Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bertahan Sejak 1639, Seblang Bakungan 2026 Kembali Hidupkan Ritual Sakral Masyarakat Osing

Anisatul Septi Ramadhani • Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:41 WIB
Ritual Seblang Bakungan Banyuwangi kembali digelar. (banyuwangitourism.com)
Ritual Seblang Bakungan Banyuwangi kembali digelar. (banyuwangitourism.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Cahaya ratusan oncor memecah gelap malam di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Minggu (31/5/2026). Di tengah alunan gending sakral yang menggema, seorang perempuan paruh baya menari dengan mata terpejam dalam kondisi trance. Pemandangan yang hanya dapat dijumpai setahun sekali itu menjadi penanda puncak ritual adat Seblang Bakungan, warisan budaya masyarakat Osing yang telah bertahan sejak 1639.

Bukan pertunjukan seni biasa, Seblang merupakan ritual adat yang sarat makna spiritual. Tradisi ini dipercaya sebagai bentuk permohonan keselamatan, ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, penghormatan kepada leluhur, sekaligus doa agar masyarakat senantiasa diberi kesejahteraan, hasil panen melimpah, dan dijauhkan dari berbagai bencana.

Selama tiga hari, mulai 29 hingga 31 Mei 2026, kawasan Balai Adat Bakungan dipadati masyarakat dan wisatawan yang ingin menyaksikan salah satu ritual tertua di Banyuwangi. Selain prosesi adat, panitia menghadirkan bazar UMKM, pameran produk kreatif, kuliner khas Banyuwangi, hingga pertunjukan seni tradisional yang melibatkan warga setempat.

Rangkaian Seblang diawali sejak petang. Warga melaksanakan salat Magrib dan salat hajat berjamaah di masjid setempat sebelum berkumpul dalam kenduri massal di sepanjang jalan kampung.

Suasana kebersamaan terasa begitu kuat. Ratusan warga duduk berjejer menikmati hidangan yang disiapkan secara gotong royong. Tumpeng dan pecel pithik, kuliner khas masyarakat Osing, menjadi sajian utama yang dinikmati bersama sebagai simbol rasa syukur dan persaudaraan.

Memasuki malam, ritual berlanjut dengan prosesi ider bumi. Warga membawa oncor atau obor mengelilingi kampung sebagai simbol permohonan keselamatan bagi seluruh wilayah Bakungan.

Pendar cahaya obor di tengah malam menciptakan suasana yang khidmat sekaligus magis. Prosesi ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Seblang selama ratusan tahun dan terus dipertahankan oleh masyarakat secara turun-temurun.

Puncak ritual berlangsung ketika Isni, yang berusia 54 tahun, memasuki arena adat. Perempuan yang kembali dipercaya menjadi penari Seblang untuk ketiga kalinya tersebut menjalankan ritual sesuai ketentuan adat yang diwariskan oleh para leluhur.

Dengan mata terpejam, Isni menari mengikuti irama gending tradisional yang dimainkan langsung para pengrawit. Lagu-lagu sakral seperti Kodok Ngorek dan Seblang Lukinto mengiringi setiap gerakan yang berlangsung dalam suasana hening dan penuh penghormatan.

Bagi masyarakat Osing, kondisi trance yang dialami penari bukan sekadar fenomena budaya. Mereka meyakini penari sedang menjadi perantara hadirnya roh para leluhur yang memberikan restu bagi jalannya ritual serta keselamatan masyarakat.

Seluruh prosesi dipimpin pemangku adat dan tokoh masyarakat yang memastikan setiap tahapan berjalan sesuai pakem yang telah diwariskan selama hampir empat abad.

Keunikan Seblang Bakungan kembali menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Ratusan pengunjung memadati area ritual untuk menyaksikan langsung prosesi yang hanya dapat ditemui di wilayah masyarakat Osing.

