Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ritual Kebo-keboan Banyuwangi Kembali Memukau, Turis AS Dibuat Takjub

Ali Sodiqin • Senin, 29 Juni 2026 | 14:30 WIB
Kebo-keboan Alasmalang sedot ribuan wisatawan, Warisan abad ke-18 ini terus hidup di Banyuwangi. (banyuwangikab.go.id)
Kebo-keboan Alasmalang sedot ribuan wisatawan, Warisan abad ke-18 ini terus hidup di Banyuwangi. (banyuwangikab.go.id)

RADARBANYUWANGI.ID – Lautan manusia memenuhi Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Minggu (28/6/2026), saat ritual adat Kebo-keboan kembali digelar. Tradisi yang telah diwariskan sejak abad ke-18 itu bukan sekadar atraksi budaya, melainkan ungkapan rasa syukur masyarakat agraris atas kesuburan tanah serta harapan akan panen yang melimpah.

Sejak pagi, ribuan warga lokal maupun wisatawan memadati kawasan desa untuk menyaksikan rangkaian prosesi yang sarat makna. Ritual diawali dengan kenduri desa melalui makan bersama menggunakan hidangan tumpeng dan lauk khas Banyuwangi, Pecel Pithik, sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Prosesi kemudian berlanjut dengan ider bumi, yakni arak-arakan puluhan "kerbau" yang mengelilingi desa menuju empat penjuru mata angin. Sosok kerbau tersebut bukanlah hewan ternak, melainkan warga yang berdandan menyerupai kerbau dengan tubuh dilumuri jelaga hingga hitam pekat, mengenakan tanduk di kepala, serta kerincing di tangan dan kaki.

Sepanjang perjalanan, para "kerbau" memperagakan aktivitas layaknya kerbau yang sedang membajak sawah. Mereka berjalan merangkak, berguling di jalan, berkubang di lumpur, hingga sesekali bertingkah liar yang menjadi daya tarik tersendiri bagi ribuan penonton.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, Kebo-keboan merupakan identitas budaya masyarakat agraris Banyuwangi yang terus terjaga secara turun-temurun.

"Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun. Warga melestarikannya dengan melaksanakannya secara turun-temurun. Saya sampaikan apresiasi kepada sesepuh adat, budayawan, pemuda Alasmalang, dan semua pihak yang menjaga nyala tradisi tetap hidup," ujar Ipuk.

Menurutnya, Kebo-keboan tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga mengandung nilai-nilai kehidupan yang relevan hingga saat ini.

"Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi budaya yang membangun karakter. Di dalamnya terdapat nilai kerja keras, gotong royong, disiplin, dan kebersamaan masyarakat agraris. Nilai-nilai itu sejalan dengan semangat Banyuwangi Tandang Bareng, yakni bekerja bersama dan tumbuh bersama," katanya.

Keunikan ritual tersebut juga berhasil memikat wisatawan mancanegara. Salah satunya Tara, wisatawan asal Amerika Serikat, yang mengaku takjub menyaksikan prosesi Kebo-keboan secara langsung setelah sebelumnya berkunjung ke Kawah Ijen.

"Ini sangat unik. Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Menakjubkan," ujarnya.

Tak hanya menjadi magnet wisata budaya, Kebo-keboan juga membawa berkah ekonomi bagi masyarakat sekitar. Ratusan pedagang memanfaatkan ramainya pengunjung untuk menjajakan makanan, minuman, hingga aneka suvenir.

Siti, pemilik warung di sekitar lokasi acara, mengaku omzet penjualannya meningkat signifikan setiap tradisi Kebo-keboan digelar.

"Mulai minuman, camilan, semuanya laris. Alhamdulillah, pengunjung ramai sekali," katanya.

Tradisi Kebo-keboan sendiri diyakini telah berlangsung sejak abad ke-18 Masehi. Ritual ini berawal dari kisah Buyut Karti yang memperoleh wangsit untuk menyelamatkan desa dari pagebluk melalui upacara bersih desa dengan menjelma menjadi seekor kerbau. Sejak saat itu, Kebo-keboan terus dilaksanakan sebagai simbol penghormatan terhadap alam, rasa syukur kepada Tuhan, sekaligus doa agar masyarakat dijauhkan dari bencana dan diberi hasil panen yang melimpah.

Kini, selain menjadi warisan budaya yang dijaga masyarakat Alasmalang, ritual Kebo-keboan juga berkembang menjadi salah satu agenda wisata budaya unggulan Banyuwangi yang setiap tahun mampu menarik ribuan pengunjung sekaligus menggerakkan roda perekonomian warga desa. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Alasmalang #kebo-keboan #ritual adat #budaya osing #wisata banyuwangi