Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sambut Bulan Suro, Warga Sraten Banyuwangi Kirab 1.000 Tumpeng Hasil Bumi

Ali Sodiqin • Kamis, 18 Juni 2026 | 13:05 WIB
Meriah dan sakral, Tumpeng Takir Sewu Banyuwangi warisan leluhur yang tetap lestari. (banyuwangitourism.com)
Meriah dan sakral, Tumpeng Takir Sewu Banyuwangi warisan leluhur yang tetap lestari. (banyuwangitourism.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Ribuan warga memadati jalan-jalan di Lingkungan Kedawung, Dusun Sukodadi, Desa Sraten, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, Selasa (16/6/2026). Mereka datang untuk menyaksikan sekaligus mengikuti tradisi Tumpeng Takir Sewu, ritual turun-temurun yang selalu digelar saat memasuki bulan Suro atau tahun baru Jawa.

Suasana desa sejak sore sudah tampak semarak. Warga dari berbagai usia berkumpul di sepanjang jalur kirab. Mereka menyambut datangnya seribu tumpeng yang diarak keliling dusun sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki sekaligus doa agar desa dijauhkan dari segala marabahaya.

Tradisi Tumpeng Takir Sewu menjadi salah satu ritual adat yang paling dinanti masyarakat Banyuwangi setiap memasuki bulan Suro. Tidak hanya sarat nilai spiritual, tradisi ini juga menjadi perekat kebersamaan warga yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam kirab budaya tersebut, tercatat ada sekitar 1.000 tumpeng yang berasal dari hasil pertanian warga Desa Sraten. Aneka tumpeng itu diarak bersama-sama mengelilingi dusun sebelum akhirnya dikumpulkan untuk didoakan.

Nama Tumpeng Takir Sewu sendiri berasal dari dua kata. "Takir" merupakan wadah makanan tradisional yang dibuat dari daun pisang dan disematkan lidi, sedangkan "Sewu" berarti seribu. Istilah itu menggambarkan banyaknya tumpeng yang dihadirkan dalam ritual tahunan tersebut.

Beragam jenis tumpeng dengan filosofi mendalam menghiasi kirab budaya itu. Mulai tumpeng agung, tumpeng ingkung ayam, hingga tumpeng yang disusun dari aneka hasil bumi seperti buah-buahan dan sayur-mayur segar.

Yang paling menyedot perhatian adalah beberapa tumpeng hasil bumi berukuran raksasa. Tingginya mencapai sekitar dua meter. Tumpeng tersebut menjadi pusat perhatian warga sekaligus objek favorit untuk berfoto.

Ketua Lembaga Adat Desa Sraten, Hono Siswantoro, menjelaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ritual tersebut telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

"Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Sraten yang mayoritas petani atas limpahan rezeki yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa," ujarnya.

Menurut Hono, selain sebagai bentuk rasa syukur atas kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah, Tumpeng Takir Sewu juga menjadi sarana tolak bala. Melalui doa bersama, warga berharap dijauhkan dari bencana, penyakit, maupun berbagai kesulitan selama setahun ke depan.

Nilai gotong royong begitu terasa dalam tradisi tersebut. Sejak pagi hari, warga telah berbagi tugas. Kaum ibu menyiapkan aneka hidangan dan tumpeng di dapur umum, sementara kaum pria menghias tumpeng raksasa serta menyiapkan tandu untuk kirab.

Kebersamaan itulah yang membuat tradisi Tumpeng Takir Sewu tetap bertahan hingga kini. Bagi masyarakat Sraten, ritual ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga simbol persatuan dan kekompakan warga.

Setelah prosesi kirab selesai, seluruh tumpeng dikumpulkan di area utama untuk didoakan bersama oleh para sesepuh adat. Suasana hening dan khidmat menyelimuti lokasi saat doa-doa dipanjatkan.

Usai doa bersama, ribuan tumpeng tersebut kemudian dibagikan secara merata kepada masyarakat menggunakan takir berbahan daun pisang. Warga pun menikmati hidangan bersama dalam suasana penuh keakraban.

Tradisi Tumpeng Takir Sewu menjadi bukti bahwa budaya lokal Banyuwangi tetap hidup dan lestari di tengah perkembangan zaman. Tidak hanya menjadi identitas masyarakat Desa Sraten, ritual ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkaya pesona Banyuwangi di mata wisatawan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#tradisi Banyuwangi #Desa Sraten #Tumpeng Takir Sewu #bulan Suro #wisata budaya