu Blambangan, Selasa (7/7/2026). (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)
Peserta BEC 2026, Sony Rizal Agustian, memamerkan kostumnya saat penilaian di lorong bambu Gesibu Blambangan, Selasa (7/7/2026). (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Dua gelar juara berturut-turut tak membuat Sony Rizal Agustian meninggalkan panggung Banyuwangi Ethno Carnival (BEC). Pemuda 24 tahun asal Kecamatan Glagah itu justru kembali berdiri di hadapan dewan juri saat tahapan penjurian BEC 2026 resmi dimulai, Selasa (7/7/2026). Bukan demi mengejar hattrick juara, melainkan karena kecintaannya pada dunia seni yang telah membesarkannya.

Ratusan peserta mengikuti penjurian awal dengan mempresentasikan konsep, kostum, hingga tata rias yang akan ditampilkan pada Grand Carnival mendatang. Dari sekian peserta, kehadiran Sony menjadi salah satu yang paling menyita perhatian karena statusnya sebagai juara bertahan dalam dua penyelenggaraan terakhir.

Tahun ini, BEC mengangkat tema besar Perang Bayu: The Great War of Blambangan, yang mengangkat kisah perjuangan masyarakat Blambangan. Sony memilih subtema "VOC dan Antek-Antek", sebuah tema yang menampilkan sisi kaki tangan penjajah pada masa lampau. Pilihan tersebut menuntut penggambaran karakter yang kuat melalui rancangan kostum, tata rias, hingga ekspresi yang mampu merepresentasikan tokoh antagonis dalam sejarah.

Bagi sebagian peserta, gelar juara menjadi tujuan utama mengikuti BEC. Namun, Sony mengaku memiliki alasan berbeda. Setelah dua kali meraih gelar tertinggi, ia justru datang dengan motivasi yang lebih sederhana, yakni terus berkarya di bidang yang dicintainya.

"Okelah, enggak menutup kemungkinan semua orang itu pasti ingin menang. Tapi di sisi lain, BEC ini bukan tempat untuk kita mencari sebuah juara atau seorang juara. Mungkin itu hanyalah predikat. Namun, kenapa aku pengen ngikutin BEC 2026 setelah udah dapat dua juara selama 2 tahun berturut-turut? Karena memang ini passion saya di sini, di bidang seni, di bidang perkostuman, per makeup-an, dan saya suka," ujarnya.

Baginya, kemenangan hanyalah bonus. Yang jauh lebih penting adalah kesempatan untuk terus belajar, berkreasi, dan menghadirkan karya terbaik di hadapan masyarakat Banyuwangi.

Memilih subtema "VOC dan Antek-Antek" bukan perkara mudah. Selain harus memahami konteks sejarah, peserta juga dituntut menerjemahkannya ke dalam karya visual yang tetap memiliki nilai artistik khas Banyuwangi Ethno Carnival.

Karakter yang dibangun tidak hanya terlihat dari bentuk kostum, tetapi juga diperkuat melalui tata rias, gestur, hingga cara membawakan diri saat proses penjurian. Seluruh unsur tersebut menjadi bagian penting dalam penilaian dewan juri sebelum peserta tampil di puncak acara.

Kehadiran Sony memberi warna tersendiri dalam proses penjurian tahun ini. Pengalamannya menjadi motivasi bagi peserta lain, terutama mereka yang baru pertama kali mengikuti BEC.

Semangat untuk terus berkarya meski telah meraih prestasi menunjukkan bahwa BEC bukan sekadar kompetisi tahunan. Festival ini telah berkembang menjadi ruang bagi generasi muda Banyuwangi untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus merawat sejarah dan budaya daerah melalui karya seni.

Tahapan penjurian menjadi langkah awal sebelum seluruh peserta tampil dalam Grand Carnival. Antusiasme yang ditunjukkan peserta senior maupun pendatang baru memperlihatkan bahwa semangat BEC terus tumbuh dari tahun ke tahun.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#BEC 2026 #Perang Bayu The Great War of Blambangan #sony rizal agustian #Banyuwangi Ethno Carnival