Gergo Zalatnai, wisatawan asal Hungaria, mengaku terkesan setelah melihat langsung ritual yang sebelumnya hanya diketahuinya melalui internet.

"Unik. Penarinya paruh baya, dan sedang kehilangan kesadaran. Sangat tidak lazim, tapi justru ini yang membuat menarik. Saya belum pernah melihat seperti ini di tempat lain," ujarnya, pada RadarBanyuwangi.id, saat acara berlangsung.

Hal senada disampaikan Riski, wisatawan asal Yogyakarta yang sengaja datang ke Banyuwangi.

"Saya sangat terkesan nonton Seblang, terasa magisnya. Selain itu saya juga kagum dengan warga di sini yang gotong royong terus menggelar acara ini setiap tahunnya," katanya.

Tidak sedikit pengunjung mengabadikan momen tersebut melalui kamera maupun telepon genggam. Meski demikian, panitia mengimbau seluruh wisatawan tetap menghormati aturan adat karena Seblang merupakan ritual yang bersifat sakral, bukan sekadar tontonan.

Seblang merupakan salah satu tradisi tertua yang masih bertahan di Banyuwangi. Hingga kini ritual tersebut hanya dilaksanakan di dua wilayah masyarakat Osing, yakni Kelurahan Bakungan dan Desa Olehsari.

Meski berasal dari akar budaya yang sama, keduanya memiliki karakteristik berbeda. Seblang Bakungan diselenggarakan setiap bulan Dzulhijah dengan penari perempuan paruh baya yang dipilih melalui mekanisme adat. Sementara Seblang Olehsari digelar setelah Idulfitri dan dibawakan oleh penari perempuan yang masih berusia muda.

Perbedaan tersebut menjadi kekayaan budaya masyarakat Osing yang terus dijaga sebagai bagian dari identitas Banyuwangi.

Seblang Bakungan tidak hanya menghadirkan nilai spiritual dan budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Selama penyelenggaraan festival, bazar UMKM, stan kuliner tradisional, kerajinan batik, hingga berbagai produk ekonomi kreatif ramai dikunjungi wisatawan. Momentum tersebut dimanfaatkan pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk unggulan Banyuwangi.

Keberadaan Seblang pun menjadi salah satu agenda penting dalam kalender pariwisata Banyuwangi yang berkontribusi terhadap peningkatan kunjungan wisata budaya.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengapresiasi konsistensi masyarakat Bakungan yang terus menjaga tradisi leluhur sejak 1639.

"Tradisi ini bukan sekadar upaya menjaga warisan leluhur, tapi juga memastikan budaya lokal tetap eksis di tengah modernisasi. Ini juga menjadi ajang memperkuat semangat gotong royong dan persaudaraan warga," ujarnya.

Nilai gotong royong memang menjadi fondasi utama pelaksanaan Seblang. Hampir seluruh warga terlibat dalam berbagai persiapan, mulai dari menyiapkan perlengkapan ritual, memasak hidangan kenduri, mengatur jalannya acara, hingga menyambut wisatawan yang datang.

Di tengah derasnya modernisasi, Seblang Bakungan menunjukkan bahwa tradisi tidak harus tersisih oleh perkembangan zaman. Justru sebaliknya, ritual yang telah bertahan hampir 387 tahun itu berkembang menjadi daya tarik wisata budaya tanpa kehilangan nilai sakral yang diwariskan para leluhur.

Tidak hanya menjadi agenda tahunan, Seblang Bakungan menjadi bukti bahwa identitas budaya dapat terus hidup ketika dijaga bersama. Warisan masyarakat Osing ini menjadi kebanggaan Banyuwangi, sekaligus memperkaya khazanah budaya Indonesia yang semakin dikenal oleh wisatawan nasional maupun mancanegara. (*)

*) Penulis adalah siswa jurusan BCF 1 SMKN 1 Banyuwangi

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Tradisi Osing Banyuwangi #Seblang Bakungan 2026 #wisata budaya