RADARBANYUWANGI.ID – Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 belum dimulai. Namun, denyut ekonominya sudah terasa di berbagai sudut Banyuwangi. Para desainer kostum mulai kebanjiran pesanan, pengrajin ukir disibukkan dengan pembuatan ornamen, sementara geliat ekonomi kreatif lokal semakin menggeliat menjelang perhelatan budaya terbesar di Bumi Blambangan itu.
Tahun ini, BEC yang mengusung tema "Perang Bayu: The Great War of Blambangan" dijadwalkan berlangsung pada 17 hingga 19 Juli 2026. Tema kepahlawanan tersebut tak hanya memantik antusiasme masyarakat, tetapi juga menjadi berkah bagi para pelaku seni dan usaha kreatif di Banyuwangi.
Salah satunya dirasakan desainer kostum ternama Banyuwangi, Bubu Ramadhan. Di galeri kerjanya, ia kini tengah menyelesaikan 11 kostum sekaligus. Setiap kostum memiliki detail rumit dan membutuhkan proses pengerjaan yang tidak singkat.
"BEC merupakan wadah kreativitas bagi para seniman untuk menuangkan kreasinya karena setiap tahun tema yang diusung selalu berbeda. Di samping menjadi kebanggaan seni, momentum ini jelas menjadi ladang penghasilan yang sangat menjanjikan bagi kami," ujar Bubu.
Kesibukan serupa juga terlihat di studio milik Rony Sanjaya, desainer asal Desa Aliyan. Ia dipercaya merancang empat kostum megah untuk tampil di BEC 2026. Sedangkan Heru Saputra, desainer asal Desa Bomo, saat ini fokus menyelesaikan tiga kostum.
Nilai ekonomi yang berputar dari sektor ini pun tidak kecil. Sebab, harga satu kostum BEC rata-rata berada di kisaran Rp 10 juta hingga Rp 20 juta, tergantung tingkat kesulitan dan material yang digunakan.
Bagi Rony, BEC bukan sekadar agenda tahunan, tetapi juga panggung pembuktian bagi para kreator lokal. Ada kepuasan tersendiri ketika karya yang dirancang berbulan-bulan akhirnya dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan.
"BEC adalah waktu bagi seniman untuk 'pamer'. Di sinilah tempat kami menunjukkan kualitas, detail, dan orisinalitas karya terbaik Banyuwangi kepada dunia," tuturnya.
Tak banyak yang mengetahui bahwa di balik megahnya kostum BEC, terdapat rantai ekonomi yang melibatkan banyak pihak. Para desainer tidak bekerja sendiri. Mereka menggandeng pengrajin lokal untuk membuat berbagai ornamen seperti mahkota, sayap, hingga aksesori dengan detail ukiran yang rumit.
Salah satu pengrajin yang merasakan dampaknya adalah Sutik, warga Kampung Melayu. Sejak memasuki masa persiapan BEC, ia rutin menerima pesanan pembuatan ornamen kostum.
"Di sini kami biasa mengerjakan sayap dan mahkota kostum. Selain menjadi tambahan penghasilan, lewat pembuatan kostum ini saya juga merasa bangga karena bisa ikut berkontribusi untuk Banyuwangi," ungkapnya.
Keterlibatan para pengrajin ini menunjukkan bahwa BEC bukan hanya pertunjukan budaya semata. Ajang tersebut juga menciptakan efek domino ekonomi yang menghidupkan berbagai sektor, mulai dari seni rupa, kerajinan tangan, perdagangan bahan baku, hingga usaha mikro yang mendukung proses produksi.
Dengan tema "Perang Bayu: The Great War of Blambangan", BEC 2026 dipastikan menghadirkan kostum-kostum spektakuler yang sarat nilai sejarah dan semangat kepahlawanan. Perpaduan kreativitas desainer dan keterampilan pengrajin lokal akan menjadi sajian utama yang memukau ribuan penonton.
Lebih dari sekadar karnaval, BEC kembali membuktikan diri sebagai mesin penggerak ekonomi kreatif Banyuwangi. Dari ruang-ruang kerja para seniman hingga tangan terampil para pengrajin, denyut BEC telah menghidupkan harapan dan kesejahteraan, bahkan sebelum panggung utamanya resmi dibuka. (*)
Editor : Ali Sodiqin