Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bulan Suro Datang, Situs Setinggil Muncar Banyuwangi Tetap Jadi Magnet Ziarah dan Ritual

Zamrozi Wahyu • Jumat, 26 Juni 2026 | 10:00 WIB
Juru Situs Setinggil, Asmaul Husna, sedang mengecek kondisi situs yang berada di Dusun Muncar, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kamis (25/6). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
Juru Situs Setinggil, Asmaul Husna, sedang mengecek kondisi situs yang berada di Dusun Muncar, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kamis (25/6). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Memasuki bulan Suro, Situs Setinggil di Dusun Muncar, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, kembali menjadi tujuan warga yang ingin berziarah maupun menjalankan ritual tradisi. Meski demikian, jumlah pengunjung pada awal pekan kedua Suro tahun ini terpantau belum seramai tahun-tahun sebelumnya.

Situs bersejarah yang berada di kawasan pesisir timur Banyuwangi itu selama ratusan tahun dikenal sebagai salah satu peninggalan penting era Kadipaten Blambangan. Selain menyimpan jejak sejarah kerajaan di ujung timur Pulau Jawa, Setinggil juga lekat dengan kisah Prabu Minak Jinggo yang hingga kini masih dipercaya sebagian masyarakat.

Di tengah suasana Suro yang identik dengan laku spiritual dan tradisi budaya Jawa, sejumlah warga masih terlihat datang untuk berdoa, berziarah, maupun menjalankan ritual tertentu di kawasan situs tersebut.

Peninggalan Strategis Era Blambangan

Juru kunci Situs Setinggil, Asmaul Husna, menjelaskan bahwa nama Setinggil berasal dari dua kata, yakni "siti" yang berarti tanah dan "inggil" yang berarti tinggi.

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, lokasi tersebut merupakan peninggalan Kadipaten Blambangan atau yang dahulu dikenal sebagai Brang Wetan.

"Kata Setinggil berasal dari Siti dan Inggil. Siti berarti tanah, sedangkan inggil berarti tinggi," ujarnya, Kamis (25/6).

Ia menjelaskan, pada abad ke-14, wilayah tersebut berada di bawah kepemimpinan Prabu Minak Jinggo yang dikenal sebagai sosok pemimpin pemberani dan memiliki kesaktian tinggi.

Dalam cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, Minak Jinggo disebut memiliki dua pusaka legendaris, yakni Godo Wesi Kuning dan Pedang Sukowono.

Tempat Memantau Pergerakan Musuh

Selain memiliki nilai historis, Situs Setinggil juga diyakini memiliki fungsi strategis pada masa lampau.

Lokasinya yang berada di kawasan pesisir menjadikannya titik ideal untuk memantau aktivitas pelayaran di Selat Bali.

Dari tempat yang lebih tinggi tersebut, para penjaga kerajaan konon dapat mengawasi kapal dagang maupun pergerakan musuh yang datang dari arah laut.

"Setinggil saat itu berfungsi sebagai tempat pengintai atau pendeteksi gerakan musuh dan perdagangan melalui perairan Selat Bali," jelas Asmaul.

Di kawasan situs tersebut juga terdapat sebuah batu yang dipercaya menyimpan jejak sejarah penting.

Menurut cerita masyarakat setempat, batu tersebut memiliki bekas telapak kaki yang diyakini sebagai jejak Prabu Minak Jinggo.

"Pada situs ini terdapat batu yang sampai sekarang masih ada tanda atau bekas telapak kaki Prabu Minak Jinggo di atasnya," katanya.

Diyakini Menjadi Lokasi Makam Minak Jinggo

Kepercayaan masyarakat terhadap Situs Setinggil tidak hanya berkaitan dengan fungsi sejarahnya sebagai pos pengawasan.

Sebagian kalangan spiritual meyakini bahwa di bawah batu yang berada di kawasan situs tersebut terdapat makam tubuh Prabu Minak Jinggo.

Meski belum ada bukti arkeologis yang memastikan keyakinan tersebut, cerita itu terus hidup dan menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat Banyuwangi.

Kepercayaan itulah yang membuat Setinggil tetap menjadi salah satu destinasi spiritual yang banyak dikunjungi hingga sekarang.

Ramai Saat Suro, Galungan, dan Kuningan

Menurut Asmaul, lonjakan pengunjung biasanya terjadi pada momen-momen tertentu yang dianggap sakral.

Selain bulan Suro, Situs Setinggil juga ramai didatangi umat Hindu saat perayaan Galungan dan Kuningan.

"Banyak umat Hindu yang datang saat Galungan dan Kuningan untuk melakukan ritual," tuturnya.

Sementara warga sekitar umumnya berkunjung ketika akan menggelar hajatan penting seperti pernikahan, syukuran, atau keperluan adat lainnya.

Namun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jumlah pengunjung pada Suro kali ini masih relatif lebih sedikit.

Wisata Sejarah dan Spiritual yang Terus Dijaga

Asmaul mengungkapkan, pada tahun-tahun sebelumnya banyak rombongan dari luar Banyuwangi yang datang menggunakan bus maupun kendaraan travel.

Bahkan sebagian pengunjung memilih menginap untuk menjalankan ritual tertentu.

"Pada Suro tahun ini masih belum banyak yang datang. Tapi kalau tahun sebelumnya banyak yang berkunjung dari luar Banyuwangi, bahkan beberapa dari mereka ada yang menginap," ujarnya.

Ia berharap keberadaan Situs Setinggil terus dijaga sebagai bagian dari warisan sejarah Banyuwangi.

Selain menyimpan nilai budaya dan sejarah Kadipaten Blambangan, situs tersebut juga menjadi saksi perjalanan panjang kawasan Muncar yang sejak dahulu dikenal sebagai salah satu pintu perdagangan penting di pesisir timur Pulau Jawa.

Di tengah perkembangan zaman, Situs Setinggil tetap berdiri sebagai ruang pertemuan antara sejarah, tradisi, dan keyakinan masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Situs Setinggil #Prabu Minak Jinggo #Desa Tembokrejo #Kadipaten Blambangan #bulan Suro