RADARBANYUWANGI.ID – Deru ombak yang memecah bibir Pantai Lampon berpadu dengan asap kemenyan dan lantunan doa yang menggema dari pesisir. Selasa (16/6), ratusan nelayan dan warga memadati Pantai Lampon, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, untuk mengikuti ritual Petik Laut, tradisi turun-temurun yang menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan akan keselamatan dan keberkahan hasil tangkapan laut.
Sejak pagi, kawasan pantai di ujung selatan Banyuwangi itu berubah menjadi lautan manusia. Para nelayan mengenakan pakaian adat dan berkumpul bersama tokoh masyarakat serta pemangku adat untuk mengikuti rangkaian ritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi masyarakat pesisir Lampon, Petik Laut bukan sekadar agenda tahunan atau perayaan budaya biasa. Ritual ini merupakan bentuk penghormatan kepada alam sekaligus ungkapan syukur kepada Sang Pencipta atas hasil laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga.
Prosesi sakral dimulai dengan doa bersama yang dipimpin tokoh adat. Setelah itu, sebuah gethek atau perahu bambu kecil yang telah dihias dan diisi berbagai sesaji, mulai dari hasil bumi hingga kepala hewan kurban, diarak menuju bibir pantai.
“Kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin yang mendarah daging bagi kami para nelayan Pantai Lampon,” ujar Ketua Panitia sekaligus tokoh nelayan setempat, Suharsono.
Larung Sesaji ke Tengah Laut
Suasana khidmat semakin terasa ketika gethek sesaji perlahan didorong menuju perairan. Belasan perahu nelayan yang telah bersiaga di tengah laut kemudian mendekat untuk mengawal prosesi pelarungan.
Diiringi doa-doa yang terus dipanjatkan, gethek tersebut dibawa menuju laut lepas sebelum akhirnya dihanyutkan sebagai simbol persembahan dan harapan akan keselamatan selama melaut.
“Setelah rapalan doa, gethek sesaji itu dibawa jauh ke tengah laut lepas untuk dihanyutkan,” kata Suharsono.
Menurutnya, ritual Petik Laut memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat nelayan. Selain sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang diperoleh dari laut, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat persaudaraan, gotong royong, dan solidaritas antarwarga pesisir.
“Tahun ini memang digelar cukup meriah karena keinginan para nelayan sendiri,” tambahnya.
Potensi Besar Wisata Budaya
Kemeriahan Petik Laut tahun ini juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Tradisi yang masih terjaga keasliannya tersebut dinilai memiliki daya tarik kuat sebagai destinasi wisata budaya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Hartono, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi konsistensi masyarakat Lampon dalam menjaga warisan budaya leluhur.
Menurutnya, tradisi seperti Petik Laut tidak hanya memiliki nilai spiritual dan budaya yang tinggi, tetapi juga berpotensi menjadi magnet kunjungan wisatawan.
“Kami sangat mengapresiasi konsistensi nelayan dalam menjaga tradisi ini. Kegiatan positif seperti Petik Laut tidak hanya merawat budaya, tetapi juga memiliki nilai jual pariwisata yang tinggi,” ujarnya.
Hartono berharap tradisi tersebut dapat terus dikembangkan tanpa menghilangkan nilai-nilai sakral yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, Petik Laut tidak hanya menjadi ruang pelestarian budaya, tetapi juga mampu menggerakkan sektor ekonomi masyarakat melalui kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Kami berharap event ini bisa merangsang peningkatan angka kunjungan wisatawan ke Pantai Lampon,” katanya.
Warisan Leluhur yang Tetap Hidup
Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, Petik Laut menjadi bukti bahwa tradisi leluhur masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat Banyuwangi.
Ratusan warga yang hadir dalam ritual tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara masyarakat pesisir dan laut bukan sekadar hubungan ekonomi, tetapi juga ikatan budaya dan spiritual yang terus dijaga lintas generasi.
Melalui Petik Laut, warga Pantai Lampon tidak hanya mengirimkan doa ke tengah samudra, tetapi juga merawat identitas budaya yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka selama puluhan tahun. (sas)
Editor : Ali Sodiqin