RADARBANYUWANGI.ID - Tak lagi hanya menjadi besek, kukusan, atau tampah, anyaman bambu kini menjelma menjadi busana tari Gandrung yang memukau. Inovasi itu diperkenalkan masyarakat Papring melalui peluncuran tari kreasi Gandrung Sekar Jajang di Cakanca Kopi Papring, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Minggu malam (6/7/2026).
Penampilan perdana tersebut langsung menyita perhatian ratusan pasang mata. Bukan hanya karena gerak tari dan alunan musiknya, tetapi juga kostum para penari yang hampir seluruh elemennya dibuat dari anyaman bambu. Perpaduan kriya tradisional dengan seni pertunjukan itu menghadirkan identitas visual baru bagi Tari Gandrung Banyuwangi.
Berbeda dengan kostum Gandrung klasik yang identik dengan kain beludru hitam berhias sulaman manik-manik emas, Gandrung Sekar Jajang tampil lebih organik. Busana para penarinya dirancang dengan memanfaatkan keahlian turun-temurun masyarakat Papring dalam menganyam bambu.
Hampir seluruh ornamen utama dibuat dari bilah bambu yang disayat sangat tipis sehingga menghasilkan tekstur halus, lentur, sekaligus ringan dikenakan saat menari. Mulai dari oto atau penutup dada, kelat bahu, ilat-ilat, sembong atau kain pinggang, hingga omprog sebagai mahkota khas Gandrung, seluruhnya hadir dalam balutan rajutan bambu yang dikerjakan secara presisi.
Transformasi tersebut menunjukkan bahwa anyaman bambu tidak hanya memiliki nilai fungsional sebagai peralatan rumah tangga, tetapi juga mampu berkembang menjadi medium ekspresi seni yang bernilai estetika tinggi.
Inovasi ini tidak berhenti pada tampilan visual. Gandrung Sekar Jajang juga membawa pesan filosofis yang kuat.
Nama "Jajang" diambil dari bahasa Osing yang berarti bambu. Dalam karya ini, bambu dimaknai sebagai simbol keteguhan hidup. Seperti bambu yang kokoh berakar namun lentur diterpa angin, manusia diharapkan tetap teguh memegang prinsip sekaligus mampu beradaptasi menghadapi perubahan zaman.
Filosofi tersebut diwujudkan melalui rajutan bambu yang membalut tubuh para penari. Setiap detail kostum menjadi representasi keseimbangan antara kekuatan, kelenturan, dan kemampuan bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Lahirnya Gandrung Sekar Jajang berawal dari semangat masyarakat Papring untuk membawa kerajinan anyaman bambu melampaui fungsi konvensional. Selama puluhan tahun, keterampilan menganyam di kampung tersebut dikenal melalui produk rumah tangga seperti besek, kukusan, dan tampah.
Melalui kolaborasi kreativitas para perajin dan pelaku seni, tradisi tersebut kini bertransformasi menjadi bagian dari seni pertunjukan. Perpaduan kriya anyaman dengan Tari Gandrung menghadirkan inovasi tanpa menghilangkan karakter dan pakem dasar seni tradisi Banyuwangi.
Langkah ini sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Anyaman bambu tidak lagi dipandang sebatas produk kerajinan, melainkan juga memiliki nilai tambah sebagai elemen artistik yang mampu memperkuat daya tarik seni pertunjukan dan pariwisata Banyuwangi.
Peluncuran Gandrung Sekar Jajang mendapat respons positif dari masyarakat yang hadir. Salah seorang penonton, Dania, mengaku terkesan dengan penampilan tari kreasi tersebut.
"Saya merasa sangat bangga saat melihat Tari Gandrung Sekar Jajang. Perpaduan alunan musiknya dan gerakan yang sangat menarik. Apalagi kostumnya yang berbeda dengan tari Gandrung biasanya bikin penampilannya jadi luar biasa," ujarnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi