Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dari Ratusan Peserta BEC 2026, Hanya Dua Peserta yang Berani Angkat Misteri Antek-Antek Blambangan

Meivira Choirotul Aqila • Selasa, 7 Juli 2026 | 20:04 WIB
Peserta BEC 2026, Arinal Firdaus memamerkan kostumnya saat penilaian di lorong bambu Gesibu Blambangan, Selasa (7/7/2026). (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)
Peserta BEC 2026, Arinal Firdaus memamerkan kostumnya saat penilaian di lorong bambu Gesibu Blambangan, Selasa (7/7/2026). (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah ratusan peserta Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 yang menampilkan kostum megah dengan beragam interpretasi budaya, hanya dua orang yang berani memilih sub-tema paling misterius, Antek-Antek Blambangan. Kelangkaan referensi mengenai tokoh tersebut justru menjadi ruang kreativitas yang menarik perhatian pada tahap penilaian BEC yang digelar Selasa (7/7/2026), menjelang puncak acara pada 18 Juli 2026.

Sub-tema Antek-Antek Blambangan menjadi salah satu yang paling menyita perhatian karena sangat minim peminat. Dari seluruh peserta yang mendaftar, hanya dua orang yang memilih mengangkat karakter tersebut ke atas panggung BEC. Kondisi itu sekaligus menunjukkan betapa besarnya tantangan dalam menerjemahkan sosok yang hingga kini masih menyisakan banyak ruang interpretasi.

Dalam khazanah cerita rakyat Banyuwangi, Antek-Antek Blambangan dikenal sebagai salah satu figur yang masih menyimpan banyak misteri. Berbeda dengan tokoh-tokoh budaya lain yang telah memiliki visual maupun karakter yang lebih dikenal masyarakat, sosok Antek-Antek belum memiliki gambaran baku. Keterbatasan referensi itulah yang mendorong para peserta untuk menggali imajinasi sekaligus tetap berpijak pada nilai budaya lokal.

Salah satu peserta yang mengambil tantangan tersebut adalah Arinal Firdaus, 21, pemuda asal Banyuwangi Kota. BEC 2026 menjadi pengalaman pertamanya mengikuti ajang karnaval budaya berskala besar. Alih-alih memilih tema yang lebih umum, ia justru terpikat pada Antek-Antek Blambangan karena dianggap menawarkan tantangan kreatif yang berbeda.

"Tertarik karena emang antek-antek sendiri itu masih belum ada yang tahu nih. Maksudnya kayak ciri khasnya kayak gimana, terus karakter aslinya kayak gimana, dan wujud aslinya kayak gimana. Soalnya kan masih semu, masih belum ada referensi yang tepat. Jadi kayak sebuah tantangan buat aku," ungkap Arinal di sela kegiatan.

Menurutnya, proses merancang kostum bukan sekadar membuat busana karnaval, melainkan menerjemahkan sosok yang belum memiliki bentuk pasti menjadi karya visual yang mampu bercerita kepada penonton. Tantangan tersebut justru memacu kreativitasnya selama proses produksi.

Persaingan pada sub-tema ini juga tidak mudah. Arinal yang berstatus pendatang baru harus berhadapan dengan Sony Rizal Agustian, 24, peserta asal Glagah yang pernah meraih nominasi juara pada penyelenggaraan BEC tahun lalu. Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya gentar.

Peserta BEC 2026, Sony Rizal Agustian, memamerkan kostumnya saat penilaian di lorong bambu Gesibu Blambangan, Selasa (7/7/2026). (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)
Peserta BEC 2026, Sony Rizal Agustian, memamerkan kostumnya saat penilaian di lorong bambu Gesibu Blambangan, Selasa (7/7/2026). (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)

"Ini first time aku ikut BEC, first time aku ikut acara kayak karnaval kayak gini. Jadi sebagai tantangan aja. Ternyata sainganku tahun kemarin pernah dapat nominasi juara. Sedangkan aku sebagai orang baru, semoga tetap bisa bersaing dengan baik," katanya.

Tidak hanya beradu konsep, kedua peserta juga menunjukkan kreativitas dalam mengolah material kostum.

Arinal mampu menekan biaya produksi hingga sekitar Rp2,5 juta dengan memanfaatkan berbagai barang bekas yang diolah kembali menjadi ornamen kostum. Pendekatan tersebut tidak hanya membuat biaya produksi lebih efisien, tetapi juga memperlihatkan bahwa karya artistik dapat lahir dari material sederhana yang memiliki nilai guna baru.

Di sisi lain, Sony menghabiskan anggaran sekitar Rp5 juta untuk menyusun kostum yang juga didominasi material hasil daur ulang. Perbedaan anggaran tidak menjadi ukuran utama, karena keduanya sama-sama mengedepankan eksplorasi visual, kekuatan konsep, serta pesan budaya yang ingin disampaikan kepada penonton.

Kehadiran dua peserta pada sub-tema Antek-Antek Blambangan sekaligus memperlihatkan bagaimana Banyuwangi Ethno Carnival tidak hanya menjadi panggung pertunjukan kostum, tetapi juga ruang untuk menghidupkan kembali cerita-cerita lokal yang mulai jarang dikenal generasi muda.

Penampilan keduanya pun diperkirakan menjadi salah satu yang paling dinanti pada puncak Banyuwangi Ethno Carnival 2026, 18 Juli mendatang. Keberanian mengeksplorasi tema yang minim referensi menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Sebaliknya, ruang interpretasi yang luas justru melahirkan gagasan-gagasan baru yang memperkaya narasi budaya Banyuwangi di panggung BEC 2026.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#BEC 2026 #antek antek blambangan #Banyuwangi Ethno Carnival